Mendamba Kesadaran Politik Pemuda

Oleh : Tawati 
(Muslimah Revowriter Majalengka)

Artis serba bisa yang saat ini terjun ke dunia politik Agustina Hermanto atau Tina Toon mengajak mahasiswa untuk melek dengan dunia politik. Dikutip Republika.co.id, "Anak muda harus melek dengan politik, jangan menjauhinya karena anak muda yang punya semangat juang tinggi," ujar Tina Toon, Ahad (6/10).

Dalam bahasa Arab politik berasal dari kata sasa-yasusu-siyasat[an] yang bermakna: dia mengurusi urusannya (ra'a syu'unahu). Adapun secara istilah politik berarti mengurusi urusan umat, di dalam dan di luar negeri, yang dilakukan oleh negara dan umat. Negara secara langsung mengatur urusan rakyatnya, sementara umat/rakyat melakukan koreksi dan kontrol.

Bagaimana Melakukan Analisis Politik?
Analisis politik adalah aktivitas mengurai berita dan peristiwa untuk diketahui hakikat sesungguhnya, termasuk mengetahui pihak dan target di baliknya. Orang yang melakukan hal ini disebut analis politik (muhallil siyasi). Adapun orang yang berkapasitas untuk memberikan pendapat terhadap sebuah peristiwa dari sudut pandang tertentu sesungguhnya telah meningkat ke level berikutnya, yakni menjadi seorang yang sadar politik (wa'iy siyasi).

Untuk menjadi wa'iy siyasi setidaknya ada beberapa hal yang wajib dimiliki.
1. Menguasai informasi politik.
Informasi ini mencakup informasi tentang negara nomor satu (ad-dawlah al-ûla) di Dunia, tentang negara-negara besar (ad-dawlah al-kubra) yang menjadi pesaing negara pertama dan terkait wilayah-wilayah yang berada di bawah hegemoni mereka.

Untuk menjadi wâ’iy siyasi juga dibutuhkan pengetahuan tentang negara-negara satelit (ad-dawlah al-latî tadûru fil-falak) dan negara-negara pengekor (ad-dawlah at-tâbi’ah aw al- ‘âmilah), termasuk informasi terkait negara-negara yang mereka ikuti serta sarana dan organisasi yang mereka jadikan sebagai alat.

Meski demikian, pada tahap awal, yang dibutuhkan hanyalah berupa informasi dasar (ma’lumât awaliyah) untuk diperkaya seiring dengan perjalanan waktu.

2. Monitoring berita dan peristiwa di dunia.
Pada tahap awal, seseorang perlu membaca seluruh berita, baik yang penting maupun tidak. Pada tahap berikutnya, seiring dengan kontinuitasnya dalam melakukan monitoring, ia pasti dapat membedakan antara berita penting dan tidak. Pada saat itu ia cukup mengetahui berita penting saja, yang dibutuhkan untuk melakukan kifâh siyâsi. Yang terpenting adalah kontiniutas. Pasalnya, berita-berita politik senantiasa berbentuk mata-rantai kejadian dan peristiwa. Bila rantainya terputus niscaya ia tidak mampu untuk menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain; satu berita dengan berita lainnya.

3. Mengkonfirmasi dan menelaah ulang setiap berita dan peristiwa secara sempurna.
Caranya dengan mengetahui sumber dan kebenaran berita. Bila diketahui berita yang didapat itu ternyata bohong, seorang wâ’i siyasiy harus mencari tahu tujuan dari penyebaran berita tersebut. Namun bila berita itu benar, ia wajib mengetahui konteks (adz-dzurûf wa al-wadh’) berita dan peristiwa itu. Penelaahan dan pemilihan ini tentu wajib dilakukan semaksimal mungkin sesuai dengan kadar kemampuan yang dia miliki. Dengan begitu ia terhindar dari kesalahan sekaligus penyesatan pihak lain. Oleh sebab itu, setiap berita wajib diketahui sumber, kebenaran, tujuan dan konteksnya.

4. Menghindari generalisasi.
Geneleralisasi merupakan sebab utama kesalahan dalam menilai sebuah peristiwa. Satu kejadian mungkin saja mirip dengan kejadian lain, dari segi waktu, tempat dan konteksnya; namun berbeda dari sisi pelaku atau pihak yang berkepentingan di balik itu. Oleh sebab itu, setiap kejadian tetap perlu dipilah dan ditelaah satu persatu.

5. Mengaitkan satu berita dengan berita dan informasi lain yang berkaitan.
Orang yang mengikuti perkembangan berita, namun tidak mengaitkan berita itu dengan informasi-informasi lain sama saja dengan orang yang tidak melakukan monitoring sama sekali. Bahkan ia telah menistakan diri dan umatnya. Sebab, ia hanya akan menilai peristiwa dan kejadian berdasarkan aspek luarnya saja. Akibatnya, ia tersesat bahkan menyesatkan orang lain.

Hal yang sama juga terjadi pada orang yang memiliki banyak informasi politik, namun tidak menggunakan itu dalam menganalis berita. Orang semacam ini tak akan pernah menjadi seorang politisi meskipun pengetahuannya semakin bertambah.

Tidak kalah penting dari itu, seorang analis harus berusaha menjauhkan dirinya dari subjektivitas pribadi, kelompok atau golongannya. Sebab, hal itu juga sering menjadi penyebab kesalahan dalam menilai.

6. Memberikan pendapat dengan sudut pandang tertentu.
Bagi politisi Muslim yang berjuang untuk membangkitkan umat Islam, sudut pandangnya adalah bagaimana mengungkap setiap rencana jahat negara-negara kafir dan setiap pengkhiatan para penguasa Muslim yang bekerja untuk kepentingan mereka. Dalam melakukan tugasnya itu, ia tidak boleh menjadikan opini umum dan kecenderungan masyarakat sebagai pertimbangan. Sebaliknya, ia wajib tetap kokoh dengan pandangannya meski harus menghadapi berbagai penentangan. Agen wajib dinyatakan sebagai agen meski di tengah masyarakat dikenal sebagai pejuang. Pengkhianat harus tegas dinyatakan sebagai pengkhianat meski ia termasuk sosok terhormat di masyarakat.

Selain itu, politisi sejati wajib menyampaikan pendapatnya bukan hanya di kalangan masyarakat awam, namun juga di kancah perpolitikan dalam lingkup yang lebih luas; di hadapan para penguasa, pimpinan parta politik dan kalangan berpengaruh lainnya; secara personal maupun melalui berbagai media dan sarana informasi masyarakat. Bila menghadapi pembungkaman, sebagaimana terjadi di beberapa negeri kaum Muslim, ia harus berusaha menyampaikan pandangannya secara personal atau melalui media yang dia miliki.

Keberadaan hal-hal di atas bisa dijangkau oleh kalangan manapun. Yang diperlukan hanyalah pengetahuan dasar lalu praktik, bukan pengetahuan yang luas mengenai hal-hal itu.

Demikianlah, wa'iy siyasi yang harus dimiliki umat Islam. Bila Barat memandang bahwa politik bagi mereka ibarat roti, yang menjadi menu wajib di pagi hari, maka bagi umat Islam politik adalah agama yang senantiasa mengalir bagaikan darah dalam urat nadi. Wallahua'lam bishshawab[].

Post a Comment

Previous Post Next Post