Oleh: Ismayanti (Aktivis
UNRAM)
Ketua
Badan Pembinaan Idiologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi kembali mengeluarkan
pernyataan kontroversi di tengah kalangan publik, dimana Yudian menyarankan
agar Assalamu’alaikum diganti dengan salam pancasila. Menurutnya, salam
pancasila ditempat umum sebagai titik temu dari salam berbagai agama yang ada
dikalangan masyarakat di Indonesia. "Dulu kita sudah mulai nyaman dengan
Selamat Pagi (sebagai salam nasional). Tapi, sejak reformasi diganti dengan
Assalamualaikum. Maksudnya di mana-mana tidak peduli ada orang Kristen, Hindu,
pokoknya hajar saja. Tapi karena mencapai titik ekstrimnya, maka sekarang
muncul kembali. Kita kalau salam sekarang ini harus 5 atau 6 (sesuai dengan
agama-agama). Nah ini jadi masalah baru lagi. Sekarang sudah ditemukan oleh
siapa gak tau Yudi latief atau siapa yang lain (yang namanya) Salam
Pancasila," ujar Yudian ( VIVA- Minggu, 23 Februari 2020).
Pernyataan
tersebut langsung mendapat kritikan dari Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra,
Fadli Zon. Ia meminta agar BPIP dibubarkan. "Lembaga ini memang layak
dibubarkan, selain membuat kegaduhan nasional juga berpotensi menyelewengkan
nilai-nilai Pancasila itu sendiri," kata Fadli (Warta Ekonomi.co.id -
Senin, 09 Maret 2020). Kritik juga berdatangan dari mantan sekertaris
kementrian BUMN ( M Said Didu), MS Kaban selaku ketua Presidium Majelis
Permusyawarakan Pribumi Indonesia, serta guru besar Universitas Diponegoro,
prof. Dr.Suteki,S.H,M.Hum juga mengomentari pernyataan Yudian Wahyudi.
Ustadz Yahya Zainul Maarif, atau lebih akrab disapa
Buya Yahya juga memberikan respon terkait dengan pernyataan rektor UIN Sunan
Kalijaga ini, Melalui channel Youtube Al-Bahjah TV, yang dipublikasikan 23
Februari 2020, Buya menyampaikan kegundahannya. "Innalillahi wainnailaihi
rajiun," ucap Buya Yahya mengawali jawaban atas pertanyaan soal pernyataan
kontroversi Kepala BPIP itu. Pengasuh pondok pesantren Al-Bahjah ini
menegaskan, jauh sebelum bangsa ini lahir dengan Pancasila-nya, Islam sudah
mengajarkan mengenai nilai-nilai toleransi, kebhinekaan.
Bagi
kaum muslimin mengucapkan salam adalah ibadah, dimana hukumnya sunnah bagi yang
mengucapkan, dan menjadi wajib di jawab bagi yang mendengar. Selain ibadah,
lafadznya pun sudah ditentukan oleh Allah swt dan Rasulullah saw . Disaat nabi
berdialog dengan Allah, pada moment isra’ dan mi’raj yaitu ketika Rasul
memberikan penghormatan kepda Allah “Attahiyatulmubaarakatusshalawaatutthayyibatu
lillah...” kemudian Allah menjawab dengan memberikan salam kepada nabi “Assalamu’alaika
Ayyuhannabiyyu warahmatullah...” sehingga dialog tersebut diabadikan dalam
shalat khususnya ketika duduk tahiyyat.
Dalam islam juga
mengajarkan untuk menyebarkan salam bagi sesama umat muslim baik bagi yang
mengucapkan maupun yang menjawab salam keduanya mendapatkan pahala disisi Allah
swt. Oleh karena itu salam merupakan salah satu syari’at islam yang tidak boleh
diganggu eksistensinya, diganti,
ditinggalkan apalagi dibuang. Adalah usulan yang ngawur jika ingin
menggantinya dengan salam pancasila sehingga usulan semacam ini wajib ditolak.
Jika mengganti Assalamu’alaikum dengan salam pancasila karena alasan toleransi,
maka hal ini merupakan toleransi yang kebablasan. Kasus semacam ini bukan kali
pertama dirasakan oleh umat islam khususnya, tapi sering kali kita menemukan
ajaran-ajaran islam disalahkan, dikriminalisasikan bahkan berusaha untuk
dihilangkan dari kehidupan seperti ajaran khilafah & jihad. Tentu kita
sebagai umat muslim jangan sampai tergerus oleh arus liberalisasi yang akan
menghipnotis kita akan jati diri kita sebagai seorang muslim, hendaknya setiap
muslim menjalankan peran & amanah yang diturunkan Allah untuk meneruskan
ajaran mulia ini hingga yang haq berada di atas kebathilan, berupaya untuk
menghalang apapun yang dapat mencemari kemurnian islam, dan semua itu hanya
dapat terwujut apabila adanya kekuatan dan dukungan besar dari sebuah negara,
dialah negara islam.

No comments:
Post a Comment