Oleh : Hj. Yeni
Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang baru sudah selesai dilaksanakan tanpa ada hambatan dan gangguan, begitu juga pelantikan mentri sudah selesai digelar, tidak ada lagi yang harap cemas dari elit politik karena sudah pasti siapa yang terpilih siapa yang tersingkir. Yang ada hanya kekecewaan dari yang tersingkir dan kebahagiaan dari yang terpilih baik yang baru maupun yang lama. Kebahagian terpancar dari mereka yang yang terpilih, dengan gagah dan sumringah mereka melangkah menuju istana. Perjuangan mereka menuju kursi kekuasaan tidak sia sia walau harus mengorbankan rasa idealisme, halal haram, baik buruk, benar dan salah bahkan tak peduli harus mengorbankan kepentingan rakyat banyak demi kekuasaan dan jabatan, yang tadinya lawan bisa jadi kawan demi mencapai semua itu.
Kepemimpinan adalah amanah. Siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak. Rasulullah saw bersabda :“ Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya (HR.Al-Bukhari dan Muslim). Rasuluulah juga bersabda :” Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia menelantarkan urusan mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya “ (HR.al-Bukhari dan Muslim).
Hadist diatas merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk mengurusi urusan kaum muslimin baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Tidak menjelaskan urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari kesuciannya, mengubah makna ayat ayat Allah dan mengabaikan hudud (hukum-hukum Allah) dan juga mengabaikan hak –hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakan keadilan ditengah-tengah mereka, siapa saja yang melakukan hal ini dianggap telah berkhianat kepada umat.
Generasi terdahulu sangat khawatir bahkan takut dengan amanah kekuasaan apalagi mereka sangat memahami Sabda nabi saw :” Kalian begitu berhasrat atas kekuasaan, sementara kekuasan akan berubah menjadi penyesalan dan kehinaan di akherat kelak" (HR. Nasa’I dan Ahmad). Tetapi pada generasi sekarang peringatan ini justru dipraktekkan dengan sangat sempurna, mereka sangat bernafsu dengan kekuasaan dan jabatan.
Islam tidak melarang siapapun untuk berkuasa. Islam pun memandang wajar terjadinya pergolakan yang menyertai prosesnya, tapi bagaimana cara mendapatkan kekuasaan itu dan dalam kerangka apa kekuasaan itu diraih?
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, umar dicalonkan untuk menggantikan kepemimipinan beliau yang sudah sakit – sakitan. Dari segala segi Umarlah yang palinng pantas untuk menjadi Khalifah, tapi bukannya gembira Umar malah menentang keras pencalonannya, karena Umar sangat paham dan menyadari jabatan bukanlah lahan empuk untuk mencari ketenaran, kekuasaan dan harta, kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkannya kepada Allah SWT diakherat kelak, dengan kata lain jabatan adalah beban yang apabila tidak ditunaikan dengan sebaik baiknya, akan membawa kepada kehinaan dan penyesalan (hizyun wa nadamah).
Pada akhirnya sejarah mencatat Umar menjadi khalifah menggatikan Abu Bakar ash-shiddiq. Umar menjalankan kepemimpinan dengan begitu baik. Ia mengerahkan segenap kemampuan, waktu dan tenaga untuk melaksanakan amanah itu. Ia melarang keluarga dan karib kerabatnya mengambil keuntungan dari jabatannya. Dalam kurun waktu yang tidak lama kepemimpinan beliau mencapai kemajuan yang luar biasa. Kemakmuran melingkupi seluruh negri. Keamanan ketentraman dan kedamaian dirasakan seluruh rakyat. Salah satu adikuasa pada waktu itu Persia berhasil ditaklukan sekaligus menandai kemunculan Islam sebagai adikuasa baru berdampingan dengan Romawi.
Umat Islam sekarang sangat merindukan kepemimpinan yang selalu bersikap adil. Tetapi pemimpin yang adil tidak mumgkin lahir dari rahim sistem Demokrasi Sekuler yang jauh dari tuntunan Islam. Pemimpin yang adil akan lahir dari sistem Islam yang diterapkan dalam institusi Pemerintahan Islam ( Khilafah).
Sejak Rasulullah saw diutus, tidak ada masyarakat yang bisa melahirkan para penguasa yang amanah dan adil kecuali dalam masyarakat yang menerapkan sistem Islam. Tidak kah kita merindukan kembali kehadiran sistem Islam ditengah-tengah kita yang bisa melahirkan para pemimpin yang adil dan amanah?
Wallahu'alam bisshawab
No comments:
Post a Comment