Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sistem Islam : Sistem Bebas Utang, Riba dan Wabah

Saturday, April 18, 2020 | Saturday, April 18, 2020 WIB Last Updated 2020-04-18T06:10:50Z
Goresan Pena Abu Mush'ab Al Fatih Bala
(Penulis Nasional & Pemerhati Politik Asal NTT)

Pada zaman milineal seperti saat ini hampir semua negara berutang kalau tidak mau dikatakan semuanya. Jumlah utang luar negeri juga bukan main kepalangnya. Amerika Serikat sebagai negara adidaya pun Utangnya menggunung.

Jumlah utang AS US$ 70 Trilun atau Rp. 309 ribu triliun (18/7/19). Negara lainnya walaupun utangnya tak sebesar Amerika namun juga tak bisa melunasi utangnya. Sangat miris.

Begitu juga dengan Indonesia. Walaupun utang luar negerinya sempat mencapai Rp.6.000 Trilun namun penambahan utang baru tetap dilakukan.

Penambahan Utang Luar Negeri Indonesia yang baru senilai US$ 4,3 miliar dengan tenor kisaran 10,5 tahun; 30,5 tahun dan 50 tahun. Entah kapan bisa dilunasi semua utangnya.

Utang memang jadi andalan banyak negara untuk menopang ekonominya. Padahal lewat utang banyak aset dari berbagai negara dilego ke negara lain yang lebih kuat.

Inilah penjajahan ekonomi yang tidak disadari. Adanya Bank Dunia dan IMF ternyata tak mampu menyelesaikan masalah ekonomi internasional. Kedua lembaga ini tak ubahnya sebagai "rentenir global" dengan dunia ini sebagai "Rukun Tetangga (RT)" dan di bawah lindungan Amerika Serikat sebagai "Ketuanya".

Harusnya Bank Dunia (World Bank) dan IMF berubah nama dan fungsi. Mencari cara untuk menuntaskan kemiskinan di seluruh dunia. Harusnya kemiskinan itu dianggap virus yang harus disikat seperti pandangan WHO terhadap virus Corona.

Alih-alih berfikir seperti itu, kedua lembaga ini malah tak peduli dengan penderitaan negera-negara yang miskin. Negara tersebut malah dinyatakan bangkrut karena tingginya utang luar negeri dan bunga.

Lembaga Dunia ini perpanjangan tangan sistem kapitalis yang berfikir untung dan rugi saja. Sulit dibayangkan semua negara bisa kaya kalau seperti ini cara kapitalisme bekerja. Beberapa negara yang telah menjadi korban kapitalisme lewat utang dan bunga contohnya Yunani (gagal bayar Utang USD 360 milliar atau Rp.5.255), Argentina (USD 100 milliar), zimbabwe (USD 4,5 milliar).

Tingginya Utang juga meningkatkan jumlah pengangguran. Di Zimbabwe misalnya negara miskin di Afrika ini tingkat penganggurannya sempat mencapai 80%.

Banyak negara harus merana karena sistem kapitalisme. Apalagi harus melawan wabah Corona yang menjangkiti 207 negara membuat perekonomian dunia jadi lesu dan kemampuan membayar utang jadi melemah. Banyak negara berutang lagi karena kebingungan melawan Corona.

Amerika Serikat sendiri belum dinyatakan bangkrut karena penguasaan SDA negara lain di luar negeri, memiliki persenjataan yang canggih dan negara pemegang veto di PBB. Diduga belum bisa dibangkrutkan karena ini. AS pun tengah berjuang melawan Corona yang sudah menjangkiti 827.000 warganya (reuters.com)

Akan jadi berbeda sejarah dunia ini jika sistem kapitalisme diganti dengan Sistem Islam. Sistem Islam memang dirancang untuk anti utang, riba dan wabah.Dalam sistem Islam semua orang bisa kaya dan semua negara berpotensi bebas utang.

Pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz utang benua Afrika dilunasi oleh Khilafah Islam. Bahkan biaya pernikahan pemuda ditanggung oleh negara.

Semua itu terjadi karena Sistem Islam tidak mengenal pendapatan melalui jalan ribawi. Pendapatan negara diambil dari penguasaan SDA secara full oleh negara. Di samping devisa tambahan melalui perdagangan, jizyah, ghanimah dan berbagai istilah fiqih lainnya.

Keuntungannya digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan gratis. Sehingga puncaknya pada zaman itu orang termiskin di dunia adalah yang punya sebuah rumah, sepetak lahan dan seekor hewan tunggangan.

Sebuah kenyataan yang tidak pernah kita temukan dalam sistem kapitalisme. Khilafah Islam pada masa Umar bin Khattab ra. mampu mengisolasi (lock down) Syam untuk menghentikan wabah Tha'un sehingga tidak menyebar ke negeri sendiri dan ke seluruh dunia.

Lock Down di Zaman Khalifah Umar tidak mengguncang ekonomi. Khilafah tidak berutang untuk menangangi wabah dan tidak menutup akses masyarakat untuk mendapatkan keuntungan bisnis.

Khilafah yang merupakan negara adidaya di dunia saat itu tak pernah meminjami atau membuka lembaga keuangan dunia yang ribawi. Sehingga negara lain tidak tergantung kepada Khilafah karena utang ribawi.

Khilafah malah prihatin dengan keadaan internasional yang buruk. Ketika AS dan Eropa terkena bencana kelaparan, para Khalifah tidak memanfaatkan keadaan tersebut untuk menghutangi negara lain. Malah bantuan secara cuma-cuma secara gratis diberikan ke dua benua ini tanpa harap imbalan. Bukankah kita rindu sistem mulia, mandiri dan suka menolong ini?

Bumi Allah SWT, 18 April 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update