Penulis : Arista Indriani
(Praktisi Pendidikan)
Kepala Kementerian Agama Kabupaten
Tulungagung, Drs H Ngudiono, M.Ag, MM, melalui Kasi Bimbingan Masyarakat
(Bimas) Islam H Supriono, S.Sos, MM, menyatakan terkait Kursus Calon Pengantin
(Suscatin) yang merupakan program unggulan dari Kementerian Agama (Kemenag)
Kabupaten Tulungagung. Program ini bertujuan untuk peningkatan kualitas sumber
daya manusia, calon pengantin setelah menjalani pendidikan akan mendapatkan
sertifikat, dan diharapkan mampu menekan angka perceraian di Tulungagung
(koranpagi.net, 7/1/2020)
"Tahun 2020 ini pada saat musim
manten, kursus calon pengantin kita adakan sesuai aturan, sebanyak 25 pasangan
melakukan sosialisasi (pembinaan). Kegiatan ini sudah kita koordinasikan dengan
masing-masing KUA. Kedepan penyelenggara Suscatin akan diswastakan, karena
sudah mendapat ijin operasi dari Kemenag. Kemenag hanya sebagai penjamin
mutunya serta mengaudit adanya kegiatan di lembaga swasta tadi," jelasnya.
Melalui Suscatin tentu bagi pasangan
muda, ada harapan besar akan ada peningkatan ilmu pengetahuan, menambah wawasan
sekaligus meningkatkan kualitas dan potensi masing-masing. Begitu pula harapan
yang disampaikan Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, prosesi pernikahan
yang berlangsung setelah mengikuti Suscatin, nantinya diharapkan akan lebih
baik dan menjadi keluarga Sakinah, Mawadah dan Rahmah.
Suscatin sendiri sudah ada yang berjalan
yaitu di Kankemenag Kota Kediri, pelaksanaan kursus selama dua hari dengan
waktu pertemuan selama 16 jam. Ini menyesuaikan materi yang akan diterima bagi
para calon pengantin, ada delapan materi dan tiap materi diberikan waktu selama
dua jam. Mulai pembekalan membangun landasan keluarga sakinah sehingga fondasi
keluarga menjadi kokoh.
Suscatin ini memang sangat diperlukan
karena memberikan ilmu-ilmu terkait berumah tangga. Namun, adanya program ini
menimbulkan beberapa tanda tanya.
Salah satunya berlawanan dengan adanya dispensasi nikah bagi calon pengantin
yang belum cukup umur. Biasanya pengajuan dispensasi nikah untuk calon
pengantin belum cukup umur yang hamil duluan.
Dalam sistem Kapitalisme saat ini
program Suscatin yang sebenarnya baik, dikhawatirkan bisa menjadi celah adanya
suap-menyuap di kalangan Kemenag. Bukan sesuatu yang tidak mungkin sertifikat
suscatin bisa didapatkan dengan menghalalkan segala cara karena calon pengantin
sudah terlanjur hamil.
Apalagi kedepannya nanti suscatin akan
diswastakan, padahal seharusnya suscatin bagian dari pelayanan yang harusnya
dilakukan oleh negara. Jika swasta yang mengambil alih peran pelaksanaannya.
Pertanyaan yang mengganjal adalah karena landasan dan dorongan apa? jadi
menimbulkan pertanyaan selanjutnya, apa mungkin suscatin bisa jadi bisnis baru?
Hingga harus menggaet swasta.
Seyogyanya, setiap muslim-muslimah yang sudah
baligh wajib mengetahui ilmu berumah tangga dalam Islam baik mendapatkan
sertifikat atau tidak. Masing-masing dipastikan paham kodrat dan tugas-tugas
yang harus dijalankan. Sehingga pernikahan barokah bisa terwujud.
Sejak usia balita hingga belia anak
sudah ditanamkan tata aturan pergaulan Islam. Agar tak sembarang kenalan, lalu
pacaran, dan berakhir dengan kehamilan tak diinginkan. Sayangnya, sistem
kehidupan sekuler menafikan agama mengatur kehidupan.
Dalam Islam, menyiapkan anak sejak usia
dini lebih penting dan utama. Agar mereka siap menerima tanggung jawab secara
mandiri saat mereka memasuki usia baligh. Bukan saat akan menikah semata.
Ketika sistem kehidupan Islam ini
diterapkan. pernikahan tak akan menimbulkan persoalan, sekalipun itu adalah
pernikahan dini. Karena anak-anak yang terdidik sejak dini dengan akidah Islam
akan memiliki kesadaran mengemban tanggung jawab dan mencegahnya berbuat
maksiat.
Maka, adanya suscatin saja sebenarnya
tidak cukup. Kursus hanya diadakan sekian hari tidak mungkin bisa memberikan
pemahaman yang utuh dan mendasar. Sebuah pernikahan butuh dibangun diatas
pondasi yang kokoh, bukan hanya pengetahuan saja. Seperti halnya siswa mau
ujian, menyiapkan belajar selama 2 hari untuk menjawab soal-soal ujian. Bisa
jadi siswa
akan mampu menjawab dengan baik, tapi apakah hal itu akan bertahan dan
mempengaruhi kehidupannya? Tidak, satu dua hari mungkin akan terlupakan.

No comments:
Post a Comment