
Oleh
: Syarifah
(Forum Pena Dakwah Maros)
Dilansir
dari berita RMOL.ID “Jakarta dilanda hujan deras sejak Selasa sore (31/1)
hingga Rabu pagi (1/1). Akibatnya, hampir seluruh wilayah Ibu kota lumpuh
karena terendam banjir. Tercatat ada 63 titik banjir yang menyebar di kawasan
Jakarta.
Gubernur
DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan, berdasarkan laporan dari Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan yang turun di momen
pergantian tahun ini adalah yang paling ekstrem selama kurun waktu 24 tahun
terakhir.” Jumat, 03 Januari 2020
Berdasarkan
fakta yang ada, musibah banjir bukanlah hal yang pertama kali terjadi melainkan
problem tahunan di negeri ini. Diawal tahun 2020 kemarin kita disuguhi dengan adanya
musibah banjir yang melanda. Yang menelan korban sebanyak 30 orang. Seperti di
lansir dalam berita RMOL.ID “Badan Nasional
Penanggulan Bencana (BNPB) merilis data terbaru sampai dengan Kamis (2/1) pukul
21.00 WIB jumlah korban meninggal akibat banjir di kawasan Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) sebanyak 30 orang.” Jumat,
03 Januari 2020
Musibah
yang terjadi juga adalah bagian dari ujian. Tentunya umat muslim harus
menyikapinya dengan sabar serta ridho dengan qadha (ketentuan) yang Allah
berikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 155, “Sungguh kami
akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga dengan
berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang sabar”.
Dengan
kesempurnaan penciptaan Allah terhadap manusia yang dibekali dengan akal,
tentunya menggunakan akalnya untuk menyikapi berbagai musibah yang terjadi
dengan sabar. Karena tak satupun yang bisa menolak ketentuan Allah tersebut.
Selain
itu musibah juga akan menjadi penggugur dosa bagi orang yang beriman ketika
menyikapi peristiwa tersebut dengan ridho. Karena bahkan hanya sekedar tertusuk
duripun maka akan menjadi penghapus dosa bagi kaum muslim.
Kemudian
tentunya musibah ini bukan hanya sekedar bencana alam biasa melainkan terjadi
karena akibat dosa dan kemaksiatan serta keserakahan manusia-manusia hari ini
yang tak memperhatikan lingkungannya. Banyaknya orang-orang yang melakukan
penebangan pohon secara liar, penggundulan hutang, kebiasaan membuang sampah
sembarangan, dll.
Selain
karena factor alam, akibat perbuatan dosa serta kemaksiatan yang dilakukan
manusia juga merupakan factor penyebab terjadinya berbagai musibah. Karena
Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum [30]: 41, “Telah tampak kerusakan didaratan
dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah
menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu
agar mereka kembali (ke jalan-Nya).”
Ayat
ini mengingatkan kepada manusia bahwa jadikan Al-Quran dengan As-Sunnah sebagai
landasan kehidupan kita, bukan malah mengabaikan aturan yang telah Allah
tetapkan dalam islam. Musibah terjadi dimana-mana akibat ulah manusia itu
sendiri. Penyimpangan yang dilakukan oleh manusia saat ini. Lebih mirisnya lagi
karena penguasa pun abai terhadap bencana yang terjadi. Jauh hari telah
diingatkan oleh BMKG bahwa akan terjadi cuaca ekstrem tetapi tidak menghiraukan
informasi tersebut.
Buruknya
kesiapan pemerintah juga tampak dari evakuasi korban yang lambat dan kondisi
pengungsian yang jauh dari sebutan manusiawi. Yang menyakitkan lagi, dalam
kondisi jutaan orang butuh bantuan segera rezim berkuasa justru saling tuding
dan menyalahkan.
Harusnya
penguasa memikirkan bagaimana pencegahan dan penanggulangan saat terjadi banjir.
Focus untuk meri’ayah (melayani) umat, karena merekalah selaku penguasa.
Namun
pelayanan yang totalitas hanya bisa didapatkan ketika berada dalam naungan
system islam yang dimana dipimpin oleh seorang khalifah yang betul-betul
bermaksimal melayani umat dengan ikhlas. Sadar terhadap amanah yang diembannya,
karena al-qur’an dengan as-sunnah yang menjadi landasan hidup.
Wallahu
a’lam bishowwab.
No comments:
Post a Comment