Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

2020, Menatap Harap Khilafah

Thursday, January 16, 2020 | January 16, 2020 WIB Last Updated 2020-01-16T12:56:29Z
Oleh : Ammylia Rostikasari, S.S. 
(Komunitas Penulis Bela Islam)

Riuh rendah bincang khilafah semakin mendengung di telinga. Dari versi menyudutkan, pun dari sisi murni yang mengetahui bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran Islam yang akan membawa perubahan hakiki bagi segenap umat.

Pernah dilansir oleh National Intelligence Council's (NIC) pada Desember 2004 mengenai laporan berjudul, “Mapping the Global Future". Dalam laporan tersebut dirincikan beberapa prediksi skenario dunia tahun 2020. Uraiannya adalah sebagai berikut.

Pertama, Davod World. Digambarkan bahwa 15 tahun ke depan akan menjadi pemain penting ekonomi dan politik dunia. Ini benar telah terwujud. Cina telah melakukan ekspansi begitu jor-joran ke penjuru dunia sampai-sampai membuat Amerika gelagapan.

Kedua, Pax Americana. Dunia masih dipimpin oleh Amerika Serikat dengan Pax Americana-nya. Ini pun terwujud bahkan dalam pencapaiannya diwarnai dengan berbagai penindasan negeri-negeri Kaum Muslim di Timur Tengah seperti Libya, Lebanon, Suriah dan Palestina.

Ketiga, A New Chaliphate: Berdirinya kembali khilafah Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global Barat.

Keempat, Cycle of Fear: Munculnya lingkaran ketakutan.
Beberapa prediksi yang telah dibuar pada 16 tahun yang lalu, satu persatu memang dapat dibuktikan faktanya. Begitu pun mengenai skenario kembalinya khilafah. Bukan tanpa sebab, khilafah yang merupakan janji Allah dan Rasul-Nya menjadi opini hangat yang jadi perbincangan umat. Khilafah pun menjadi konsep yang ditakuti Barat. Sehingga mereka tak henti membuat makar untuk mencitra-burukkan konsep khilafah.

Bila dikaji kembali secara mendalam, 2020 menjadi momentum tepat untuk menunjukkan kepada umat bahwa Dunia Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat kini sedang ada dalam keguncangan. Krisis ekonomi melanda mereka, sementara Cina tengah menjadi pesaingnya dari Timur.
Dari sudut lain pun, gejolak umat Islam yang mendamba perubahan tak mampu untuk dibendung. Lambat laun Islam menampilkan dirinya yang sejati sebagai solusi hakiki dari berbagai kepelikan yang dirasa. Gelombang hijrah semakin gencar terlaksana. Umat semakin sadar dan peka bahwa hidup di bawah bayang-bayang aturan manusia (baca kapitalisme sekularisme) hanya terus membuat terbenam dalam pusara sengsara. Umat butuh perubahan, umat butuh pencerahan dengan Islam.

Tentu bukan tanpa alasan, pertama dunia dan umat darurat sistem global nan universal yang mampu menjamin kesejahteraan, keadilan, juga persatuan global. Sebuah sistem yang ditopang ideologi Islam yang konstruktif dan membawa kemaslahatan luas bagi umat. Bukan ideologi kapitalisme-sekularisme yang sejatinya menjauhkan manusia dari fitrahnya, destruktif dalam multidimensi dan menyeret manusia setahap demi setahap pada kekarut-marutan.

Kedua, dunia darurat diterapkannya sistem kenegaraan yang mampu mengayomi kehidupan umat secara utuh tanpa sekat. Sebuah kepemimpinan di bawah negara global yang tak kenal batas teritorial seperti halnya negara bangsa. Sehingga khilafahlah yang mampu menjadi solusinya. 

Oleh sebab itu, tak ada harapan lain di 2020 selain memperjuangkan agar khilafah seperti metode kenabian agar segera terwujud.

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796).
×
Berita Terbaru Update