Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Berjilbablah Sebelum Kau Dijilbabi

Thursday, January 23, 2020 | Thursday, January 23, 2020 WIB Last Updated 2020-01-23T11:26:45Z

Oleh : Etti Budiyanti
Member Akademi Menulis Kreatif dan Komunitas Muslimah Rindu Jannah

Beberapa tahun belakangan, kaum liberal semakin berani saja menyampaikan provokasi-provokasi di hadapan publik, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. 

Entah apa maksud mereka. Menyebarkan paham yang aneh-aneh melalui beragam model propaganda. Yang jelas umat tidak diuntungkan oleh keberadaan mereka. Awalnya, mereka menyebutkan motif  perbuatannya adalah untuk menyegarkan pemahaman umat, tetapi semakin lama mereka semakin berani melawan sendi-sendi ajaran Islam.

Model yang mereka pakai dalam merusak dan meracuni nalar umat adalah “kalimah haqq urida bihal bathil” (kata-kata yang disebar seolah berisi kebenaran, padahal isi dan targetnya adalah kebatilan).

Contohnya pernyataan mereka terkait jilbab. "Lebih baik tidak pakai jilbab, tapi hatinya baik, daripada pakai jilbab tapi hatinya busuk.”

Kalimat ini bertujuan untuk membenarkan pelepasan jilbab dengan “dalih” yang penting hatinya baik. Padahal, berjilbab adalah kewajiban agama (berdasarkan pendapat banyak ulama), baik si pemakai berhati baik maupun buruk, maka jilbab tetap wajib dikenakan oleh para wanita muslimah sesuai dengan ketentuan syariat. 

Jilbab justru juga termasuk obat hati yang akan ikut merangsang penyembuhan penyakit hati, sekaligus identitas muslimah yang jadi benteng dari segala gangguan. Karenanya, lebih baik pakai jilbab dan berhati baik, daripada berhati baik tanpa jilbab, apalagi berhati busuk tanpa jilbab.

Senada dengan kaum liberal adalah pernyataan dari istri  Presiden ke-4 RI Gus Dur yaitu Sinta Nuriyah. Beliau menyampaikan sambutan pada peringatan Haul ke-10 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta, Sabtu malam, 28 Desember 2019. 

Dilansir oleh TEMPO.CO, Jakarta, 16/01/2020, Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. "Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yang keras seperti kayu, kalau jilbab bahan-bahan yang tipis seperti kain untuk menutup," kata Sinta di YouTube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020.

Ia mengakui bahwa setiap muslimah tidak wajib untuk mengenakan jilbab karena memang begitu adanya yang tertulis di Al-Qur'an jika memaknainya dengan tepat. "Enggak juga (semua muslimah harus memakai jilbab), kalau kita mengartikan ayat dalam Al-Qur'an itu secara benar," kata Sinta. 

Selama ini ia berusaha mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an secara kontekstual bukan tekstual. Sinta juga mengakui bahwa kaum muslim banyak yang keliru mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an karena sudah melewati banyak terjemahan dari berbagai pihak yang mungkin saja memiliki kepentingan pribadi.

"Dipengaruhi oleh adat budaya setempat, cara berpikir dia juga itu memengaruhi pemahaman terhadap ayat-ayat agama yang bukan menjadi bahasanya, yang sama bahasanya pun bisa salah juga mengartikannya," kata Sinta.

Anaknya, Inayah Wahid yang berada di sebelahnya pun setuju dengan pendapat Sinta. Menurut dia, penafsir memang harus memiliki berbagai persyaratan untuk mengartikan ayat-ayat Al-Qur'an. "Enggak boleh orang menafsirkan dengan sembarangan," kata Inayah.

Benarkah jilbab tidak wajib? Benarkah jilbab hanya budaya Arab?  Tidak cocok dipakai oleh wanita Nusantara yang seharusnya berkebaya, bersanggul yang merupakan pakaian adatnya? 

Bukan tidak mungkin masyarakat awam bertanya seperti ini,  seiring pernyataan kontroversial dari istri mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah tersebut. 

Pandangan Islam tentang Jilbab

Bersyukur sekali, ketika Allah menciptakan manusia, dilengkapi pula dengan  berbagai aturan demi kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.   Sejatinya, hak menentukan hukum itu adalah hak Allah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surat Yusuf: 40 yang artinya:

"... Keputusan itu adalah milik Allah ..

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Semua urusan kehidupan sudah diatur oleh Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan. Bagaimana hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri serta hubungan manusia dengan sesamanya sudah diatur. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri antara lain menyangkut pakaian. 

Allah sudah mengatur terkait dengan pakaian dalam surat An-Nur 31 yang artinya: 

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

Begitu pula dalam Surat al-Ahzab 59, yang artinya: 
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Rasulullah ﷺ bersabda : "Aurat wanita seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan" (HR. Abu Dawud, no. 3580).

Dua firman Allah Swt. dan Hadist Rasulullah ﷺ di atas tentunya sudah sangat cukup untuk menjelaskan bahwasanya menutup aurat itu kewajiban setiap muslimah yang sudah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya,  dan jelas pula batasan-batasan aurat bagi setiap perempuan muslim dan ini sudah dilaksanakan sejak zaman Rasulullah ﷺ.

Perintah menutup aurat bagi perempuan adalah suatu kewajiban yang tak bisa ditolak lagi, karena sudah jelas perintahnya dalam Al-Qur'an maupun As Sunnah tanpa harus ditafsirkan lagi.
Namun, inilah kenyataan ketika sistem yang dianut adalah sistem yang memberikan kebebasan dalam segala hal termasuk berpendapat, walaupun pendapat tersebut salah kaprah dan sangat membahayakan akidah umat Islam namun tak ada pelarangan atau tindakan yang dilakukan pemerintah.

Padahal pendapat tersebut bisa memecah belah umat dan menyesatkan, akan timbul perbedaan di masyarakat yang seharusnya hal tersebut bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.

Negara dengan sistem demokrasi kapitalis sekuler memanfaatkan orang-orang muslim yang liberal untuk memengaruhi umat agar tidak memahami Islam yang menyeluruh. Tentu ini upaya-upaya kaum kafir agar umat tidak memahami Islam yang sesungguhnya, dengan begitu mereka tak akan tergerak untuk menerapkan Islam kafah.

Selama kaum muslim tak memiliki junah atau perisai,  selama itu pula umat akan dengan mudahnya terpengaruhi oleh pemikiran- pemikiran kaum sekuler liberal yang menyesatkan. Maka di sinilah urgensinya umat Islam mempunyai satu kepemimpinan yang akan melindungi akidah umat dari pemahaman-pemahaman kaum kafir yang ingin mencegah umat dari penerapan Islam kafah.

Alhasil, hanya dengan tegaknya Daulah Khilafah semua itu akan terwujud dimana hukum-hukum Allah Swt. tak akan dengan mudahnya ditafsirkan tanpa pemahaman yang kuat akan ilmu-ilmu Islam. Seperti dalam kasus jilbab ini. Sungguh layak untuk berkata, "Berjilbablah sebelum kau dijilbabi."

Wallahu a'lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update