Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Puluhan Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla, Dimana Peran Negara?

Thursday, November 05, 2026 | November 05, 2026 WIB Last Updated 2026-11-05T08:43:48Z

Oleh. Septa Anitawati, S.I.P.
Founder Sekolah Tahfizh Khoiru Ummah dan Alumnus FISIPOL UGM

Nusantaranews.net,Data Kementerian Kesehatan per 17/10/ 2026, terdapat 311.363 kasus, di antaranya balita (anak kurang dari lima tahun) mendominasi sejumlah 70.239 (22,6%) kasus, ISPA pada 65 kabupaten kota terdapat 7 provinsi yang terdampak, yaitu:  Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Dari jumlah tersebut, balita usia 0-5 tahun yang terdampak mencapai 62.400 kasus atau 22,5%. Kemenkes sudah mengerahkan 2.106 SDMK, mendistribusukan jutaan logistik medis ke wilayah terdampak karhutla. 

Dari 1.691 puskesmas di wilayah terdampak, hanya 827 puskesmas yang memiliki nebulizer, 1.070 puskesmas memiliki tabung oksigen dan 1.502 puskesmas memiliki oksigen concentrator. Alat itu menjadi penunjang penanganan pasien dengan gangguan pernapasan (Puluhan Ribu Balita Terpapar ISPA Akibat Karhutla, Legislator Minta Wilayah Terdampak Ditetapkan KLB (emedia.dpr.go.id/news/24/09/2026). 

Analisis Problematis

Jika ditelisik fakta demi fakta maka terdapat tiga hal penting berikut. 
Pertama, anak usia balita sangat rentan terhadap udara beracun. sistem kekebalan tubuhnya belum sepenuhnya matang. Mengapa hal itu terjadi? 
Karena negara yang seharusnya menjadi pelindung, namun melalaikan kewajibannya. 
Kedua, kalaupun negara melakukan upaya untuk menanggulangi bencana namun belum memadai. Sekaligus menunjukkan negara kurang peduli terhadap kesehatan generasi yang digadang-gadang menjadi generasi emas. 

Ketiga, Karhutla telah berulang terjadi. Kejadian yang masif dan sistematis. Berakar dari Sekularisme yang menyingkirkan agama dari kehidupan. Berikut bangunan sistem Kapitalisme yang terlahir dari aqidah tersebut. Membuktikan bahwa di dalam isi kepala para jajaran peng-peng (penguasa pengusaha) hanyalah harta, materi duniawi semata tanpa memikirkan kesehatan generasi masa depan. Padahal di tangan merekalah penerima tongkat estafet dan yang melanjutkan kepemimpinan mendatang. 

Solusi Konstruktif dan Komprehensif

Di dalam sistem IsIam, setidaknya terdapat empat hal penting solusi konstruktif dan komprehensif berikut. 
Pertama, Negara Khilafah bertanggung jawab terhadap kemaslahatan publik bagi seluruh warga negara, baik muslim maupun non-muslim, diantaranya, jiwa. Juga berfungsi sebagai junnah (pelindung) yang bergerak cepat karena menyangkut nyawa generasi penerus dan  mengerahkan sumber daya secara maksimal dari Baitul Maal Khilafah.
Dalilnya, dari QS. Al-Maidah ayat 32 dan Hadits riwayat An-Nasai dan Tirmidzi, "Hilangnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak." 

Kedua, Negara Khilafah sebagai ra’in (pengelola) akan mengupayakan segala macam cara halal untuk mengatasi seluruh persoalan masyarakat dengan sepenuh hati. Baik secara promotiv, preventif maupun kuratif. Juga menggunakan teknologi yang terbaik.

Ketiga, Khilafah akan melakukan mitigasi terbaik. Tidak menunggu berbulan-bulan seperti saat ini. Karena negara memiliki tanggung jawab penuh terhadap keselamatan seluruh warga negaranya. Dan secara proaktif memantau kondisi real di tengah lapangan agar dapat bertindak tepat dan cepat untuk menyelamatkan generasi.

Keempat, Khilafah memenuhi sarana dan prasarana kesehatan agar dapat melayani rakyatnya dengan optimal. Hal ini adalah bukti bahwa negara menjamin kebutuhan pokok publik, termasuk kesehatan. Tak ada yang mampu menandingi kenyamanan di bawah naungan IsIam secara sempurna. Yang telah terbukti secara empiris pada masa ke-Islaman hingga hampir empat belas abad lamanya. 

IsIam rahmatan lil'alamin benar-benar terwujud dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bahkan tidak hanya dirasakan dan dinikmati oleh seluruh warga negara. Namun juga dirasakan oleh bangsa-bangsa lain di dunia. 

Wallahu a'lam bish-shawab.
×
Berita Terbaru Update