Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Virus Corona Guncang Dunia, Apa Solusinya

Wednesday, February 05, 2020 | Wednesday, February 05, 2020 WIB Last Updated 2020-02-05T06:38:42Z
Oleh : Rismawati 
(Aktivis Dakwah Kampus)

Akhir-akhir ini dunia digemparkan dengan berita tentang munculnya virus corona. Menurut catatan medis, virus Corona merupakan salah satu virus yang sangat mematikan dan cepat penyebarannya.

Virus corona diidentifikasi muncul pertama kali di Wuhan, China, tepatnya di sebuah pasar bernama SeafoodHuanan. Sejumlah pakar di China mengumumkan bahwa mereka telah berhasil mengungkap asal virus corona yang saat ini tengah mewabah dan menuai kekhawatiran dunia.

Peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China (CDC) telah mengumpulkan sampel untuk diteliti. Hasil penelitian mereka menyebutkan bahwa virus corona itu berasal dari Pasar SeafoodHuanan di Wuhan. Pasar yang kemudian ditutup sejak patogen itu menyebar, dilaporkan menjual berbagai macam hewan liar, mulai dari anak serigala, rubah, hingga burung merak. (http://news.com.au)

Dalam keterangan CDC, disebutkan sebanyak 31 dari 33 sampel, positif diambil dari zona barat yang merupakan tempat perdagangan hewan liar. "Hasilnya menyatakan bahwa penyebaran virus corona baru mempunyai relevansi tinggi dengan perdagangan binatang liar," ujar peneliti CDC.

Sejak kemunculan virus corona pada akhir desember 2019 lalu, pemerintah China sudah melakukan langkah pencegahan. Pemerintah tidak hanya menutup pasar Huanan, namun juga menutup Wuhan dan kota di dalam Provinsi Hubei, menghentikan layanan transportasi publik, hingga memperpanjang masa liburan.

Libur Tahun Baru Imlek yang dilaporkan berakhir pada 30 Januari, diperpanjang hingga 2 februari untuk mengurangi massa yang berkumpul. Selain itu, sekolah dan universitas juga ditangguhkan pembukaan tahun ajaran barunya hingga mendapat pemberitahuan lebih lanjut.

Menteri Kesehatan China, Ma Xiaowei menerangkan, saat ini Negeri "Panda" berada dalam masa genting. Sebab, kemampuan virus untuk menyebar semakin kuat. Pernyataan itu ia buktikan dengan data jumlah korban meninggal yang mencapai 106 orang pada Selasa (28/1/2020), sementara lebih dari 4.500 orang lainnya terinfeksi.

Untuk itu, ribuan dokter dan perawat dikerahkan dari berbagai penjuru negeri dan 10.000 buah tambahan tempat tidur rumah sakit dipersiapkan untuk merawat korban. (https://www.tribunnews.com)

Diakui atau tidak, keberadaan virus corona ini telah menjadi ancaman sekaligus ketakutan internasional. Sebab, virus ini mampu memakan korban hingga ratusan jiwa manusia dalam waktu sekejap. Bahkan pada oktober 2019 lalu, pemerintah China yang dengan sombong menegaskan bahwa tidak ada yang bisa mengguncang China, nyatanya kini China benar-benar terguncang dan ketakutan, hingga memaksa untuk mengisolasi beberapa kota di negeri Tirai Bambu itu.

Beberapa negara juga telah mengeluarkan kebijakan untuk menutup jalur penerbangan dari dan/atau menuju China, khususnya kota Wuhan serta beberapa wilayah yang terjangkit virus corona. Berbeda dengan itu, Indonesia dilaporkan masih membuka akses penerbangan dengan China.

Beberapa hari yang lalu, sebanyak 174 turis asal Kunming, China, tiba di Bandara Internasional Minangkabau, Padang Pariaman, minggu (26/1/2020), pukul 06.36 WIB. Mereka dikabarkan akan berwisata selama lima hari di Sumatera Barat. Kedatangan rombongan turis asal Cina tersebut disambut langsung oleh Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno beserta jajarannya. Mereka tiba di Bandara setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan suhu tubuh menggunakan thermalscanner. Rombongan disambut dengan tari pasambahan dan hiburan musik khas Minang di pintu kedatangan internasional. (sumber: www.detiknews.com)

Tindakan pemerintah yang cenderung membiarkan imigran-imigran China masuk ke Indonesia dengan dalih untuk tujuan wisata merupakan tindakan ceroboh. Kecerobohan seperti itu tidak hanya berbahaya, namun juga menyalahi tuntunan syariat Islam.

Lalu, bagaimana tuntunan syariah untuk menangani wabah virus corona  tersebut?

Syariat Islam memahami bahwa penyakit merupakan bagian dari qadha’ (ketentuan) dari Allah swt. kepada manusia. Manusia diperintahkan untuk beriman kepada qadha’ tersebut, ikhlas dan sabar menghadapinya. Namun, bukan berarti harus pasrah dan berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Islam justru memerintahkan untuk tawakkal, yaitu berserah diri kepada Allah dengan doa yang sungguh-sungguh dan ikhtiar fisik yang benar. Sikap tawakkal seperti inilah yang dituntunkan oleh syariah dan wajib untuk ditempuh.

Diriwayatkan bahwa pada masa Rasulullah saw. dan para sahabat pernah mengalami musibah wabah penyakit. Pada tahun ke-6 hijriyah, masyarakat kota Madinah terserang wabah tha’un, yaitu sejenis penyakit kolera. Kemudian pada masa kepemimpinan khalifah Umar bin al-Khaththab ra., wabah penyakit tha'un juga pernah menjangkiti negeri Syam. Dalam peristiwa itu, lebih dari 20.000 orang meninggal dunia. Wabah penyakit tha'un juga pernah terjadi di masa Ibnu Zubair, yaitu pada bulan Syawal tahun 69 Hijriyah yang mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia.

Sejarah mencatat bahwa pada masa Rasulullah saw., penduduk Madinah terbebas dari penyakit tha’un berkat doa Rasulullah saw. Dan dengan izin dan kehendak Allah swt., Madinah kembali aman dari serangan penyakit tha’un. Dari sana kita tahu betapa pentingnya doa terbaik yang sungguh-sungguh oleh orang yang terbaik, yaitu pemimpin terbaik yang memimpin masyarakat dengan keshalehan dan keadilan.

Demikian juga, ketika wabah tha’un kembali terjadi di masa khalifah Umar bin al-Khaththab ra., maka Umar melakukan apa yang dituntunkan oleh syariah. Selain mendoakan keselamatan rakyatnya, Umar juga melakukan pencegahan penyebaran penyakit dengan meng-isolasi daerah yang telah terkena penyakit, di samping upaya pengobatan maksimal bagi individu yang terserang penyakit. Peristiwa ini diceritakan dalam hadits shahih Muslim. 

Dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah, "Suatu ketika Umar bin al-Khaththab pergi ke Syam. Setelah sampai di Saragh, dia mendengar bahwa wabah penyakit sedang menimpa Syam. Maka 'Abdurrahman bin 'Auf mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: 'Apabila kamu mendengar suatu wabah menjangkiti sebuah negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.' Maka Umar pun kembali dari Saragh. Dan dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, bahwa Umar kembali bersama orang-orang setelah mendengar hadits Abdurrahman bin Auf.” (HR. Muslim No. 4115)

Hadits di atas sangat masyhur menjelaskan tuntunan syariah dalam masalah ini, yaitu apabila berhadapan dengan suatu wabah, maka mereka yang berada di luar daerah itu tidak dibenarkan untuk memasukinya. Sebaliknya, mereka yang berada di dalam kawasan yang terjangkit wabah, tidak dibenarkan untuk keluar darinya. Dan tentu saja bagi setiap individu yang telah terserang penyakit, wajib diberikan pelayanan medis maupun non medis oleh petugas negara.

Karena itu, pemerintah wajib memastikan kesehatan dan keselamatan rakyatnya. Pemerintah tidak boleh mempertimbangkan kepentingan apa pun selain pertimbangan hukum syara’, seperti pertimbangan ekonomi, perdagangan, wisata, dan lain-lain.

Perlu ditegaskan pula bahwa kepatuhan terhadap hukum syara’ bukan hanya wajib dilakukan dalam masalah ini, namun harus dilakukan dalam semua hal, termasuk dalam urusan ekonomi, pendidikan, pergaulan, hukum dan pemerintahan. Sebab, betapa banyak bala dan kerusakan terjadi akibat dari ketidak patuhan terhadap tuntunan syariah.

Sungguh, tragedi mewabahnya virus corona yang sangat mematikan merupakan peringatan dari Allah swt. Bahwa sehebat dan sesombong apa pun manusia, ia tetaplah makhluk yang sangat lemah. Sehingga, ketika Allah berkehendak, Allah cukup dengan mengirimkan makhluk-Nya yang sangat kecil (virus), manusia pun bisa musnah hanya dalam waktu sekejap mata.

Inilah pelajaran mahal sekaligus peringatan bagi manusia untuk tidak sombong dan takabur dengan segenap kemampuannya, karena hakikatnya manusia sangat lemah dan terbatas. Pelajaran dan peringatan ini juga semestinya menyadarkan umat Islam seluruh dunia tentang betapa pentingnya betawakkal dalam ikhtiar ketaatan total hanya kepada Allah swt. dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal membangun masyarakat dan negara, itulah negara Khilafah Islamiyah. Khilafahlah yang akan mengurus urusan umat dengan senantiasa berpegang teguh pada tuntunan syariat, juga dalam urusan penanganan penyakit yang mewabah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update