Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Suscatin menjadi Program Unggulan Daerah, Potensi Bisnis Baru?

Thursday, January 23, 2020 | Thursday, January 23, 2020 WIB Last Updated 2020-01-22T23:20:41Z
Penulis : Arista Indriani 
(Praktisi Pendidikan)

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, Drs H Ngudiono, M.Ag, MM, melalui Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam H Supriono, S.Sos, MM, menyatakan terkait Kursus Calon Pengantin (Suscatin) yang merupakan program unggulan dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tulungagung. Program ini bertujuan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, calon pengantin setelah menjalani pendidikan akan mendapatkan sertifikat, dan diharapkan mampu menekan angka perceraian di Tulungagung (koranpagi.net, 7/1/2020)

"Tahun 2020 ini pada saat musim manten, kursus calon pengantin kita adakan sesuai aturan, sebanyak 25 pasangan melakukan sosialisasi (pembinaan). Kegiatan ini sudah kita koordinasikan dengan masing-masing KUA. Kedepan penyelenggara Suscatin akan diswastakan, karena sudah mendapat ijin operasi dari Kemenag. Kemenag hanya sebagai penjamin mutunya serta mengaudit adanya kegiatan di lembaga swasta tadi," jelasnya.

Melalui Suscatin tentu bagi pasangan muda, ada harapan besar akan ada peningkatan ilmu pengetahuan, menambah wawasan sekaligus meningkatkan kualitas dan potensi masing-masing. Begitu pula harapan yang disampaikan Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung, prosesi pernikahan yang berlangsung setelah mengikuti Suscatin, nantinya diharapkan akan lebih baik dan menjadi keluarga Sakinah, Mawadah dan Rahmah.

Suscatin sendiri sudah ada yang berjalan yaitu di Kankemenag Kota Kediri, pelaksanaan kursus selama dua hari dengan waktu pertemuan selama 16 jam. Ini menyesuaikan materi yang akan diterima bagi para calon pengantin, ada delapan materi dan tiap materi diberikan waktu selama dua jam. Mulai pembekalan membangun landasan keluarga sakinah sehingga fondasi keluarga menjadi kokoh.

Suscatin ini memang sangat diperlukan karena memberikan ilmu-ilmu terkait berumah tangga. Namun, adanya program ini menimbulkan beberapa tanda tanya. Salah satunya berlawanan dengan adanya dispensasi nikah bagi calon pengantin yang belum cukup umur. Biasanya pengajuan dispensasi nikah untuk calon pengantin belum cukup umur yang hamil duluan.

Dalam sistem Kapitalisme saat ini program Suscatin yang sebenarnya baik, dikhawatirkan bisa menjadi celah adanya suap-menyuap di kalangan Kemenag. Bukan sesuatu yang tidak mungkin sertifikat suscatin bisa didapatkan dengan menghalalkan segala cara karena calon pengantin sudah terlanjur hamil.

Apalagi kedepannya nanti suscatin akan diswastakan, padahal seharusnya suscatin bagian dari pelayanan yang harusnya dilakukan oleh negara. Jika swasta yang mengambil alih peran pelaksanaannya. Pertanyaan yang mengganjal adalah karena landasan dan dorongan apa? jadi menimbulkan pertanyaan selanjutnya, apa mungkin suscatin bisa jadi bisnis baru? Hingga harus menggaet swasta.  

Seyogyanya, setiap muslim-muslimah yang sudah baligh wajib mengetahui ilmu berumah tangga dalam Islam baik mendapatkan sertifikat atau tidak. Masing-masing dipastikan paham kodrat dan tugas-tugas yang harus dijalankan. Sehingga pernikahan barokah bisa terwujud.

Sejak usia balita hingga belia anak sudah ditanamkan tata aturan pergaulan Islam. Agar tak sembarang kenalan, lalu pacaran, dan berakhir dengan kehamilan tak diinginkan. Sayangnya, sistem kehidupan sekuler menafikan agama mengatur kehidupan.

Dalam Islam, menyiapkan anak sejak usia dini lebih penting dan utama. Agar mereka siap menerima tanggung jawab secara mandiri saat mereka memasuki usia baligh. Bukan saat akan menikah semata.

Ketika sistem kehidupan Islam ini diterapkan. pernikahan tak akan menimbulkan persoalan, sekalipun itu adalah pernikahan dini. Karena anak-anak yang terdidik sejak dini dengan akidah Islam akan memiliki kesadaran mengemban tanggung jawab dan mencegahnya berbuat maksiat.

Maka, adanya suscatin saja sebenarnya tidak cukup. Kursus hanya diadakan sekian hari tidak mungkin bisa memberikan pemahaman yang utuh dan mendasar. Sebuah pernikahan butuh dibangun diatas pondasi yang kokoh, bukan hanya pengetahuan saja. Seperti halnya siswa mau ujian, menyiapkan belajar selama 2 hari untuk menjawab soal-soal ujian. Bisa jadi siswa akan mampu menjawab dengan baik, tapi apakah hal itu akan bertahan dan mempengaruhi kehidupannya? Tidak, satu dua hari mungkin akan terlupakan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update