Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Melanda, Islam Punya Solusinya

Sunday, January 05, 2020 | Sunday, January 05, 2020 WIB Last Updated 2020-01-05T13:46:31Z
Oleh: Mukarramah, S.Pd 
(Pendidik di SDIT Insantama Banjarbaru Kalsel)


Mencengangkan. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Agus Wibowo menyebut terdapat 16 orang yang terenggut saat musibah banjir terjadi di awal tahun baru. Para korban tersebar di daerah Jabodetabek.

“Data yang berhasil BNPB kumpulkan terdapat 16 orang meninggal.” Ucap Agus Wibowo di Kantor BNPB, Kamis (2/1/2020).

Salah satu penyebab utama banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya adalah hujan yang ekstrim. Curah hujan tinggi telah melanda Jakarta pada Rabu (1/1/2020) lalu.
BMKG bahkan memperkirakan bahwa hujan akan terus turun hingga satu minggu ke depan. 

Selain curah hujan yang tinggi, salah satu penyebab banjir Jakarta karena normalisasi kali Ciliwung yang belum tuntas. Dari total panjang kali 33 kilometer baru sekitar 16 kilometer yang dilakukan normalisasi. Rupanya kendala dari proses normalisasi ini diakibatkan oleh faktor sempitnya lahan. Pasalnya banyak rumah warga yang berada tepat di palung sungai.

Kemudian, kurangnya Ruang Terbuka Hijau atau RTH membuat Kawasan resapan air berkurang sehingga menyebabkan banjir. Tak hanya itu, pembangunan Gedung dan hotel-hotel di wilayah Jakarta menyebabkan penggunaan air tanah secara berlebihan.

Berdasarkan informasi yang berhasil didapatkan Jakarta mengalami penurunan muka tanah sebanyak 5-12 cm pertahun. Kondisi ini membuat potensi banjir semakin besar.

Kalau kita mengacu kepada Al-Quran bahwa Allah sudah memberitahukan di dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Dalam ayat tersebut, Allah menyatakan bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia itu sendiri. 

Ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat adalah inti kerusakan yang sebenarnya. Yakni merupakan sumber utama kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi.

Para kapitalis dengan modal besarnya mampu menguasai lahan untuk keuntungan mereka tanpa memperhatikan akibatnya. Misalnya, pembangunan perumahan di daerah persawahan dan rawa, pengerukan besar-besaran Sumber Daya Alam (SDA). Utang riba yang meroket dan zina yang semakin merajalela, juga kemaksiatan lainnya yang tak kunjung mereda.

Allah berfirman, “jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raf: 96).

Negara Islam memiliki kebijakan canggih dan efisien. Kebijakan tersebut mencakup sebelum, ketika, dan pasca banjir.

Pertama, pada kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan hujan. Baik akibat hujan, gletsyer, rob, dan lain sebagainya. Maka, harus dibangun bendungan-bendungan yang mampu menampung curahan air dari aliran sungai, curah hujan, dan lain sebagainya.

Di masa keemasan Islam, bendungan-bendungan dengan berbagai macam tipe telah dibangun untuk mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi. Di Provinsi Khuzestan, daerah Iran Selatan misalnya, masih berdiri dengan kokoh bendungan-bendungan yang dibangun untuk kepentingan irigasi dan pencegahan banjir.

Memetakan daerah-daerah yang rawan terkena genangan air. Selanjutnya membuat kebijakan melarang masyarakat membangun pemukiman di wilayah-wilayah tersebut. Jika ada pendanaan yang cukup, akan dibangun kanal-kanal baru atau resapan agar air yang mengalir di daerah tersebut bisa dialihkan alirannya, atau bisa diserap oleh tanah secara maksimal.

Selain itu juga membangun sumur-sumur resapan di Kawasan tertentu. Sumur-sumur ini, selain untuk resapan, juga digunakan untuk tandon air yang sewaktu-waktu bisa digunakan, terutama jika musim kemarau atau paceklik air.

Kedua, membuat kebijakan tentang master plan. Dalam kebijakan pembukaan pemukiman atau kawasan baru, harus menyertakan variable-variabel drainase. Penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topgrafinya. Dengan kebijakan ini, negara mampu mencegah kemungkinan terjadinya banjir atau genangan.

Ketiga, dalam menangani korban-korban bencana alam, negara akan segera bertindak cepat dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana. Menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak. Agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. 

Selain itu, mengerahkan para ulama untuk memberikan tausiyah bagi korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa mereka. Sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah. 

Pada masa kejayaan Islam, Khilafah mampu menghasilkan insinyur yang mampu menangani masalah banjir.

Insinyur Al-Fargani (abad 9 M) telah membangun alat yang disebut millimeter untuk mengukur dan mencatat tinggi air sungai Nil di berbagai tempat. Setelah bertahun-tahun mengukur, Al-Fargani berhasil memprediksi banjir sungai Nil. Al-Fargani berhasil memprediksi banjir sungai Nil baik jangka pendek atau jangka panjang.

Peradaban Islam memiliki jasa yang tidak ternilai dalam mengendalikan debit air. Abu Raihan al-Biruni (973-1048) mengembangkan  teknik untuk mengukur beda tinggi antara gunung dan lembah guna merencanakan irigasi. Abu Zaid Abdi Rahman bin Muhammad bin Khaldun Al-Hadrami menuliskan dalam kitab monumental tentang “mukaddimah” suatu bab khusus tentang berbagai aspek geografi iklim.

Begitulah Islam mengatasi banjir dan kebijakan Khilafah Islamiyyah dalam menangani permasalahan yang terjadi. Semua dilakukan secara totalitas dan rasional berdasarkan nash dan hukum syara. 

Wallahu a’lam bisshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update