Oleh: Adibatus Shohifah(aktivis dakwah remaja)
Kata merdeka disematkan dalam hal belajar yang artinya memiliki kebebasan dalam ranah ini, namun kebebasan yang tampak dipandangan mata hanyalah tipuan belaka, makna bebas itu hanya terucap di mulut sahaja namun tetap di kekang dan di kendalikan dalam penerapan nya.
Bak masa depan suram, para pelajar yang ketahuan ikut demo tolak UU Cipta Kerja bakal dicatat dalam Surat Keterangan Catatan Kepolisian atau SCKC, hal ini jelas akan merugikan masa depan pelajar ketika ingin melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi atau Akan sulit ketika mencari pekerjaan. (Tribunnewsmaker.com ,Rabu 14/10/2020).
Banyak pelajar yang ikut aksi menolak UU cipta kerja, menyikapi hal itu sejumlah besar Dinas pendidikan mengancam akan memberikan sanksi. Sanksi yang kabarnya akan diterima adalah Drop out(DO), mutasi ke pendidikan paket C, hingga mutasi ke sekolah pinggiran kota. Pikiranrakyat cirebon.com (15/10/2020).
Begitulah potret nyata kebebasan dalam sistem kapitalis, makna bebas dalam belajar hanya di arahkan kepada pemikiran yang sejalan dan tidak menghalangi kepentingan dari penguasa sistem kufur, yang berani menyuarakan aspirasi menentang maka akan dijerat dalam berbagai perangkap.
Hakikat merdeka belajar dalam kepemimpinan rezim dzolim ialah bebas mempelajari dan menyerap ilmu pengetahuan barat, tidak boleh mengkritik pemimpin yang sewenang-wenang sedangkan potensi kritis para pelajar untuk mengoreski pemimpin di bungkam dengan berbagai tindakan, yang kritis dan berani menyampaikan kebenaran akan diringkus dengan jeratan hukum dan di labelisasi sebagai pemberontak.
Se akan DPR dari negri sendiri terasa seperti seorang mafia, begitu kejam yang hanya berpihak dan mau mendengar perkataan dari tuan nya yaitu sistem sekuler kapitalis, kehadiran mereka bak duri dalam daging yang menyulitkan rakyat, bukan lagi sebagai wadah untuk mendengar dan menyampaikan aspirasi dari rakyat.
Negara sendiri, namun terasa seperti ibu tiri yang kejam bagi rakyat, padahal salah satu pilar pokok dari negara Demokrasi yang sangat penting adalah memberi jaminan terhadap kebebasan menyatakan pendapat dan DPR pun telah kehilangan mandat utama nya sebagai wakil rakyat yang siap menjadi corong dan wadah untuk mendengar jeritan rakyat.
Kita dapat melihat kenyataan pilu bagaimana kebengisan penguasa memperlakukan para pelajar yang kritis, diperlakukan bagai penjahat buronan, mereka ditangkap, dipukuli, terluka, di tembak dengan gas air mata. Seakan para pendemo adalah musuh, padahal mereka hanya ingin suara dan rintihan rakyat tersampaikan, didengar oleh penguasa dan dapat menjadi pertimbangan.
Begitulah kenyataan yang bercokol di negri sekarang, para pelajar yang mempunyai kemampuan dan memiliki pemikiran yang menyeluruh terhadap problem umat di buat sengsara dan menderita, para pelajar di racuni pemikirannya agar tidk dapat membawa perubahan yang nyata, mereka disibukan dengan tugas-tugas dan kegiatan yang bersifat keduniaan tanpa kontrol agama di dalamnya.
Pemuda yang bertujuan membawa perubahan dalam hal berpolitik untuk memperjuangkan kebenaran maka potensi mereka akan ditumpulkan dan dimandulkan, mereka tidak diberikan kebebasan dalam menyalurkan dan mengasah potensi diri, justru yang berani bersuara akan di luluh lantakkan dalam berbagai jeratan hukum dibelenggu dalam segenap aturan, karna mereka berkuasa atas hukum dan bebas mempermainkan aturan.
kepemimpinan sekuler kapitalis menjauhkan peranan dan kontrol agama di dalam pendidikan,
pelajaran disekolah mengenai jejak islam berusaha mereka hilangkan dan di ganti dengan pelajaran yang sejalan dan tidak mengusik kepentingan mereka, anak muda dibuat hanyut terlena dalam kepentingan pemimpin. Paham mereka saling dibenturkan, mereka dijadikan boneka mainan yang di gerakkan dan tunduk pada aturan tuan nya.
Pelajaran yang wajib di ketahui umat islam di pangkas dan di edit bahkan berusaha di ganti, seperti pelajaran mengenai kepemimpinan dalam islam yang disebut Khilafah yang sekarang hanya di jadikan sebagai pelajaran sejarah saja dan terkesan bukan suatu keharusan untuk memperjuangkan nya, mereka juga memberi gambaran buruk terhadap pelajaran tentang jihad.
Sistem sekuler kapitalis dan komplotan nya berusaha memisahkan kontrol agama dalam diri pelajar, para pelajar hanya disibukkan dengan tugas yang banyak tanpa ada tujuan yang mulia sehingga fokus mereka terhadap keadaan negara terabaikan, membuat pelajar merasa masa bodoh dengan problem umat.
Hal semacam ini sangat bertolak belakang dengan kepengurusan pendidikan di dalam islam dalam pengelolaan sistem yang disebut khilafah, dimana para pelajar akan di didik dengan nilai-nilai rabbani, potensi dan kemampuan para pemuda akan di tempa dan di asah sedemikian rupa dalam binaan dan kontrol dari aturan yang bersumber dari Allah swt.G berjalan di atas hukum allah dan menjadikan ilmunya untuk kepentingan umat juga sebagai wadah yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan akhirat kelak.
Khilafah akan mencetak pemuda/i dengan kualitas terbaik dan berbudi luhur dalam berbagai aspek pendidikan sebagai penggerak kemajuan perkembangan negara, tentunya mereka di tempa dalam pendidikan yang mengedepankan aturan allah di atas perbuatan, para pelajar di didik agar lebih mengedepankan akhirat untuk menjalankan kehidupan di dunia, dan dengan berjalan dalam aturan pencipta tidak membuat mereka terbelakang justru mereka dapat membawa perubahan yang sesungguhnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw " Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina (tidak bernilai di hadapannya)"
Tentu penerapan yang seperti ini tidak bisa di realisasikan dalam sistem kepemimpinan sekuler kapitalis yang memisahkan antara kehidupan dengan agama, aturan allah yang sempurna haruslah di urus oleh sistem yang sempurna pula yakni sistem kepemimpinan dalam islam yang disebut sebagai Khilafah.
Wallahu'alam bishowab[]

No comments:
Post a Comment