Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pendidikan Liberal, Menjatuhkan Generasi

Monday, July 01, 2019 | July 01, 2019 WIB Last Updated 2019-07-01T08:24:21Z
Oleh : Maryam

Saat ini pendidikan dalam negeri banyak menjadi perbincangan publik setelah adanya keputusan penerimaan siswa di sekolah dengan menggunakan sistem zonasi. Pendidikan di indonesia juga dibayangi dengan dalih mengundang pengajar asing untuk mengajar di indonesia. Pendidikan saat ini seolah diarahkan kepada sistem bergaya barat. 

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, saat ini Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman. 

"Kami ajak guru dari luar negeri untuk mengajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia," ujar Puan dalam Musyarawah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusa. (detikpinance. 9/5/2019) lalu.

Selain dari rencana  pemerintah mengundang guru dari luar negeri. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir melepas 45 orang delegasi mahasiswa Indonesia yang akan melaksanakan kunjungan ke China mulai 15 hingga 21 Juni 2019.

"Saya ingin mengajak mahasiswa untuk berpikir lebih maju dan punya wawasan lebih luas," kata Nasir dalam acara pelepasan delegasi mahasiswa Indonesia untuk kunjungan ke China, Tangerang, Banten. ( Antara news. 14/6).

Upaya pemerintah untuk menarik pendidik dari luar negeri untuk mendidik generasi muda indonesia. Tanpa mengimbangi pemikiran yang akan ditanamkan kepada generasi penerus bangsa. Tentunya jika peserta didik di bimbing oleh guru dari luar negeri maka peserta didik akan mengikuti pola pemikiran yang dibawah oleh guru dari luar negeri tersebut.

Terlebih lagi bahwa jumlah guru di indonesia sudah mencukupi. Ramli Ketua umum Ikatan Guru Indonesia ( IGI ). Menjelaskan jumlah Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan lulusannya terus bertambah setiap tahunnya. Ia merujuk data Kemendikbud yang menyatakan pada 2013 terdapat 429 LPTK, terdiri dari 46 negeri dan 383 swasta. Total mahasiswa saat itu mencapai 1.440.770 orang. Jumlah tersebut lebih banyak dibanding 2010 dengan 300 LPTK.

"Dengan jumlah mahasiswa 1,44 juta maka diperkirakan lulusan sarjana kependidikan adalah sekitar 300.000 orang per tahun. Padahal kebutuhan akan guru baru hanya sekitar 40.000 orang per tahun. (Tirto, 10/5/2019).

Jumlah guru dalam negeri bisa dikatakan sudah sangat mencukupi, bahkan tidak sedikit yang masih menyandang status honorer.  Dengan demikian negara tidak sepatutnya mengambil keputusan untuk mengundang guru dari luar negeri. Sementara persoalan guru dalam negeri belum terealisasi dengan baik.  

Adapun pemikiran yang dibawah oleh guru dari luar negeri akan membawa generasi muda indonesia kepada pemikiran liberal.  Saat generasi muda indonesia mulai meyakini bahwa pemikiran yang dibawah oleh Asing ini mampu membawa negara kearah yang lebih maju. Maka mereka akan mengikuti pemikiran tersebut. Setiap generasi bangsa pasti menginginkan negaranya menjadi lebih baik. Namun, setiap negara yang dikatakan Maju memiliki pola pemikiran liberal.

Walhasil pemikiran liberal yang tertanam dalam benak generasi muda akan menjauhkan generasi dari ketaatan dan keimanan kepada Allah SWT.  Pemikiran liberal ini akan semakin menghilangkan perhatian pemuda terhadap pembelajaran Agama. Fokus mengejar dunia dengan dalih manfaat belaka. Seperti itulah pemikiran liberal merusak tatanan moral, keyakinan dan menjauhkan dari pencipta.

Negara-Negara maju dengan faham liberal yang diemban memang membuat negara tersebut besar di mata dunia. Kemajuan teknologi di beberapa Negara maju memang mampu menembus cakrawala. Akan tetapi dibalik kemajuan teknologi tersebut membuat jiwa mereka kosong. 

Beberapa negara dengan teknologi canggih dan kecerdasan para inteleknya juga tidak membawa kesejahteraan dan ketenangan jiwa.  seperti halnya jepang, dengan kemajuan teknologi yang dimiliki. Menjadi Negara dengan angka bunuh diri yang tinggi dikenal dengan nama hara kiri. Pemikiran liberal yang dimiliki memang membuat negaranya maju. Akan tetapi tidak menuai ketenangan.

 *Pendidikan dalam islam* 

Pendidikan tentunya mempunyai tujuan untuk mengembangkan pola fikir generasi. Menjadi tolak ukur dalam kemajuan bangsa dan negara karena setiap manusia bergerak berdasarkan pola fikirnya. Oleh karena itu, islam mewajibkan setiap individu untuk menuntut ilmu pengetahuan terutama ilmu Agama.

Fokus pendidikan islam adalah menjadikan generasi muda penerus bangsa yang beriman dan taat kepada Allah SWT. 

Pendidikan islam itu sendiri selalu berlandaskan dengan islam. Sehingga melahirkan generasi dengan jiwa pembela islam  yang mampu membawa  kesejahteraan bagi umat. Pada masa abad pertengahan atau zaman keemasan islam banyak melahirkan ilmuan-ilmuan dalam bidang sains dan teknologi. Bahkan penemuan muslim saat itu masih digunakan hingga hari ini.  

Seperti ibnu sina yang bergerak dalam bidang kedokteran. Ibnu Abbas bin Firnas, ilmuan muslim yang menemukan pesawat jauh sebelum wrigh bersaudara. Khususnya di bawah pemerintahan Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun, dunia Islam mengalami kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan budaya yang luar biasa pesat.

Paradigma dasar pada sistem pendidikan khilafah tidak terlepas dari tujuan pengembangan ilmu pengetahuan adalah dalam rangka mengenal Allah swt. Sebagai Al-Khaliq, menciptakan manusia yang senantiasa taat dan takut kepada Allah swt.  Khilafah islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk SDM terdidik dengan pola pikir dan pola sikap islami. 

Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Pendidikan ditujukan dalan kaitan untuk membangkitkan dan mengrahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia selaras dengan fitrah manusia dan meminimalisir aspek buruknya.

Keteladanan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam suatu proses pendidikan. Dengan demikian sentral keteladanan yang harus diikuti adalah Rasulullah saw. 

Adapun strategi dan arah perkembangan ilmu pengetahuan pendidikan khilafah. Diantarany, Tujuan utama ilmu yang dikuasai manusia adalah dalam rangka mengenal Allah SWT sebagai Al-Khalik.  Ilmu harus dikembangkan dalam rangka menciptakan manusia yang takut kepada Allah swt semata, sehingga setiap dimensi kebenaran dapat ditegakkan kepada siapapu tanpa pandang bulu. 

Ilmu yang dipelajari berusaha menemukan keteraturan sistem, hubungan kausalitas, dan tujuan alam semesta. Ilmu dikembangkan dalam rangka ibadah kepada Allah swt. Dan, Ilmu pengetahuan dan teknologi dicitakan serta dikembangkan tidak dalam rangka menimbulkan kerusakan di muka bumi atau pada diri manusia itu sendiri.  _Wallahu'Alam bish shawab_ .
×
Berita Terbaru Update