Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Stop Kerusakan “Game Online” Mungkinkah ?

Friday, April 26, 2019 | Friday, April 26, 2019 WIB Last Updated 2019-04-26T14:56:26Z
Oleh : Irmaya S.Pd.I 
(Aktivitis Dakwah & Pemerhati Sosial) 

Game online kini menjadi salah satu bisnis menggiurkan dikalangan pebisnis. Bahkan banyak pemodal yang rela menyisihkan modalnya untuk bisnis ini. Bukan games aksi, kini games olahraga elektronik dikembangkan dalam bisnis ini. Seperti yang di utarakan dalam debat capres dan cawapres lalu yang menyatakan nilai ekonomi tumbuh sangat pesat. (Idntimes.com)
Adapun menteri pemuda  dan olahraga (Menpora) imam nahrawi berpendapat E-Sport harus mulai masuk kekurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat – bakat muda. “kurikulum harus masuk kesana. Kalau sudah seperti itu, tentu harus bekrja sama, harus berkolaborasi”.kata Imam saat ditemui pewarta di Sekretariat Kabinet, jakarta. Senin (28/1). Selain itu kementrian Pemuda dan Olahraga ( kemenpora) menebut sudah menganggarkan dana 50 M untuk menggelar kompetisi di level sekolah ( CNNIndonesia.com)
Games dan Dekadensi Moral Pelajar
Dalam sistem kapitalisme, pengorbanan sekecil kecilnya dan untuk meraup keuntungan sebanyak –banyaknya menjadi harga mati untuk mereka. Walaupun itu menabrak rambu – rambu norma, bahkan peraturan agama. Mereka tidak akan peduli meskipun itu berdampak buruk bagi mereka ataupun pelajar. Memang bermain games tidak selalu berdampak negatif bagi pelajar, ada juga dampak positifnya. Seperti menambah teman, belajar berfikir strategi bahkan juga bisa belajar bahasa inggris. Pelajar juga bisa merasa lebih rileks setelah menghadapai mata pelajaran dan ujian dari sekolahnya.

Namun dampak negatif yang ditimbulkan juga jauh lebih besar dan berbahaya, ketika remaja tidka lagi mengontrol dirinya sendiri saat bermain games. Mereka akan kecanduan, malas, kurang tidur, finansial berkurang, radiasi bahkan sampai memakan korban. Bahakan menurut WHO bermain game dapat mengganggu mental dan merusak lingkuan pribadi dan sosial mereka.

“sudah banyak bukti yang menunjukkan kecanduan game dapat menimbulkan masalah kesehatan” (kompas.com)
Kurikulum dalam Sistem Pendidkan Islam
Kurikulum merupakan hal yang sangat penting dalam mencetak generasi. Seperti yang kita ketahui bahwasannya negeri kita ini, sudah beberapa kali mengamandemen kurikulum pendidikan. Namun, kita bisa melihat bagaimana hasil produk negeri kita. Mulai dari pergaulan bebas, pacaran , hamil diluar nikah, membully guru dan orang tua sendiri dan hal buruk lainnya.
Meskipun ada dari pelajar yang mampu memenangkan berbagai lomba tingkat nasional bahkan tingkat internasional tetapi itu tidak mampu menutupi kelamnya poteret remaja ataupun pelajar masa kini. Termasuk para pelajar yang tidak mampu mengontrol diri dalam menggunakan teknologi yang akhirnya menghasilkan kepada generasi yang apatis, bahkan melalaikan untuk beribadah serta mengkaji Islam. Terlebih banyak muatan dalam kurikulum yang merupakan pesanan asing.
Dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap warga negara. Pendidikan dalam Islam merupakan upaya dasar, terstruktur bahkan terprogram dan otomatis, dalam rangka membentuk insan yang akan memiliki kepribadian Islam. Mengusasai pemikiran Islam dengan handal, bahkan menguasai terapan dan emeilih ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.
Dalam Islam, tanggung jawab penyelanggara proses pendidikan ada pada negara. Dalam hal ini adalah tanggung jawab seorang kepala negara / Kholifah, yaitu yang bertanggung jawab atas urusan rakyatnya. (Hr. Bukhari dan Muslim)
Inilah solusi yang hakiki yang akan menhantarkan generasi yang cerdas, generasi yang tangguh, generasi yang kuat sera berkepribadian Islam yang utuh, terdepan dan mampu memimpin bangsa – bangsa lainnya. 
 Allah SWT berfirman dalam Q,s Al – Imran : 110
“kamu (umat Islam) adalah  umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar...”
Wallahu A`lam Bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update