Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyongsong Perubahan Hakiki

Saturday, September 07, 2019 | Saturday, September 07, 2019 WIB Last Updated 2019-09-07T04:18:41Z
Oleh : Dewi Sartika 
(Komunitas Peduli Umat)

Kaum muslim kembali memasuki bulan Muharram. Bulan yang menandai perpindahan tahun baru Islam yaitu tahun 1441 H. Berbagai macam kegiatan pun dilakukan untuk menyemarakkanya, pawai, zikir bersama, hingga pengajian mewarnai peringatan muharram tahun ini.
Dilansir republika.co.id, batusangkar-- Wakil Bupati Tanah Datar Zuldafri Darma mengatakan peringatan tahun baru hijriyah memiliki banyak makna bagi kehidupan umat Islam. Salah satu yang ditekankan Zuldafri ialah momentum yang tepat untuk berhijrah ke arah yang lebih baik.

"Jadi mulai sejak 1 Muharram 1441 H ini, kita menatap ke arah yang lebih baik. Kita harus hijrah, melompat ke tempat yang lebih tinggi," kata Zuldafri saat menghadiri tabligh akbar peringatan 1 Muharram di halaman Gedung Indo Jolito, Kota Batusangkar, Sabtu (31/8).

Penetapan kalender Hijrah dilakukan pada masa Umar Bin al-Khtathab. Beliau menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah sebagai tahun pertama kalender Islam.

Esensi Hijrah Nabi
Satu Muharram mengingatkan umat muslim tentang hijrahnya Rasulullah dan kaum muhajjirin dari kota Mekah ke kota Madinah menjadi tonggak sejarah perkembangan, penyebaran peradaban Islam ke penjuru dunia.

Hijrah berarti berpindah dari satu tempat ketempat yang lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain.  Namun, hijrah tidak hanya dimaknai perpindahan tempat semata melainkan lebih dari itu. Bisa juga pindah dari yang tidak menutup aurat menjadi menutup auratnya, atau dari perekonomian yang bergelut dengan ribawi menjadi perekonomian yang Islami.
Namun, hijrahnya Rasulullah tidak hanya sekedar berpindah tempat dan keadaan saja. Akan tetapi, hijrahnya Rasulullah Saw selain berpindah tempat, tetapi juga berpindah cara hidup, dari kehidupan jahiliyah berpindah pada kehidupan yang terang, sejahtera dan penuh cahaya dengan menerapkan sistem Islam dalam pemerintahan yang menjadi tonggak perubahan peradaban manusia.

Jila kita mengkaji dan mencermati, ada pesan tersirat dalam peristiwa hijrah Rasul. Dari hijrah Rasul membangun pemerintahan Islam di Madinah. Dari Hijrah, Rasul mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor melintas batas budaya, suku, ras, dan golongan. Dari Hijrah Rasul menetapkan hukum syariah dalam kehidupan. Sejak hijrah pula, Rasul membangun kekuatan untuk menyebarluaskan Islam ke penjuru jazirah arab melalui dakwah dan jihad.

Refleksi Hijrah Saat Ini
Sebagian masyarakat memandang bahwa hijrah hanya dari aspek spiritual dan perubahan individu semata, serta sebagai penanda awal adanya kalender Islam saja.
Dalam konteks kekinian, hijrah harus kita maknai sebagai upaya mengubah sistem jahiliyah yang banyak diterapakan diberbagai negeri muslim, termaksud Indonesia yaitu kapitalisme - sekuler demokrasi menjadi sistem Islam.

Dari penerapan sistem kapitalis sekuler ini, melahirkan berbagai kerusakan seperti sistem ekonomi ribawi , elit politik yang bermoral rusak, serta prilaku jahiliyah lainya seperti perzinahan, LGBT, aborsi dan lain lain. Kondisi seperti ini harus dirubah dengan melakukan perubahan  yang total dan fundamental. Bukan hanya sekedar perubahan individualnya, tetapi perubahan sistem kehidupan. Karena akar pokok permasalahan umat saat ini berada pada sistemnya. 

Sebagai mana yang dilakukan oleh Rasulullah ketika mengubah masyarakat jahiliyah menjadi Islami. Langkah yang beliau lakukan adalah mendirikan Daulah Islam. Daulah Islam inilah yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah, sekaligus mampu menyingkirkan berbagai sistem yang rusak.

Dengan momentum Muharram, saatnya kaum muslim menjadikanya tonggak perubahan kelahiran umat Islam. Menerapakan aturan yang berasal dari Sang Pencipta secara kaffah (menyeluruh) dalam segala aspek kehidupan. Waullahu A'lam Bisshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update