Oleh : Fauziah, S.Pd.I
(Aktivis Muslimah Peduli Umat)
Pendidikan sejatinya menjadi pilar peradaban terbaik. Semakin baik pendidikan akan mengantarkan peradaban yang semakin baik pula, Jika sebuah peradaban tampak menghasilkan berbagai kerusakan, maka salah satu yang wajib di bedah adalah sistem pendidikannya, sebab sistem pendidikan yang mengasah sumber daya manusia menjadi seperti apa, dan sumber daya manusia inilah yang kemudian hari akan menentukan warna peradaban, terang atau gelap !
Merebaknya berbagai krisis multidimensi cukup menjadi bukti atas pendapat ini. Karena bagaimana pun, semua krisis yang terjadi terkait dengan prilaku masyarakat yang sejatinya merupakan output dari sistem pendidikan yang mereka jalani. Kita lihat,di dunia pendidikan acap kali ternodai dengan beragam perilaku tak pantas, tindak kekerasan, perkelahian, Pergaulan bebas, narkoba, LGBTQ, praktik aborsi, pornografi-pornoaksi dan miras, betapa moral sudah sedemikian parah memapar generasi, nampak kian lekat dalam kehidupan masyarakat hari ini. Padahal tak bisa dipungkiri, rata-rata pelakunya adalah generasi terdidik.
Di luar itu, perilaku buruk pun kian parah menjangkiti para pejabat negeri. Penipuan, kecurangan, pencurian, pemalsuan, pencucian uang, perampokan, penganiayaan, pembunuhan, perselingkuhan, perzinahan Bahkan di antara mereka ada yang rela menjual kedaulatan negara untuk kepentingan aseng maupun asing. Padahal mereka, lagi-lagi merupakan kaum terdidik. Fenomena hari ini menggambarkan bahwa kepintaran atau tingkat pendidikan seseorang tidak linier dengan baiknya perilaku orang tersebut. Alhasil semua ini cukup memberi gambaran betapa pendidikan sekularistik yang telah lama diterapkan nyaris gagal membawa nilai-nilai kebaikan. Pendidikan selama ini hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan, tapi nyaris gagal mengasah keluhuran adab dan ketinggian moral.
Kalau kita cermati, apa yang terjadi dalam dunia pendidikan secara mendasar adalah sistem pendidikan yang berlaku di negeri ini yaitu sistem pendidikan sekuler, dimana pengusung sistem sekuler ini adalah kafir barat dan para penguasa muslim yang telah menjual dirinya untuk kepentingan kafir barat. Kafir barat akan terus menguatkan cengkramannya dinegeri –negeri islam dan barat menyadari betul bahwa musuh terbesar mereka adalah kaum muslimin yang bersemangat untuk mengembalikan kebangkitan islam. Pendidikan inilah yang menjadi sarana utama untuk menghancurkan generasi muda islam, pendidikan sekuler telah menyiapkan generasi yang hanya memuja kenikmatan duniawi. Karena sekularisme adalah peradaban yang membuat dunia pendidikan bersimbiosis dengan bisnis. Setiap anak didik hanya didorong untuk memiliki watak yang mandiri, kritis, berdaya saing, memiliki visi bisnis, dan tak gagap teknologi. Sementara kedudukan agama tak lagi dipandang penting. Kenyataannya, pelajaran agama memang sudah lama diabaikan dalam dunia pendidikan di negeri ini. Benar-benar serba ala kadarnya. Kalau pun sesekali agama disebut-sebut, maka unsur religiusitasnya selalu diberi catatan “yang tidak ekstrem ke kiri dan ke kanan”. Artinya, harus moderat, tak boleh kaffah!
Hadirnya pemahaman agama terutama gagasan Islam kaffah memang dianggap sebagai ancaman besar oleh penguasa. Inilah yang ditakutkan oleh para penguasa penjaga kepentingan kapitalisme global.Hadirnya pemahaman Islam kaffah di tengah umat dipastikan akan membangunkan ghirah kebangkitan melawan penjajahan. Sehingga, mereka (para penguasa tadi) akan terus berupaya menyingkirkan peran Islam dari kehidupan. Oleh karenanya, umat semestinya waspada bahwa agenda sekularisasi pendidikan hakikatnya adalah untuk memuluskan penjajahan. Umat pun harus waspada bahwa dengan gencarnya arus sekularisasi ini generasi masa depan akan kian kehilangan pegangan, karena mereka makin dijauhkan dari Islam yang justru menjadi kunci kebangkitan. Umat islam seharusnya bercermin pada sejarah peradaban emasnya , dunia benar-benar telah mencatat kesuksesan sistem Islam dalam mencetak profil generasi terbaik. Yakni generasi emas penakluk dunia yang menebar rahmat bagi seluruh alam. Pada zaman inilah terlahir ulama besar ahli agama sekaligus ilmuan seperti ibnu sina atau di barat dikenal sebagai Avicena adalah seorang ulama sekaligus seorang ahli kedokteran dan astronomi. Sementara Al kindi seorang ulama sekaligus ahli matematika, fisika, astronomi, kimia dan tentang musik. Dan Al Khwarizmi adalah ilmuan yang memecahkan persamaan linear dan kuadrat yang kita kenal dengan nama aljabar, ia juga berhasil memetakan pergerakan matahari, bulan dan kelima planet yang ditulis dalam kitab Zij al-Sindhind.
Begitulah hasil dari sitem pendidikan islam, dimana generasinya memilki kepribadian islam yaitu memiliki aqliyah ( cara berfikir ), dan juga memiliki nafsiyah ( cara bersikap ) sesuai tuntutan dan tutunan hukum syariat islam. Kepribadian inilah yang secara otomatis akan menuntun mereka sekaligus mengasah kecerdasan dan skill mereka agar sukses menjalani kehidupan sesuai tuntutan Penciptanya. Bahwa mereka hidup hanya untuk kemuliaan Islam dan untuk menebar rahmat Islam ke seluruh alam. Itulah rahasia bangkitnya peradaban emas Islam. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,semua lahir dari unggulnya kepribadian Islam yang ditanamkan lewat sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara berasas Islam.
Wassalamualaikum wr, wb
