Oleh : Ulfah Noor
Ditutupnya lokalisasi Kampung Kajang di Sangatta Selatan merupakan upaya untuk menekan angka Orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Kutai Timur. Namun faktanya, penyakit tersebut masih saja meningkat. Seperti yang diberitakan sebelumnya, tempat prostitusi ini diduga aktif kembali. Sehingga pemerintah akan melakukan inventarisasi dan penertiban. (prokal, co, sangata ,19/8/2019).
Diketahui, angka HIV/Aids di Kutim saat ini telah mencapai 448 orang. Kasus tersebut terdata sejak 2006-2019. Ditemui, angka terbanyak di Kecamatan Muara Wahau dan Sangatta Utara. Mayoritas, dari jumlah itu penderita didominasi usia produktif. Sama halnya dengan di Samarinda Angka penderita HIV masih terus bertambah. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Samarinda mencatat hingga Juni 2019 ada 2.487 orang yang positif HIV. Terdiri dari positif HIV 1.205 jiwa dan pengidap AIDS 1.282 jiwa. Namun, 290 jiwa meninggal meski sudah terapi anti retroviral (ARV) dan 187 meninggal belum terapi ARV. Angka yang masih tinggi ini, menuntut KPA untuk melakukan sosialisasi lebih banyak (procal.co, samarinda 19/8/2019).
Sungguh miris angka penderita HIV/AIDS semakin hari semakin bertambah. Solusi yang ditawarkan dalam mencegah pertumbuhan HIV/AIDS masih sama yaitu dengan program ABCD, Abstinence (Tidak berhubungan seks selibat), Be Faithful (Selalu setia pada pasangan), Condom (Gunakan kondom di setiap hubungan seks berisiko), dan Drugs (Jauhi narkoba). Dari program tersebut ternyata sudah tidak bisa menuntaskan masalah HIV/AIDS malahan membuat masalah baru.
Contohnya Kondom sebagai alat pencegahan HIV/AIDS bukanlah sebuah solusi dan tidak terbukti mampu mencegah penyebaran HIV/AIDS. Akar masalah penyebaran HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas/zina, baik heteroseksual maupun homoseksual. Sumber awal virus mematikan ini adalah dari pelaku homoseksual, lalu menyebar dan terus meluas melalui seks bebas di lokasi prostitusi dan bahkan akhirnya menjalar pada “orang-orang bersih” yaitu orang yang tertular HIV/AIDS.
Di saat budaya kebebasan seks tumbuh subur, ketaqwaan yang kian tipis (bahkan mungkin tidak ada), kultur yang kian individualistis, kontrol masyarakat semakin lemah, kemiskinan yang kian menghimpit masyarakat dan maraknya industri prostitusi, kondomisasi jelas akan membuat masyarakat semakin berani melakukan perzinahan apalagi dengan adanya rasa aman semu yang ditanamkan dengan menggunakan kondom. Selama akar masalah HIV/AIDS berupa seks bebas ini dibiarkan ada dan bahkan mendapat legalitas dengan dibiarkannya lokasi prostitusi berdiri, maka jangan harap HIV/AIDS bisa dihentikan penyebarannya.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan selama ini selalu memposisikan penderita HIV/AIDS sebagai korban. Masyarakat juga diminta untuk maklum dengan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan menerima mereka secara wajar di dalam pergaulan. Allah SWT telah menurunkan Al Qur’an sebagai solusi tuntas seluruh persoalan manusia, termasuk HIV/AIDS. Allah SWT melarang umat Islam melakukan seks bebas/zina yang merupakan akar masalah HIV/AIDS.
Larangan zina ini termaktub dalam firman Allah swt Surat Al Israa’ ayat 32 yang artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Penyebab HIV/AIDS selain seks bebas adalah konsumsi narkoba.
Pelaku zina jika sudah menikah maka dihukum rajam (dilempari batu hingga meninggal) dan jika belum menikah maka dihukum jilid/cambuk seratus kali jilid. Sanksi yang tegas ini, selain menebus dosa pelaku, juga akan menghasilkan efek jera bagi siapapun yang menyaksikannya. Itulah sebabnya, sanksi rajam dan jilid disiarkan secara luas, agar semua warga negara mengetahuinya dan tidak menirunya Wallahu A’lam Bish Showab.

No comments:
Post a Comment