Komunitas Muslimah Rindu Jannah
Sekali lagi para pengemban dakwah menyelenggarakan acara yang spektakular.
Tepatnya pada Kamis, 12 Rabiul Awal 1442 H, pada pukul 09.00 wib secara online, mengadakan acara memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
Dengan tema "Cinta Nabi, Cinta Syariah", Wujudkan Keadilan, Lenyapkan Kezaliman, Islam Wujudkan Rahmatan Lil Alamin.
Acara ini menghadirkan dua narasumber yang tidak diragukan lagi keilmuannya di bidang dakwah yaitu KH. Rahmat S Labib dan Ustadz Ismail Yusanto (cendekiawan muslim) dan juga para tokoh agama dan masyarakat.
Syukur alhamdulillah, peserta sangat antusias mengikuti acara ini, dan meresponnya dengan banyaknya pertanyaan yang disampaikan.
Acara ini di pandu oleh Ustadz Karebet Wjaya dan sebagai hostnya ustadz Ahmad Adiasta. Keduanya sangat ahli dalam mengawal sebuah acara besar seperti ini, sehingga tidak terasa membosankan.
Mengawali acara KH. Rohmat S.Labib, memberikan pidato iftitah (pembuka). Pidatonya yang cukup berkesan yaitu bahwa " keimanan kepada Rasul adalah hal yang sangat penting. Bertauhid kepada Allah tetapi tidak mengimani Rasulullah dia termasuk kafir, ketauhidan kepada Allah tidak berarti."
Bukti cinta Nabi, tegakkan syariat, pastinya seluruh aturan tanpa dipilih-pilih, sunnah-Nya juga harus ditegakkan tidak boleh dipilih-pilih, harus keseluruhan, termasuk urusan kenegaraan.
Senada juga dengan yang disampaikan oleh ustadz Ismail Yusanto, "Bila mencintai Rasulullah, tetapi tidak mau mengikuti sunnahnya, maka perlu dipertanyakan kecintaannya. Bukankah Rasulullah menjalankan pemerintahan dengan sistem Islam? Bila sekarang ada yang menolak sistem Islam yang pernah dijalankan Rasulullah, maka patut dipertanyakan pula kecintaannya."
Bila ada yang menginginkan hanya syariatnya saja yang dijalankan tanpa sistem khilafah itu tidak mungkin. Misal, ekonomi islam tidak mungkin dapat dengan sempurna dijalankan dalam sistem kapitalis, pastinya ekonomi Islam dijalankan dalam negara Islam.
Ini senada dengan testimoni yang disampaikan oleh Najamudin Ramli, Sekjen MUI Pusat, yaitu " mencintai Rasul tidak sekedar mencintai, tapi mempraktekkan apa yang diperintahkannya. Berupaya mengimplementasikan ajaran Islam yang belum terlaksana, sebagai bagian penerapan syariah dimulai dari muslim itu sendiri.
Peringatan Maulid ini juga menyoroti masalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad yang dilakukan oleh Presiden Perancis, Emmanuel Macron, yang tidak melarang penerbitan gambar kartun Nabi Muhammad.
Ia berdalih ini merupakan suatu bentuk kebebasan berekspresi.
Semua ini akibat umat muslim tidak memiliki seorang pelindung (khalifah), sehingga tidak sanggup membela nabinya yang telah dihina oleh orang kafir.
KH. Thoha Kholil, Pengasuh Pondok Pesantren Al Muntaha al Kholiliyah, Bangkalan, Madura, menyampaikan dalam testimoninya bahwa "ghirah Islam harus kita tunjukkan, agar para penghina itu tahu, bahwa umat Islam tidak akan diam ketika agamanya dihina. Kita harus tunjukkan bahwa Islam adalah idiologi dan jalan hidup agar menjadi hamba Allah seutuhnya. Sebagaimana yang dicontohkan Rasul secara kafah."
Masalah dalam negeri juga tidak luput dari perhatian, tentang para penista agama dengan orang yang berjuang ingin menegakkan syariat agama perlakuannya jauh berbeda, bagai bumi dengan langit. Tumpul keatas tajam kebawah.
Banyaknya janji-janji yang disampaikan para pemimpin negeri, tak satupun yang meneladani Rasulullah, sehingga sulit menilai kebenaran sesuatu. Muhammad saw mampu membuktikan bahwa yang Dia bawah adalah benar.
Sampai hari ini tidak terbukti atau tidak ada yang mampu menggagalkan ucapan atau kebenaran yang disampaikan Rasulullah Saw," testimoni dari pakar ekonomi, DR. Ichsanuddin Noorsy, BSC, SH, MSI.
Tidak mungkin satu milyar penduduk bumi percaya dan sampai saat ini tidak ada bantahan kalau apa yang di sampaikan oleh Rasulullah suatu kebohongan.
Tidak ketinggalan pula Profesor Sutteki, Guru Besar Ilmu Hukum, hadir juga memberikan testimoni pada acara ini, " Rintangan dalam dakwah itu wajar, jalan terjal pasti dilalui. Oleh karena itu mari kita cinta nabi dan berjuang menegakkan syariah agar cahaya peradaban Islam terus bersinar. Dan Islam tetap jaya baik di Indonesia maupun di dunia.
Acara ditutup dengan do'a yang dipimpin oleh KH. Yasin Muthoha yang sangat menyentuh sekali, sampai beliau sendiri dan para audiens yang hadir meneteskan air mata, saya kira para peserta online juga mengalami hal yang sama.
Semoga apa yang dilakukan hari ini oleh para pengemban dakwah mendapat balasan kebaikan dari Allah Swt dan membawa perubahan dalam Islam menuju peradaban baru.
"Lebih baik mati dalam ketaatan, dari pada mati dalam kemaksiatan."
Bunga mawar, bunga melati.
Taat syariah, tanpa ditawar, tanpa nanti.

No comments:
Post a Comment