Oleh : Mukhy Ummu Ibrahim
Member Akademi Menulis Kreatif
Dunia tengah gempar dengan merebaknya virus Corona. Dalam sebulan terakhir, virus ini telah merenggut ratusan nyawa. Sementara puluhan ribu lainnya telah terkonfirmasi terinfeksi dan tengah berada dalam karantina. Dapat diprediksi bahwa korban meninggal akibat virus mematikan ini masih akan terus bertambah jumlahnya.
Kota Wuhan di provinsi Hubei, Cina, menjadi titik awal penyebaran virus yang dinamai sebagai Novel Corona Virus atau 2019-nCov. Virus ini merupakan jenis baru dari virus Corona yang pernah merebak sebelumnya. Masa inkubasi virus ini berkisar selama 14 hari. Seseorang yang terinfeksi virus ini tidak akan menunjukkan adanya gejala sebelum rentang waktu tersebut. Gejala awalnya mirip dengan flu. Namun, kondisi parahnya akan mengarah pada Pneumonia. Yang dapat berakibat pasien terinfeksi meninggal dunia.
Virus ini pun terbilang memilki daya sebar yang cukup cepat. Dari kota asalnya di Wuhan, kini virus ini telah menyebar ke banyak negara lain. Setidaknya ada 25 negara yang telah mengkonfirmasi adanya pasien positif terinfeksi Corona di negara mereka. Di antaranya adalah Hongkong, Kamboja, Malaysia, Singapura, Jepang, Australia hingga Amerika
Berbagai upaya pun dilakukan demi meminimalisir penyebaran virus ini lebih jauh. Pemerintah Cina pun menutup kota Wuhan dan melarang warga untuk keluar dan masuk ke kota tersebut. Sedikitnya ada 60 juta warga yang kini terisolasi demi menghambat laju penyebaran Corona. Mereka terjebak dalam kota yang makin mencekam dengan jumlah kasus infeksi Corona yang terus meningkat.
Mereka bertahan di dalam tempat tinggal mereka dengan logistik yang makin menipis. Termasuk di antara mereka adalah warga negara Indonesia yang tengah berdiam di sana. Banyak dari mereka adalah kalangan mahasiswa. Sayangnya, tidak seperti Amerika, Jepang, Prancis dan beberapa negara lain yang telah lebih dulu beraksi cepat mengevakuasi warga negaranya dari Cina, pemerintah kita justru terkesan lamban dalam upaya evakuasi.
Tidak hanya itu, di saat dunia tengah siaga menghadapi virus Corona, dan berusaha menghilangkan setiap potensi penyebarannya, pemerintah kita justru welcome saja dengan masuknya 174 turis asal Cina yang berkunjung lewat Bandara Internasional Minangkabau di Padang pada Minggu (26/1). Bahkan Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I, Bandara Soekarno-Hatta, dr. Anas Ma'aruf mengatakan bahwa pemerintah tidak akan melakukan restriksi atau pembatasan perjalanan orang. Menurutnya hal itu dapat mengakibatkan bisnis bisa merugi dan ekonomi bisa berhenti. (harianjogja.com, 23/1/2020)
Tindakan pemerintah ini pun sontak menuai kecaman dari warga. Bahkan warganet membuat tagar #TolakSementaraTurisCina demi menggaungkan opini untuk dilakukannya pelarangan sementara bagi turis Cina yang hendak berkunjung ke Indonesia. Yang tentu bertujuan mencegah penularan virus Corona ke negara kita.
Kelonggaran pemerintah dalam mengatur perjalanan di tengah merebaknya virus mematikan Corona jelas amat disayangkan. Terlebih saat merebaknya wabah ini kini sudah ditetapkan oleh WHO sebagai situasi darurat global. Mengingat cakupan penyebaran yang makin meluas dan jumlah pasien terinfeksi yang terus bertambah.
Data terbaru telah mengungkapkan bahwa total pasien terinfeksi virus Corona telah mencapai 14.000 jiwa lebih dan jumlahnya terus bertambah. Jumlah total ini jauh dari jumlah yang terkait dengan peristiwa wabah virus pernafasan parah (SARS) pada tahun 2003 yang merupakan wabah terburuk di Asia. (tempo.co, 31/1/2020)
Dengan penyebarannya yang makin meluas dan korban yang terus bertambah, dunia kini tengah dalam status siaga menghadapi virus yang pertama kali merebak di pasar penjualan hewan liar di Wuhan ini. Dengan korban tewas yang telah menyentuh angka 400 lebih, bahaya virus Corona baru ini jelas tidak boleh dianggap remeh.
Namun, ternyata kerugian ekonomi mampu membuat pemerintah kita nyaris mengabaikan semua bahaya itu. Demi tetap mengalirnya devisa dari sektor pariwisata, kunjungan dari negara asal wabah pun tetap diterima dengan tangan terbuka. Sementara di sisi lain keselamatan warga menjadi taruhannya.
Meski telah dilakukan langkah antisipasi dengan memperketat pengontrolan di bandara, di antaranya dengan memasang termo scanner, nyatanya resiko menyusupnya virus masih tetap besar. Terlebih mengingat masa inkubasinya pun cukup lama. Maka, pemerintah sungguh gegabah, mempertaruhkan keselamatan warga demi keuntungan sementara. Padahal di sisi lain, resiko besar tengah menghadang.
Menjadikan untung rugi sebagai pertimbangan memang sudah menjadi tabiat sistem kapitalis yang berprioritas pada uang. Negara hanya bertugas membuat kebijakan yang akan dapat menghasilkan keuntungan. Meski itu berarti membiarkan rakyatnya minim perlindungan.
Hanya dalam sistem Islam, negara akan menjadi pelindung sejati warganya. Menghalau segala mara bahaya dan menjadi perisai pelindung dari setiap yang akan membawa warga pada celaka.
Tuntunan Rasulullah tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi wabah pun sudah sangat jelas. Rasulullah bersabda, "Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kelian meninggalkan tempat itu." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kaum muslim dilarang untuk mendatangi sumber wabah. Sementara mereka yang Allah tetapkan berada dalam area wabah pun dilarang untuk keluar. Hal ini sebagai upaya untuk menghindari meluasnya wabah ke daerah-daerah lain. Mereka diperintahkan untuk bersabar dan tetap tinggal di tempat mereka. Mereka pun tidak perlu sedih dan berputus asa. Sebab pahala besar telah Allah janjikan sebagai imbalan atas kesabaran mereka.
Dalam riwayat lain disampaikan pula dalam sabda Rasulullah, "Tho‘un (wabah) itu azab yang Allah timpakan pada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya rahmat bagi mukminin. Tidaklah seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan bersabar, meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan, kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis ini diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR Bukhari)
Namun, terlepas dari semua itu, pemerintah tetap wajib menangani wabah dengan sigap dan siaga. Termasuk mencegah meluasnya wabah dengan menutup wilayah dari masuknya orang-orang yang datang dari wilayah terjangkit wabah. Dan tidak mengizinkan mereka masuk ke wilayah kita dengan alasan apapun.
Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:
Post a Comment