Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fenomena "Banjir Sampah" Pertanda Musibah.

Friday, June 28, 2019 | June 28, 2019 WIB Last Updated 2019-06-28T07:37:31Z
Oleh : Sumiyah Ummu Hanifah.
(Pembelajar Islam Kaffah dan Member AMK )

Negeri ini memang luar biasa pandai dalam urusan impor-mengimpor, hampir setiap saat ada saja kabar yang membuat hati rakyat kecil ini semakin sesak, bagaimana tidak ? 

Ketika Para Petani  padi sudah bersiap-siap untuk panen, dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dari jerih payahnya selama berbulan-bulan mengurus  dan menggarap sawahnya, tapi tiba-tiba saja, tidak ada hujan dan tidak ada angin, Pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan untuk mengimpor beras. 
Tentu saja hal ini membuat Para Petani sakit hati.

Bukan itu saja, ternyata hal senada juga menimpa Para petani dengan komoditas yang berbeda, contohnya petani bawang putih, petani garam, gula, buah-buahan, serta sayuran dan berbagai komoditi  makanan lain, yang  sengaja di datangkan dari luar negeri.Entah dengan tujuan apa, semua KEBIJAKAN YANG TIDAK BIJAK itu diambil oleh kementerian dalam negeri kita.

Belum puas mengimpor berbagai macam bahan makanan yang sebenarnya masih bisa di hasilkan oleh para petani lokal, Pemerintah "mengukir" sejarah baru dengan mengimpor guru dari luar negeri, walaupun Pemerintah berdalih bahwa hal itu bukanlah "mengimpor" guru, tapi mendatangkan guru dari luar negeri untuk mengajari para guru di Negeri ini.

Pro dan kontra mewarnai kebijakan tersebut, namun akhirnya pihak pemerintahlah yang memegang kendali dan berhak untuk memutuskan persoalan tersebut, sehingga rakyat hanya mampu menelan pil pahit, buah dari "kebijakan" Pemerintah yang di nilai kurang berpihak kepada rakyat / petani kecil.

Dan belum Lagi tuntas masalah impor guru, impor tenaga kerja asing,  dan berbagai jenis impor yang "nyeleneh" lainnya, kini muncul kembali kebijakan yang tak kalah seru dan terkesan memprihatinkan, yaitu Kebijakan untuk mengimpor "SAMPAH".

Sampah yang kita kenal merupakan suatu hal yang menjijikkan, kotor, dan bau, serta berpeluang mendatangkan berbagai penyakit bagi masyarakat, kini di manfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompoknya, tanpa melihat efek serius yang terjadi dari penggunaan bahan baku sampah bermasalah tersebut.

Meskipun ada juga beberapa jenis sampah yang bisa di olah dan di manfaatkan, seperti sampah organik, sampah rumah tangga dan yang lainnya, namun hal itu harus memenuhi syarat kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat sekitar dan bagi kelestarian  lingkungan hidup. 
Kira-kira apa jadinya, apabila sampah yang di hadirkan itu adalah sampah yang berbahaya seperti yang terjadi di kota Surabaya, Jawa-Timur ini misalnya ?

Tercatat dalam beberapa bulan terakhir ini, Indonesia kedatangan banyak kontainer sampah yang bermasalah dari negara-negara lain.

Pada akhir bulan Maret lalu ada lima kontainer sampah impor bermasalah yang di kirim dari Seattle, di Amerika dengan tujuan akhir Surabaya, Jawa Timur.
Dan pada pertengahan Juni ini, pihak pemerintah telah mengembalikan lima kontainer sampah tersebut ke Negeri asalnya.
Demikian di kutip dari sumber resmi :
Https://m.kumparan.com/@

Ternyata berita yang     bikin "panas telinga" rakyat Indonesia itu, tidak hanya terjadi di Surabaya, namun kejadian yang sama juga terjadi di Batam, Kepulauan Riau.

Di lansir dari "Antara" bahwa Tim gabungan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kelautan ( KLHK ), Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam dan Kantor Pelayanan Umum Bea Cukai Batam berjanji akan menindak lanjuti 65 kontainer sampah bermasalah yang di temukan di Pelabuhan Bongkar Muat Batu Ampar, Batam.

Setelah di selidiki ternyata 65 kontainer sampah tersebut adalah milik dari 4 Perusahaan yang datang secara bertahap sejak awal bulan Mei yang lalu, hingga kini.
Puluhan kontainer sampah tersebut kini telah di pulangkan kembali.
Sampah tersebut belakangan di ketahui berisi waste paper yang terkontaminasi dengan limbah B3.

Menurut sumber berita dari : https://www:inews.id/ pada Rabu, tanggal 19 Juni 2019 menyebutkan bahwa tumpukan sampah yang di impor oleh sebuah Perusahaan Pabrik Kertas itu akan di gunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas di Mojokerto, Jawa-Timur.

Berdasarkan data dari Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah Ecoton, masuknya sampah dengan merk dan lokasi jual di luar lndonesia itu di duga akibat China menghentikan impor sampah plastik dari sejumlah negara di Eropa dan Amerika yang mengakibatkan sampah plastik  beralih tujuan ke negara-negara ASEAN, termasuk ke Indonesia yang Pemerintahannya  "berteman" akrab dengan negara-negara pengekspor sampah tersebut.
Dan hebatnya lagi, Indonesia menerima sedikitnya 350 kontainer sampah, yang sebagian besar menuju ke Jawa-Timur setiap harinya.( Editor: Yudistiro Pranoto )

Melihat fakta di atas, tentu kita tergelitik untuk bertanya, "Bukankah Negara kita tercinta ini telah di "nobatkan" oleh Badan Dunia sebagai negara penghasil sampah ( plastik ) terbesar no 2 di Dunia ?

Sumber berita dari laman :  https://loop.co.id, menyebutkan bahwa pada posisi puncak di tempati oleh Tiongkok, yang menyabet Juara 1 Penghasil sampah plastik terbesar di Dunia, kemudian menyusul Indonesia berada di peringkat  Kedua, Vietnam di peringkat ketiga,  Filipina menduduki peringkat ke-empat   dan Sri Lanka berada di posisi ke lima.
Jadi, rasanya "aneh"  bila negara Indonesia yang sudah menjadi Penghasil sampah terbesar no 2 di dunia ini, justru mendatangkan sampah (mengimpor) sampah dari negara lain, lantas di manakah NALAR SEHAT Para Pengendali negeri ini berada?

Maraknya impor sampah merupakan bukti lemahnya negara dalam kancah politik dalam dan luar negeri.
Dan hal ini menunjukan lemahnya WIBAWA Pemerintah di hadapan Para Pengusaha yang mendatangkan sampah bermasalah ke negeri ini.
Sungguh Miris karena mereka bisa seenaknya saja "membuang" sampahnya ke negara Kita, di manakah harga diri sebagai bangsa yang merdeka ?

Oleh karena itu, maka Negara ini benar-benar membutuhkan Para  pemimpin yang amanah dan bertanggung-jawab terhadap seluruh urusan umat, yang benar-benar SERIUS dalam mengelola Sumber Daya Alam ( SDA ) dan memberdayakan Sumber Daya Manusia (SDM ) sesuai dengan aturan yang telah di turunkan oleh Allah SWT , yaitu Al Qur'an dan As-sunnah.
Sehingga di harapkan hal yang sangat memalukan ini tidak terulang kembali.

Sejatinya kita tahu bahwa negara ini adalah negara yang bergelar zambud Katulistiwa,  negara yang kaya raya, penuh dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, terbentang dari ujung Pulau Sumatera hingga ke Pulau Irian Jaya, mulai dari tambang emasnya hingga hutan belantaranya, serta lautan yang menyimpan ribuan, bahkan jutaan biota laut, serta mutiara yang tersembunyi di dasar samudra luas,  dimana hal itu merupakan suatu keistimewaan yang  di anugerahkan oleh Allah SWT kepada bangsa dan negara kita.
Untuk itu sudah seharusnya kita mengikuti setiap petunjuk yang di berikan oleh Allah SWT, dalam praktik keseharian kita haruslah mengikuti  tata cara yang benar dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, termasuk dalam menjalin hubungan politik dengan negara lain.
Kita semua wajib bersyukur kepada-Nya, dan bentuk dari rasa syukur itu adalah mentaati seluruh aturan dari-Nya, yaitu harus mau memperjuangkan Syari'at Islam, sebagai satu-satunya hukum / aturan yang di ridha-i oleh-Nya.

Yaitu menerapkan seluruh ajaran islam secara kaaffah dalam bingkai Khilafah Rosyidah ala minhajin nubuwah.
Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk meraih kemenangan ini, dan menjadikan negeri ini sejahtera, aman, damai, dan senantiasa berada dalam keberkahan.

Sehingga mewujudkan negara yang baldatun thoyyibatun warobbun ghofur,,,aamiin.

Wallahu a'lam bishawab.
×
Berita Terbaru Update