Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Paham Liberalisasi Nyasar Perguruan Tinggi Islam

Thursday, September 26, 2019 | September 26, 2019 WIB Last Updated 2019-09-26T04:09:08Z
Oleh : Asih Sri Wahyuni
Ibu rumah tangga dan pegiat dakwah


Beberapa pekan lalu  dua perguruan tinggi Islam di negeri ini menjadi sorotan publik. IAIN Kendari Sulawesi tenggara yang telah memberhentikan  Hikma Sanggala seorang mahasiswa yang tiba-tiba harus menerima kenyataan dirinya _drop out_ karena disangkakan telah terpapar ideologi radikal. Sungguh tudingan berat, Hikma Sanggala seorang mahasiswa yang dikenal saleh, kritis, bertanggungjawab, berprestasi dan sempat mendapat penghargaan sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi sefakultas itu, kini harus melepas status kemahasiswaanya. Ia dituduh sesat, dan radikal. 

Mirisnya, keputusan itu diambil tanpa tahapan proses klarifikasi dan pembuktian yang _fair_ serta tanpa definisi yang jelas tentang apa yang dimaksud radikal dan organisasi terlarang sebagaimana yang dituduhkan. Kemudian  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang telah meluluskan disertasi doktor Abdul Aziz yang mempromosikan hubungan seksual diluar nikah dan mendapat apresiasi dengan nilai yang sangat memuaskan.

Prestasi di sandangnya tidak lain karena dia berhasil membuktikan dalil bahwa hubungan seksual nonmarital yang dilakukan di privat dan dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak terkategori zina alias halal, sang calon doktor ini mendasarkan pendapatnya pada pemikiran Muhammad Syahrul, seorang hermeneutik dari universitas Damaskus yang menyatakan bahwa hukum milkul Yamin bisa diterapkan pada konteks saat ini.

Dan saat diwawancarai diberbagai media, berulangkali Aziz  menjelaskan, bahwa tujuannya mengambil topik ini adalah karena dirinya prihatin atas kriminalisasi yang diterima para pelaku  seks nonmarital.menurutnya, pelaku seks nonmarital tidak bisa dikriminalkan karena bukan zina dan justru harus mendapat perlindungan.

Bisa dibayangkan ketika zina di legalkan yang mungkin terjadi adalah munculnya generasi pemuja nafsu syahwat dan materi, yang puas dengan sekedar  menjadi kacung para kapitalis asing karena dengan kondisi ini, output pendidikan tinggi memang tidak lebih dari mesin- mesin pemutar industri kapitalisme.

Dari dua peristiwa ini ada  hal penting yang harus digaris bawahi, pertama,  perguruan tinggi yang berada dibawah kemenag RI tersebut telah menunjukkan sikap diskriminatif kepada Hikma, sebuah sikap yang tidak layak terjadi di seluruh perguruan tinggi, apalagi perguruan tinggi yang membawa label Islam. Kedua, lolosnya disertasi doktor Abdul Aziz yang mempromosikan zina dihadapan para dosen penguji itu  menunjukkan bahwa pemikiran liberalisme begitu kental di UIN sunan Kalijaga. Perhatikan disertasinya yang berjudul " konsep  Milk al Yamin Muhammad Syahrul sebagai keabsahan  Hubungan seksual nonmarital". Sangat jelas Aziz mengadopsi dan mendukung pemikiran  Muhammad Syahrul, dedengkot gerakan Islam liberal dari Suriah.

MUI pun turut merespon disertasi kontroversial tersebut. Melalui press- release MUI menyatakan bahwa pemikiran dalam disertasi Abdul itu bertentangan dengan Al-Qur'an dan as-sunah serta pendapat para ulama yang mu'tabar. Bahkan masuk dalam kategori pemikiran yang menyimpang yang harus ditolak dan dijauhi oleh umat Islam. Ketiga, tudingan pada Hikma  yang disebut menyebarkan paham radikalisme itu juga terindikasikan secara kuat bahwa penguasa IAIN Kendari telah terpapar paham liberalisme dan fobia Islam, sebab bukan rahasia umum lagi, senjata utama kelompok liberal untuk melawan kelompok Islam memang melalui isu radikalisme itu. Keempat, isu radikalisme sebenarnya merupakan isu global. Berbagai lembaga penting seperti perguruan tinggi, memang sedang diseret untuk menjadi bagian dari agenda _war on radicalism_ itu. Isu tersebut muncul bersamaan dengan isu terorisme. Keduanya sama-sama dimunculkan oleh Barat yang tujuannya sama yakni untuk melawan Islam dan kaum muslim. Amerika serikat di bawah pimpinan Donald Trump telah mengubah slogan _global on terorism_ menjadi _global war on radicalism._

Jadi perang melawan radikalisme itu merupakan proyek Barat untuk menjaga kepentingannya, yakni un tuk menguasai dunia dengan sistem kapitalisme dan sekulernya. Seperti yang direkomendasikan Rand Corporation tersebut mereka menggunakan tangan intelektual dan akademisi Muslim liberal di berbagai negara untuk menghadang gerakan Islam _kaffah,_ termasuk di Indonesia. Para intelektuanya menjadi pengokoh sistem kapitalis liberal. Sungguh benar apa yang digambarkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya,

_Dari Kaab bin Malik ra berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Dua  serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia di hadapan harta dan kedudukan yang sangat merusak agama."_

Sabda Nabi juga, _"Nyaris tiba saatnya banyak umat yang memperebutkan kalian, seperti orang- orang yang makan memperebutkan hidangan." Ada seseorang yang bertanya, "apakah jumlah kami sedikit pada hari itu?" Rasul menjawab, "Justru jumlah kalian banyak pada saat itu, tetapi seperti buih di lautan. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut  pada kalian dari dada musuh kalian dan menimpakan pada kalian penyakit Wahn," Seseorang bertanya "Apakah Wahn itu wahai Rasul?" Beliau menjawab "Cinta dunia dan takut mati."_ (HR Ahmad dan Abu Daud)

Semoga kita semua tidak termasuk orang yang menggadaikan agama, karena cinta dunia, karena sungguh dunia ini sementara. Sementara pemihakan kita pada kekufuran dan penjajahan atau pada kebenaran agama Islam, itulah yang akan dibutuhkan kita diakhirat kelak.
_Waalahu a'lam bi ash-shawab._
×
Berita Terbaru Update