Penulis : SW. Retnani, S.Pd.

     Allah SWT menciptakan manusia dan menempatkannya di dunia ini dengan tujuan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sang Pencipta sudah menjelaskan kedudukan manusia dan tujuan diciptakannya di dalam kitab suci Al Qur'an.
Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-insa illaa liya'buduun

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

    Disamping adanya penciptaan manusia Allah pun telah menetapkan seluruh Peraturan hidup manusia. Dengan tujuan manusia memiliki arah kehidupan yang jelas, tidak terombang-ambing akan indahnya dunia dan tetap fokus untuk dapat menggapai ridho Allah subhanahu wa ta'ala. Sehingga kebahagiaan dunia akhirat dapat diraih manusia. Maka memahami hakikat dari penciptaan manusia itu sangatlah penting.
    
      Aturan kehidupan manusia ini telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala jabarkan di dalam Syariat Islam, misalnya perbuatan manusia dikategorikan dalam 5 hukum. Yakni: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Maka dalam penerapan Syariat Islam dibutuhkan suatu negara atau institusi yang siap untuk melaksanakan dan menerapkan Syariat Islam.
 Sepanjang sejarah, hanya Khilafah yang mampu menerapkan dan melaksanakan sistem Islam. Tinta emas sejarah juga telah mencatat hadirnya Khilafah dimulai sejak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat. Kemudian kepemimpinan tertinggi umat Islam dipegang oleh Khalifah Abu Bakar As Siddiq Alaihissalam, dilanjutkan oleh Khalifah Umar bin al-Khattab Alaihissalam. Setelah beliau wafat dilanjutkan oleh Khalifah Utsman bin Affan Alaihissalam dan diteruskan oleh Khalifah Ali Bin Abi Thalib Alaihissalam. Setelah para Khulafaur rasyidin wafat, puncak kepemimpinan kaum Muslim diteruskan oleh para khalifah- khalifah yang lainnya. Kejayaan Islam terpancar keseluruh penjuru dunia. Kaum Muslim sejahtera. Masa kegemilangan Islam bertahan hingga ribuan tahun. Hingga datanglah seorang munafik yang telah meruntuhkan Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924. 

    Sebagaimana dilansir dari www.islampos.com bahwa tak banyak muslim yang tahu. Ada peristiwa penting apa terjadi di bulan Maret. Tepatnya tanggal 3 di tahun 1924. Sekitar 95 tahun yang lalu, sebuah tragedi besar yang membalik penuh tatanan hidup umat Islam.
Ini bukan tsunami atau bencana alam yang menyisakan korban jiwa. Namun malapetaka dahsyat. Runtuhnya negara adidaya yang telah berusia 14 abad lamanya, Daulah Khilafah Islamiyah.
Adalah Mustafa Kemal Ataturk, seorang militer Turki dari Salonica. Sayang, pribadinya tak seindah namanya. Begitu benci pada bangsa Arab, bukan tanpa alasan, karena memang darah yang mengalir di tubuhnya adalah Yahudi tulen. Yahudi Daunamah sebutannya. Yaitu kaum yahudi yang berpura-pura memeluk agama Islam. Ia adalah orang yang paling bertanggungjawab atas runtuhnya Khilafah Islamiyah.
Memang sejak kecil, jiwa pemberontak telah nampak. Sering ia bertengkar dengan gurunya di sekolah Fatimah. Hingga bapaknya memindahkannya ke sekolah yang memasukkan kurikulum Barat dalam pendidikannya. Saat usianya 17 tahun, dia masuk ke sekolah Tentara Monaster. Di sinilah, pengelanaannya dalam dunia politik dimulai dengan memasuki gerakan-gerakan bawah tanah sebagai antek-antek barat.
Biang kehancuran khilafah
Apa hubungan nasionalisme dengan kehancuran khilafah? Mengutip pakar sejarah Mahmud Syakir dalam bukunya Tarikh Islam Daulah Utsmaniyah,  disebutkan bahwa sarana untuk menghancurkan kekuatan pemerintahan Islam di Turki waktu itu adalah dengan menghidupkan paham nasionalisme. Nasionalisme bukan hanya terbatas pengertiannya pada cinta tanah air saja. Lebih dari itu, adalah sebuah paham dimana individu memberikan kesetiaan tertingginya hanya pada negara kebangsaan.
Eropa dan anteknya paham betul kalau kekuatan umat Islam terletak pada persatuannya. Jika umat dikotak-kotakkan dalam suku dan bangsanya, Daulah akan melemah, terputus jaringannya dan akhirnya ambruk. Dimulai dengan mengadu domba Turki dan Arab. Kenapa mesti kedua bangsa itu?
Menurut Muhammad Abduh, dalam Al-Jam’iyah al-Islamiyah wa al-fikrah al-Qawmiyyah, Dar asyu-syuruq, 1414-1994, hal 53,54 karangan Dr. Muhammad Imarah.  Mereka sudah lama menunggu antara pertarungan umat Islam tersebut, kemudian berusaha untuk menguasai kedua bangsa tersebut atau salah satunya yang terlemah. Padahal waktu itu bangsa Arab dan bangsa Turki merupakan bangsa yang terkuat di dalam tubuh umat Islam. Oleh karenanya, akibat dari pertarungan kedua bangsa itu, jelas akan kekuatan Islam menjadi lemah sekaligus merupakan jalan pintas menuju kehancuran.Partai Persatuan dan pengembangan yang berpusat di Paris dalangnya. Mereka menghembuskan paham ketinggian bangsa Turki dibanding Arab. Hingga ada usaha melengserkan orang-orang Arab dari kementerian wakaf, kementerian dalam negeri, dan kementerian luar negeri untuk diganti dengan orang Turki saja. Bangsa Arab tentu saja berang dengan gerakan ini.
Dalam waktu singkat muncullah gerakan ”fanatisme arab”. Bermula dari pelataran bumi Syam, fanatisme ini berkembang dan membesar hingga ke berbagai kawasan. Di tambah beredarnya hadits palsu lagi menyesatkan ” Hubb al-wathan min al-iman (Cinta tanah air termasuk iman)”, maka pada saat perang dunia I pecah, 1914-1918, digunakanlah kesempatan ini oleh bangsa Arab untuk memisahkan diri dari khilafah Utsmaniyah.
Akibat pertikaian antara dua kubu ini. Rantai kemalangan yang sambung-menyambung semakin membelit kaum muslimin tanpa mereka sadari. Puncaknya pada 03 Maret 1924, penghapusan sistem Khilafah oleh Mustafa Kemal Ataturk yang sebelumnya berhasil merebut tampuk kekuasaan utsmaniah. Kemudian menggantinya dengan negara republik berasas sekularisme.
Tanpa Khilafah, Muslim tak ada apa-apanya
Seperti ikan yang dipaksa hidup di daratan kering, tanpa air sebagai habitatnya, begitulah kaum muslimin tanpa khilafah. Tak ada apa-apanya. Lenyapnya Khilafah berarti lenyap pula penjagaan Islam pada seluruh penerapan hukum syara’. Sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW, seorang Khalifah (Imam) adalah bagaikan perisai atau benteng bagi Islam, umatnya, dan negeri-negeri Islam. Sabda Nabi SAW :
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah ibarat perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa`i, dan Ahmad)
Teringat kembali, kisah seorang budak muslimah dari Bani Hasyim. Ia dilecehkan oleh seorang pemuda Romawi saat berbelanja ke pasar. Kainnya diikatkan pada paku, hingga saat berdiri nampaklah auratnya. Khalifah Al-Mu’tasim mendengar hal itu, langsung mengutus pasukan guna memberi pelajaran si lelaki usil. Tak tanggung-tanggung. Pasukan yang dikirim, ujungnya masih berada depan gerbang khalifah di Baghdad, sedang ujung lainnya telah sampai di Ammuriah, Turki. Begitulah penjagaan khilafah atas kehormatan warganya.
Coba bandingkan dengan perlakuan negara pada muslimah saat ini. Bukannya difasilitasi, polwan yang ingin taat menggunakan kerudung justru dilarang. Lokalisasi makin marak, perempuan yang menjajakan tubuhnya malah disebut ‘pahlawan’. Itu di Indonesia, di belahan bumi lain, katakanlah di Bumi Syam, palestina, dan sebagian negeri Timur Tengah. penindasan, pelecehan, pembantaian belumlah berakhir.
Betul kata Imam Al- Ghazali : “…agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.” Tanpa khilafah, Islam memang masih ada. Buktinya, Indonesia mayoritas penduduknya muslim. Bahkan tak sulit menemukan majelis-majelis dzikir dan semacamnya. Akan tetapi, itu bukan Islam yang kekuatannya mampu menggetarkan musuh Allah. Islam hanya dipandang sebatas agama saja. ada untuk mengurusi ibadah ritual dan aspek moral. Tapi giliran ekonomi, pendidikan, politik, dan pengaturan publik, Islam nyatanya tak terpakai.
Namun, thariqah(metode) yang ditempuh tidak jelas dan kabur. Ditambah hegemoni barat yang bercokol kuat sampai ke akar. Memang pernah ada harapan saat pergolakan timur tengah melanda. Tapi sebatas asa sebab tidak terpenuhinya dua unsur utama agar arahnya benar.
Pertama, menjadikan Islam, baik aqidah maupun syariahnya, sebagai panduan ideologis untuk mendirikan khilafah, yang akan menerapkan Islam secara utuh di dalam negeri dan menyebarkan Islam dengan jihad ke luar negeri.
Kedua, menolak secara total segala bentuk intervensi asing ke negeri-negeri Islam dan tidak minta bantuan kepada asing. Yang terjadi hanyalah perubahan sosok pemimpin, bukan perubahan sistem menjadi khilafah. penderitaan akibat keruntuhan Khilafah begitu terasa menyakitkan.

      Runtuhnya Khilafah pun menjadi awal dari kesengsaraan, penderitaan dan kemunduran Islam dan kaum muslim. Daulah Khilafah dipecah menjadi beberapa negeri Islam kemudian di adu domba dikuasai kafir dan dikeruk seluruh sumber daya alamnya. Ideologi Islam dihapus dan dikubur dalam- dalam, hingga kaum Muslim banyak yang tidak tahu. Kemudian mereka paksa kaum Muslim menerima ideologi kapitalisme- demokrasi. Ideologi kufur yang melahirkan para pemimpin dzalim, pemimpin anti Islam, pemimpin antek asing dan aseng serta pemimpin yang selalu ingkar janji pada rakyat. Seperti negeri kita kini, yang  telah dikuasai rezim anti Islam, hingga banyak ulama di persekusi. Rezim dzalim, selalu mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat. Rezim antek asing dan aseng, yang selalu menganak emaskan para pemodal besar seperti Freeport. Rezim ingkar janji, terlihat dari seluruh kegagalannya dalam meri'ayah umat. Semua ini akibat runtuhnya Khilafah.
    
      95 tahun tanpa Khilafah Islam dihina, dilecehkan dan tercerai-berai. Tanpa Khilafah kaum muslim tak berharga, dibantai, ditindas, dibasmi dan dijajah. Maka sangatlah penting keberadaan Khilafah. Karena adanya Khilafah akan melindungi dan menjaga Islam dan kaum muslim dari keganasan, kedzoliman serta keserakahan kaum kafir. Khilafah juga akan mewujudkan peradaban Islam yang tinggi, sebagaimana dulu banyak tokoh-tokoh Islam. Seperti Ibnu Sina beliau adalah seorang pakar kedokteran, Ibnu rusyid dan az-zahrawi. Kemudian ahli astronomi seperti Az-Zarkalli dan ahli matematika seperti Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa al-Khawarizmi. Kemudian Jabir Ibnu Hayyan pakar ilmu kimia. Lalu ada Ibnu Al Haitsam pakar ilmu alam. Ada lagi Ibnu Khaldun pakar sejarah dan sosiologi serta masih banyak yang lainnya. Ini semua mencerminkan masa -masa keemasan Khilafah. 

      Wahai kaum muslim, kewajiban utama umat Islam adalah hidup di dalam naungan Syariah Islam Kaffah, untuk itu wajib seluruh umat Islam memperjuangkan kembalinya Khilafah.
Sebab Khilafah merupakan mahkota kewajiban atau Tajul furud. Meskipun banyak yang menolak gagasan khilafah dan membenci perjuangannya Khilafah tetap merupakan kewajiban dan janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kini sudah saatnya Khilafah tegak. Sudah saatnya Islam menjadi mercusuar dunia. Sudah saatnya kedzoliman hancur dan kemaksiatan musnah dari bumi Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

     Wahai kaum muslim Mari kita bersatu memperjuangkan Khilafah. Janganlah menjadi orang bodoh, yang diam tak mau berjuang demi keagungan agama Allah subhanahu wa ta'ala. Dan janganlah menjadi orang sesat yang selalu memusuhi Syariah dan Khilafah.
Jadilah kita umat Rasulullah Shallallahu salam yaitu umat terbaik yang diturunkan pada manusia. Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ  بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ مُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ  وَلَوْ  اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ  مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ  الْفٰسِقُوْنَ
kuntum khoiro ummatin ukhrijat lin-naasi ta`muruuna bil-ma'ruufi wa tan-hauna 'anil-mungkari wa tu`minuuna billaah, walau aamana ahlul-kitaabi lakaana khoirol lahum, min-humul-mu`minuuna wa aksaruhumul-faasiquun

"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110).

     Tanda dari kaum muslim yang taat.   adalah memenuhi setiap seruan Allah dan rasul-Nya.
Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْ ۚ  وَاعْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗۤ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanustajiibuu lillaahi wa lir-rosuuli izaa da'aakum limaa yuhyiikum, wa'lamuuu annalloha yahuulu bainal-mar`i wa qolbihii wa annahuuu ilaihi tuhsyaruun

"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 24)
 Wallahu A'lam Bishawab.
 
Top