Oleh : Ummu Bisyarah
Monas hari ini menjadi saksi berkumpulnya jutaan umat muslim yang tengah dalam kerinduan dengan persatuan dalam reuni akbar 212. Sejak pagi buta jamaah telah berkumpul, melaksanakan sholah sunnah tahajud dimana doa bagai anak panah yang tak akan meleset dan ketika Allah turun ke langit dunia. Betapa bahagia penduduk langit yang melihatnya, melihat jutaan umat yang dirundung nostalgia.
Pukul 03.00 hingga 08.30 WIB umat muslim akan sholat berjamaah, berdzikir dan bermunajat kepada Allah SWT, diiringi jamaah yang terus berdatangan dari penjuru kota di Indonesia. Bermunajat agar tak ada lagi penistaan terhadap agama Islam atau terhadap baginda tercinta Rosulullah SAW. Lebih dari itu harapan besar umat yakni terwujudnya persatuan umat yang hakiki, dalam naungan islam kaffah yang kan menjadikan negeri ini Baldatun Toyyibatun wa Robbul Ghofuur.
Untuk kesekian kalinya umat Islam menunjukkan jati diri mereka sebagai umat yang satu. Umat yang memiliki akidah yang sama, akidah Islam. Walaupun berbeda organisasinya dan tak sama madzhabnya, tetapi mereka bisa bersatu dalam gerak yang sama.
Selanjutnya, kita cermati spirit aksi 212 adalah spirit kembali ke jalan Allah. Maka sudah sepatutnya kaum Muslim membuang jauh-jauh sekularisme. Mengapa? Sebab, sekularisme justru menjauhkan diri manusia dari kedudukannya sebagai seorang hamba Allah. Bahkan sekularisme menempatkan manusia sejajar dengan Tuhan.
Pasalnya, sekularisme pada dasarnya adalah akidah yang hanya mengakui Tuhan dari sisi eksistensi (keberadaan)-Nya saja, tidak mengakui otoritas (kewenangan)-Nya untuk mengatur manusia. Dengan kata lain, sekularisme hanya mengakui keberadaan agama, tetapi menolak kewenangan agama untuk mengatur kehidupan. Dalam pandangan sekularisme, hak mengatur manusia atau hak membuat aturan bagi kehidupan manusia mutlak ada pada manusia itu sendiri, bukan pada Tuhan/agama. Hak ini kemudian mereka wujudkan dalam demokrasi, yang menempatkan kedaulatan manusia (kedaulatan rakyat) di atas kedaulatan Tuhan.
Dari sini lah lahir ideologi kapitalisme, yang sekarang diterapkan hampir di seluruh dunia, juga di Indonesia. Padahal jelas ketika manusia yang membuat aturan pastilah didasarkan pada hawa nafsunya dan kepentingan pribadinya. Hal ini melahirkan ekses negatif, kerusakan dan kekacauan dimana - mana. Lihat saja fakta yang terjadi di negeri yang kaya ini.Dilansir dari bps.go.id jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,14 juta orang dengan Rasio Gini sebesar 0,389.
Tak hanya kemiskinan, gizi buruk, kenaikan harga - harga pokok, pengengguran, narkoba, seks bebas, dan segudang masalah lain menjangkiti Indonesia bagai penyakit kronis yang susah diobati.
Begitulah jika aturan manusia diterapkan. Kerusakan dimana - mana tak terbantahkan.
Allâh Jalla Jalaluhu berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat)[1] manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) [ar-Rûm/30:41]
Jalan yang benar yang dimaksud dalam ayat diatas adalah aturan Allah sang pembuat manusia, yakni dengan mengatur segala urusan manusia dengan islam secara kaffah ( menyeluruh)
Maka momentum 212 ini dengan spirit persatuan ummat kembali ke jalan Allah sudah sepantasnya umat muslim bersatu menegakkan agama mereka, tak memandang harokah, ras ataupun suku. Karena kita satu aqidah yakni Islam.
