Goresan Pena Wahyudi al Maroky
_(Dir. PAMONG Institute)_
Dalam perjalanan di Daerah Istimewa Yogyakarta(15/02/20), tiada sengaja saya melihat kuda yang sedang menarik delman. Terngiang ditelinga, penggalan sebuah lagu dikala kecil dulu. _(…pada hari minggu kuturut ayah ke kota, naik delma istimewa ku duduk di muka…)_
Aku pun tersenyum mengingat lagu itu. Ya, merasa lucu saja karena masa kecilku di Kota Rusa Merauke tak pernah melihat kuda bernasib seperti di Yogya. Aku naik kuda di Papua bukan untuk pergi ke kota, tapi pergi ke hutan, diajak berburu rusa ke Wasur, Yanggandur, Sota dll.
Kuda di Papua Bisa lari kencang. Bisa makan rumput segar dan bisa berkejar-kejaran di tanah lapang. Sangat berbeda dengan di yogya. Kuda dipakai menarik delman persis seperti di lagu itu… juga tak bisa lari kencang karena banyak kendaraan di kota. Konon lagi mau makan rumput segar dan berkejar-kejaran di tanah lapang.
Namun ada kesamaan antara kuda di papua dan di Yogya itu. Mereka sama-sama menjalani takdirnya sebagai kuda tanpa banyak mengeluh. Kuda jantan tak pernah minta operasi plastik jadi betina. Kemudian ganti status jadi Lucinta Kuda, hmmm.. Kuda hitam tak minta operasi jadi putih. Ini Sangat beda dengan manusia yang suka mengeluh.
Kuda sangat patuh dengan majikan atau tuannya. Padahal kompensasi kepatuhan dan loyalitas yang didapat kuda tidaklah seberapa dari majikan.
Soal makanan, kuda hanya diberi kompensasi makan rumput oleh tuannya. Kuda pun tak pernah protes dan minta sesekali makan sate atau nasi goreng Teuku Umar, atau nasi uduk Gondangdia. Ah… itu jauh dari kepentingan politik kuda.
Sangat Berbeda dengan manusia yang memakan segala rupa. Bahkan makanan kuda pun bisa dimakan manusia. Jangankan makanan kuda, kandang kuda pun bisa dimakan manusia. (proyek kandang).
Yang sangat unik, soal kuda ini ternyata diabadikan oleh Allah SWT sang pencipta manusia dan alam semesta. Dalam kitab suci al Quran, Allah mengisahkan khusus tentang kuda perang (surat al Adiyat). Kuda yang gagah berani dan berlari kencang membawa Tuannya ikut berperang. Padahal resikonya adalah kematian.
Dari kisah kuda tersebut kita dapat pelajaran berharga tentang loyalitas. Setidaknya ada Tiga hikmah yang dapat kita petik, diantaranya:
PERTAMA, Kuda tak minta makan yang aneh-aneh dari tuannya. Sejak jaman kuda hingga kini jaman kuda besi, kuda masih saja makan rumput. Tak pernah dengar ada kuda minta makan nasi goreng. Mungkin jika makan nasi goreng malah tak bisa lari kencang lagi. Kehilangan karekternya sebagai kuda yang gagah berani.
Meski sejak dulu hanya makan rumput, kuda tak pernah kena penyakit aneh-aneh. Ia tak kenal virus corona karena kuda tak sembarangan makan binatang. Kuda hanya makan rumput yang diberikan tuannya. Kuda pandai bersyukur dan pandai berterima kasih.
KEDUA, Kuda sangat patuh dan taat (loyal) kepada Tuannya. Meski hanya diberikan makan rumput. Dan diberikan rumah sekelas kandang kuda. Ia sangat pandai berterima kasih pada tuannya dengan memberikan loyalitas penuh.
Bentuk loyalitas kepada tuannya yang melatih, merawat dan memberinya makan, kuda siap mengerjakan apa saja yang diperintahkan tuannya. Ini tentu sangat berbeda dengan sebagian manusia yang sudah diberika rizki oleh Allah kepadanya namun masih mengeluh kurang. Bahkan berani membangkan perintah Allah.
Kuda diperintahkan masuk kota dan menarik delman, ia jalankan meski harus menarik beban berat itu. Bahkan sesekali ia dipukul oleh tuannya agar lebih semangat. Demikian juga jika diperintahkan masuk hutan untuk berburu. Masuk lumpur, becek, ga ada ojek pun kuda jalani. sekali lagi, terkadang ia harus dipukul oleh tuannya agar lebih cepat lagi.
Bahkan bukan hanya diperintahkan masuk kota dan masuk hutan. Masuk medan perang pun kuda lakukan dengan penuh loyalitas. Padahal resiko ikut berperang adalah kematian. Namun bagi kuda, masuk kota dan masuk hutan pun bisa mati. Tak ada bedanya masuk medan perang. Bagaimana manusia?
KETIGA, Kuda menerima takdir tanpa mengeluh. Ia menjalani takdirnya sebagai kuda tanpa banyak mengeluh. Kuda jantan tak pernah minta operasi plastik jadi betina. Kemudian ganti status jadi Lucinta Kuda. Kuda hitam tak minta operasi jadi putih. Ini Sangat beda dengan manusia yang suka mengeluh.
Jika kuda mampu berterima kasih kepada tuannya yang melatih, merawat dan memberi makan, mestinya manusia lebih bisa berterima kasih. Ya, sewajarnya manusia bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah memberinya begitu banyak rezeki dan nikmat.
Jika kuda mampu memberikan loyalitas dan ketaatan penuh kepada Tuannya, mestinya manusia lebih mampu memberikan loyalitas dan ketaatannya kepada Allah SWT. Bahkan ada istilah kacamata kuda. Maka semestinya manusia lebih mampu memberikan loyalitas dan ketaatan hanya kepada Allah SWT saja.
Apa saja yang diperintahkan Allah maka harus dijalankan dengan tanpa Tapi. Fungsi akal manusia adalah untuk berfikir dan mencari cara terbaik untuk melaksanakan perintah Allah. Bukan untuk mencari 1001 alasan untuk menghindari perintah dan tidak mejalankan perintah Allah.
Jika saja kita gunakan akal untuk mematuhi perintah Allah, akan ada 1001 jalan untuk melaksanakan perintah Allah itu. Maka tak perlu ada pernyataan konstitusi di atas kitab suci.
Yang terpenting kini bagaimana bisa menjalankan segala perintah Allah yang tertuang dalam kitab suci itu. Maka manusia waras akan terus berfikir agar konstitusi tunduk dan patuh dengan perintah Allah dalam kitab suci. Bukan sebaliknya. Semoga Allah jaga negeri ini dari tangan-tangan jahat yang akan merusak negeri ini dan mengajak membangkan kepada Allah…
NB; Penulis pernah belajar pemerintahan di STPDN angkatan ke-04 dan IIP Jakarta angkatan ke-29 serta MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

No comments:
Post a Comment