Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Corona Menyingkap Borok Kesetaraan Gender

Saturday, June 20, 2020 | Saturday, June 20, 2020 WIB Last Updated 2020-06-20T14:28:23Z
Oleh: Amilatul Fauziyah 
(Mahasiswi Pendidikan Matematika UM)

Di berbagai negara masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semakin bertambah. Laporan – laporan tentang KDRT melonjak akibat pandemi.  Di Amerika Serikat, perempuan dua kali lipat berpotensi mengalami kekerasan dari pasangan intim. Di Prancis, tingkat kenaikan kasus sebesar sepertiga pada minggu pertama lockdown, sementara di Australia sebesar 75%. Di Indonesia, terdapat 75 pengaduan kasus selama pertengahan Maret hingga pertengahan April 2020. Tuani Sondang, anggota LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, menyatakan kasus-kasus KDRT selama social distancing sangat tinggi.

Semakin jelas bahwa masyarakat memang sedang “sakit”. Virus corona datang memperjelas realitas masyarakat yang pesakitan. Entitas PBB yang mengusung kesetaraan gender seperti UN Women tidak menghasilkan perbaikan sedikitpun. Diskriminasi tingkat upah antara laki-laki dan perempuan belum mereda. Perempuan berkulit hitam mendapat upah lebih rendah daripada perempuan berkulit putih. Ide gender equality gagal menghapus rasisme, alih-alih menyetarakan perempuan dengan laki-laki sebagaimana jargonnya.

Sebab memang ketidaksetaraan gender bukanlah akar permasalahan. Aktivis feminis perlu melihat kembali bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak sebatas karena perempuan hanya diberi sedikit ruang dalam politik praktis atau kebijakan didominasi oleh otak laki-laki. Perempuan mengalami ketidakadilan bukan karena gender equality diabaikan. Justru gender equality akan memunculkan persoalan baru yaitu liberalisme. Konsep kesetaraan gender dan virus liberalisme yang ada di baliknya sangat berbahaya. Saat ini liberalisme telah berkembang seiring kampanye kesetaraan gender itu sendiri.

Kita dapat melihat perempuan hanya dimanfaatkan sebagai penggerak roda ekonomi kapitalisme. Konsep kebahagiaan dalam liberalisme adalah materi. Perempuan harus berpendidikan tinggi jika ingin dihormati meskipun sistem pendidikan yang ada tidak mampu mencetak manusia berakhlak mulia. Perempuan mandiri dengan penghasilan tinggi dan karir sukses dipandang mapan. Selanjutnya mereka akan memandang pernikahan adalah bentuk pengekangan, mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah adalah kerugian.

Pemikiran tersebut tidak serta merta ada dan menjangkiti masyarakat, namun diaruskan oleh pegiat kesetaraan gender. Tentu masalah kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan tidak akan selesai, sebaliknya akan menyingkap borok liberalisme di balik kesetaraan gender. Opini rusak macam itu malah menyuburkan sistem kapitalisme yang sedang berjalan. Masyarakat dipaksa memenuhi kebutuhannya sendiri di tengah kesulitan ekonomi akibat ketidakbecusan negara mengurus hajat publik. Mereka dibius dengan opini pendidikan dan kemandirian padahal sejatinya digunakan untuk mendongkrak industri. Program keluarga berencana (KB) merupakan propaganda rusak agar dapat menekan pertumbuhan penduduk. Dengan demikian beban negara akan berkurang. Sungguh licik.

Padahal Allah SWT telah menciptakan perempuan sebagai sekolah pertama bagi anak-anak mereka. Perempuan memegang peran besar bagi peradabaan tanpa harus masuk ke dalam parlemen atau menghasilkan uang dalam jumlah besar. Islam telah mengatur syariat bagi laki-laki maupun perempuan. Tidak ada pendiskiriminasian tetapi bagian sesuai fitrah masing-masing. Ketika perempuan mau mengikutinya, begitu pula laki-laki dan bahkan negara, maka permasalahan saat ini akan selesai. Sebab Islam memandang manusia, masyarakat, negara, ekonomi, pendidikan, semuanya dengan pandangan yang unik.

Benar akar permasalahan adalah diterapkannya sistem kapitalisme dalam kehidupan. Setiap lapisan terdampak mulai dari individu, masyarakat, dan negara. Inilah mengapa aktivis feminis bahkan partai politik sekalipun belum menemukan jalan keluar. Ide mereka dangkal dan solusinya masih seputar teknis administratif, sedangkan sistemnya tidak disentuh. Padahal permasalahan utamanya merupakan sistemik. Corona telah memperlihatkan betapa lemahnya manusia dan sistem buatan manusia. Kita membutuhkan sistem hidup yang sempurna tanpa cacat, yakni Islam. Negara bersistem Islam hadir untuk menjaga agama dan mengurus kebutuhan manusia agar sesuai dengan petunjuk-Nya. Tidak lain kecuali kesejahteraan bagi umat manusia, baik muslim maupun non-muslim.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update