Penulis : Nur Hasanah, SKom
(Aktivis Dakwah Islam)
Kekecewaan sebagian besar umat Islam kepada kebijakan-kebijakan rezim yang anti Islam, telah menjatuhkan dukungan mereka kepada Prabowo untuk periode kepemimpinan selanjutnya. Umat Islam sebagai penduduk mayoritas apalagi telah direstui oleh para ulama yang menjadi rujukan, berhasil memenuhi GBK dalam kampanye akbar 7 April 2019 lalu. Sebagai bentuk dukungan, umat Islam banyak yang hadir di GBK sejak malam hari untuk melakukan sholat subuh berjamaah disana.
Situasi ini direspon oleh Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Umum Partai Demokrat yang merasa resah karena kampanye akbar Prabowo terkesan tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye nasional yang inklusif. Kekhawatirannya disampaikan melalui surat yang menyatakan ketidak setujuan dengan konsep kampanye akbar Prabowo di GBK yang terkesan mengandung politik identitas. (liputan6.com 8 April 2019)
Demokrasi Bukan Untuk Islam
Kita senantiasa dicekoki dengan pemahaman bahwa penegakkan Islam bisa diperjuangkan dalam demokrasi, sehingga kebanyakan umat Islam masih nyaman dengan demokrasi dan masih memperjuangkannya dengan turut berperan aktif dalam euphoria pesta demokrasi yang diadakan lima tahunan. Alasan yang selalu digaungkan adalah bila umat Islam tidak ikut dalam pemilu maka kepemimpinan akan diambil oleh orang kafir. Itu kata-kata lama yang masih diadopsi sebagai pemikiran salah, karena faktanya demokrasilah yang memberi celah untuk memungkinkan orang kafir bisa memimpin.
Benang merah antara Islam dengan demokrasi, sebenarnya sangat jelas bila dijabarkan secara rinci. Berdasarkan buku An nidzomu Al Islam karangan Syeikh Taqiyuddin an Nabhani, Akidah Islam yang meyakini Allah sebagai pencipta manusia, alam dan kehidupan, akan meminta pertanggung jawaban kepada manusia, terhadap seluruh amal manusia di dunia sehingga yang menjadi tolak ukur perbuatan dalam Islam adalah halal dan haram. Dalam Islam, seorang muslim hanya boleh mengambil perbuatan yang halal untuk dilakukan, sedang yang haram wajib ditinggalkan. Beda dengan demokrasi yang berakidah sekuler, yaitu memisahkan agama dengan kehidupan. Demokrasi mengambil tolak ukur perbuatan atas dasar azas manfaat. Berdasarkan kemanfaatanlah perbuatan akan diukur dan ditegakkan.
Umat Islam seharusnya sadar bahwa demokrasi bukan untuk Islam karena demokrasi memiliki kepentingan sendiri diluar Islam. Demokrasi tidak bisa berjalan beriringan dengan Islam karena secara akidah, Islam dan demokrasi sangat bertolak belakang. Ketika Islam disatukan dengan demokrasi maka harus saling mengalahkan Seperti saat kampanye kemarin, ketika umat Islam membuat pagelaran kampanye bernuansa Islam, dalam pandangan demokrasi dianggap tidak layak karena tidak mencerminkan kampanye nasional yang harus menerima keragaman agama walaupun peserta agama lain hanya dihadiri segelintir orang.
Dalam demokrasi, Islam hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan agar demokrasi terus berjalan dan tidak digantikan dengan Islam. Memperjuangkan penegakkan Islam bukan dengan mengikuti pesta demokrasi lima tahunan karena hal itu hanya akan semakin menguatkan demokrasi.
Meneladani Rosulullah Dalam Menegakkan Islam
Rosulullah telah mencontohkan bagaimana cara menegakkan Islam pertama kali di Madinah. Cara inilah yang harus kita teladani sebagai bentuk keimanan kita kepada Rosulullah.
Perjuangan dakwah di Mekah sebagai tanah kelahirannya, tidak mendapatkan penerimaan yang baik dari para penguasa, padahal para penguasa itu adalah paman-pamannya. Ancaman dan siksaan kerap diterima oleh Rosulullah dan para sahabatnya karena dakwah mereka. Namun Rasulullah tetap menjalankan dakwah dengan bimbingan wahyu dari Allah tanpa kekerasan.
Rasulullah pernah diiming-imingi tahta, harta, wanita untuk menghentikan dakwahnya, tetapi semua tawaran tersebut ditolak oleh Rasulullah saw, dan beliau mengatakan
“Demi Allah, biar pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku. Aku tidak akan berhenti melakukan (dakwah) ini, sehingga agama ini menang atau aku binasa karenanya.”
Rosulullah pun pernah hampir terbunuh karena dakwahnya, namun dakwah tetap berjalan dan semakin banyak menerima Islam. Dakwahlah yang menjadi senjata rosulullah untuk menyampaikan Islam kepada umat yang belum mengenal Islam, kemudian dilakukan pembinaan-pembinaan untuk menguatkan keimanan para sahabat yang telah masuk Islam.
Rosulullah membina para sahabatnya dan menjadikan mereka sebagai pendakwah hebat yang semakin meluaskan Islam. Sampai akhirnya bertemu kaum Aus dan kaum Khazraj yang meminta Rosulullah menegakkan Islam di Madinah tempat kekuasaan mereka.
Itulah cara Rosulullah dalam menegakkan Islam. Rosulullah mengenalkan Islam dengan melakukan dakwah sebagai bagian dari politik Islam. Tidak mencampur adukan cara Islam dengan cara yang lain. Walaupun Rosulullah pernah diberi tawaran itu namun ditolaknya.
“Wahai Muhammad, bagaimana kalau kami beribadah kepada Tuhanmu dan kalian (muslim) juga beribadah kepada Tuhan kami. Kita bertoleransi dalam segala permasalahan agama kita. Apabila ada sebagaian dari ajaran agamamu yang lebih baik (menurut kami) dari tuntunan agama kami, kami akan amalkan hal itu. Sebaliknya, apabila ada dari ajaran kami yang lebih baik dari tuntunan agamamu, engkau juga harus mengamalkannya.” (Tafsir al-Qurthubi)

No comments:
Post a Comment