Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hijrah, Totalitas Mewujudkan Islam Kaffah

Friday, August 30, 2019 | Friday, August 30, 2019 WIB Last Updated 2019-08-30T07:14:04Z
Penulis : Ernadaa Rasyidah
(Penulis Bela Islam)

Umat Islam di seluruh dunia akan memasuki tahun Baru Islam 1441 Hijriah. Begitupun di negeri ini, euforiaeari karnaval, tarhib Muharram, hingga tablig akbar semarak diadakan. Ada segenap harapan dan keinginan yang ingin diraih, tepatnya perubahan yang lebih baik dari tahun yang telah terlewati.

Mengingat kondisi negeri yang didera krisis multidimensi, membutuhkan sebuah refleksi agar bisa meraih kebangkitan hakiki. Momentum Hijrah dinilai tepat untuk sarana introspeksi dan mengulang sejarah heroik hijrah yang dilakukan oleh baginda Rasulullah Saw darii Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak awal peradaban Islam.

Hijrah, secara bahasa berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan lain (Lisan al-ArabV/250).
Baginda Nabi saw. pernah bersabda:
Muslim itu adalah orang yang menjadikan Muslim yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang
(HR al-Bukhari, Abu Dawud)

Demikian juga, Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab Fathul Bari menyampaikan makna hijrah hakiki artinya meninggalkan apa yang yang dilarang oleh Allah.
Karenanya, patut untuk kita renungkan. Segala krisis multidimensi yang menedera negeri ini, hingga jauh dari suasana baldatun thayyibatun wa robbun ghafur, terjadi karena kita masih sering lalai dan  melanggar larangan Allah.

Hutang dengan sistem riba adalah keharaman, namun seolah menjadi candu bagi negeri ini. Pergaulan bebas, tindakan penyimpangan LGBT, miras, narkoba semakin merajalela. Korupsi, jambret, judi hingga pembunuhan seolah menjadi hal biasa. Keadilan hukum  yang semakin susah didapatkan, sementara kecurang begitu mudah dilakukan, belum lagi biaya hidup yang mencekik, iuran BPJS yang semakin mahal jelas bentuk kedzaliman yang dilarang Allah, tapi faktanya tetap dipertahankan.

Kehidupan yang jauh dari bentuk ideal ini terjadi karena penerapan sistem sekularisme, yang menjauhkan peran agama dalam kehidupan.  Memberikan wewenang pembuatan hukum pada manusia yang memiliki akal dan logika terbatas. Tanpa perduli halal dan haram, kebenaran ditetapkan berdasarkan suara mayoritas, meski acapkali suara mayoritas tidak berpihak pada Islam dan kaum muslim.

Walhasil, sistem ini memproduksi manusia-manusia serakah yang menghambakan diri pada kepentingan materi semata.

Perintah hijrah bukan sekedar pindah tempat, tetapi melakukan perubahan berupa totalitas ketaatan dengan dasar kesadaran, inilah yang disebut sebagai berhijrah secara kaffah.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu."  (QS. Al-Baqarah:208)

Perintah berislam Kaffah artinya, menjalankan segala syariat Allah secara menyeluruh, tanpa memilih dan memilahnya. Dengan meyakini setiap perintah dan larangan Allah pasti yang terbaik, karena bersumber dari zat yang maha sempurna, pencipta dan pengatur manusia beserta alam semesta. Dengan demikian, setiap muslim berusaha sekuat tenaga agar menyelaraskan setiap perbuatannya sesuai dengan syariat-Nya.

Hal ini berarti bahwa, bukan hanya dalam hubungannya kepada Allah dalam ibadah ritual (shalat, zakat, puasa, haji) ia mengikuti aturan Allah, tapi juga dalam mengatur hubungan dengan dirinya, yakni dalam masalah makanan, minuman, pakaian dan akhlak harus dijalankan sesuai rambu-rambu syariat Islam. Lebih luas daripada itu, aturan Islam harus dijadikan landasan dalam hubungan dirinya dengan sesama manusia. Hal ini tampak dalam segenap aktivitas muamalah, politik, ekonomi, solial, hukum, pendidikan dan lain sebagainya Islam menjadi panduan dan tolak ukurnya. Sehingga terwujud masyarakat Islam.

Hijrah secara totalitas (kaffah) akan melahirkan gelar takwa. Takwa adalah buah ketaatan dan bentuk kecerdasan manusia dalam melakukan misi penghambaannya, yakni untuk beribadah kepada Allah sang pencipta.
Allah SWT berfirman:
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat :56).

Semarak tahun baru hijriah, seharusnya menjadi momentum untuk negeri ini bermuhasabah, mengoreksi diri dan mencari solusi atas segala krisis yang menimpa negeri.

Menjadikan Islam sebagai sebuah kekuatan dan tonggak kebangkitan sebuah peradaban. Merekonstruksi sistem kehidupan sekuler menjadi sistem Islam yang berdaulat, menghadapi perubahan yang hakiki tentu tidak cukup dengan pindah ibukota, lebih dari itu harus ada upaya untuk hijrah dari sistem kufur menuju sistem Islam. Sistem yang telah terbukti menorehkan tinta emas, berupa kegemilangan, kesejahteraan, keadilan bagi seluruh manusia, baik muslim maupun non muslim. Sistem ini dalam pentas sejarah, pernah enguasai 2/3 belahan dunia selama lebih dari 13 abad lamanya, sejak Rasulullah mendirikan negara Islam pertama di Madinah hingga kekhilafahan Turki Utsmani yang diruntuhkan oleh agen Inggris keturunan Yahudi, Mustafha Kemal Attartuk, laknattullah.

Karena Itu, sudah saatnya kita kembali pada jati diri muslim kita, membangkitkan umat dengan dakwah sebagai thariqah yang telah dicontohkan Nabi saw. Tidak surut dengan hadangan, persekusi hingga cacian, tidak goyah dengan iming-iming kesenangan dunia sesaat. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7).

Saatnya kita berhijrah, melakukan ketaatan total dan mewujudkan Islam secara kaffah,  mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia, meletakkan ridha Allah dan Rasulullah diatas segalanya. Dengan tegaknya syariah Islam secara kaffah, dalam naungan daulah Islam. In syaa Allah.
Wallahu a'lam bishawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update