Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Program Kuliah Gratis hanya Ilusi

Saturday, October 10, 2026 | October 10, 2026 WIB Last Updated 2026-10-10T07:03:55Z



Oleh Santika

Pendidik Generasi Qur’ani

 

Nusantaranews.net, Program kerja pemerintahan Prabowo memang selalu penuh kejutan. Pada hari Rabu, 23 September Presiden Prabowo dalam rapat terbatas beserta jajarannya di Istana Merdeka, menginstruksikan kepada jajarannya untuk menyiapkan secepatnya program pendidikan gratis dari jenjang SD sampai di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Dengan mempertimbangkan tahapan pelaksanaan dan fisikal negara. https://money.kompas.com/read/2026/09/24/202106326. Prabowo mengatakan Sumber biaya bisa diperoleh dari uang yang dicuri “ dicolong “ oleh para koruptor negara. Para pengamat mengatakan program ini dapat berjalan selama tetap berjalan dan tidak berselisih dengan program yang lain. Seperti Makan Gizi Gratis (MBG, belanja negara ataupun anggaran belanja diluar sektor pendidikan. Disisi lain banyak yang meragukan program ini , karena menilai pemerintah belum menjadikan pendidikan sebagai pusat perhatian.  Terbukti Kebijakan ini bagaikan bumi dan langit di tengah fenomena efesiensi dan menyusutnya porsi anggaran APBN pada PTN – BH selama satu dekade ini. Serta terus meningkatnya UKT diberbagai perguruan tinggi yang mengakibatkan banyaknya calon mahasiswa mengundurkan diri padahal sudah jelas – jelas mereka diterima.

Adanya program kuliah gratis bagaikan angin segar di tengah gurun pasir yang tandus. Itulah yang dirasakan oleh jutaan  keluarga yang selama ini mengalami kendala dalam pembayaran UKT. Namun , program ini sebetulnya bukan merubah sistem pendidikan namun hanya mengalihakan  pendidikan komersil ala kapitalisme dari pembayaran yang biasanya dilakukan oleh orang tua kemudian beralih ke negara yang membayarnya melalui APBN, padahal sejatinya jika pendidikan gratis bergantung pada APBN itu adalah sebuah program yang amat rapuh, karena pasti akan mengikuti kemampuan fiskal, ditambah dengan arah kebijakan pemerintah yang seperti ombak banyu sulit untuk ditebak. Bisa jadi tahun ini pendidikan gratis menjadi prioritas, tetapi belum tentu dengan tahun tahun selanjutnya bisa jadi bukan prioritas APBN. Jika program ini berjalan, sebetulnya Perguruan tinggi masih dengan sistem yang sama yaitu bagaimana mereka menghasilkan keuntungan  yang sebesar – besarnya dengan masih tetap memikirkan persaingan pasar. Program ini pun kontradiktif dengan otonomi PTN – BH. Dimana setiap PTN memiliki kebijakan otonomi sendiri dalam pengelolaan uang dan mencari Sumber Dana. Sehingga membuka celah lebar ruang komersialisasi. Selama pendidikan masih berstatus program, bukan sebuah kewajiban yang mengikat  negara dalam memberikan pendidikan gratis  maka selamanya tidak akan memihak kepada rakyat yang memang membutuhkan pendidikan gratis, walhasil pendidikan gratis hanyalah sebuah angan yang kunjung jadi kenyataan. Diperparah dengan pernyataan bahwa uang yang akan digunakan untuk program ini uang yang dicuri “dicolong” oleh para koruptor. Yang tidak jelas jumlah pendapatannya. Belum lagi lemahnya hukum yang tegak saat ini. Menjadikan banyaknya para koruptor yang melenggang kangkung. Bebas tanpa kepastian hukum yang jelas.

Jika kita amati program ini lebih kepada janji politik guna menaikkan elektibilitas bukan kepada program jangka panjang yang akan menguntungkan kepada rakyat, karena ketidak jelasan dan kepastian sumber dana dan tidak berubahnya sistem pendidikan yang hanya akan meninggikan angan. Inilah hasil sistem kapitalisme yang menjadikan negara hanya sebagai regulator bukan pengurus rakyatnya.

Berbeda dengan sistem Islam, Islam sebagai ideologi memiliki aturan urusan publik termasuk pendidikan. Islam memandang bahwa pendidikan adalah kewajiban negara dalam penyediaan pendidikan gratis tanpa membedakan rakyatnya dan tanpa syarat kemampuan fiskal tahunan, karena negara bukan hanya penyelenggara program tapi negara adalah ra’in ( pengurus). Sesuai dengan hadis Riwayat Bukhari Muslim

"كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ"

yang berarti: "Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." 

Sehingga negara tidak akan tunduk pada kebijakan tapi akan tunduk kepada hukum syariat yang mengikat. Sumber dana yanga akan digunakan oleh negara berasal dari baitul mal yang berasal dari kepemilikan umum yang dikelola oleh negara seperti dari SDA, sehingga akan berkelanjutan bukan Dari Sumber pajak atau utang bahkan bukan dari uang hasil Curian para koruptor.

Maka dari itulah saat ini kita hanya bisa percaya terhadap sistem Islam yang akan menjadikan hukum Islam tegak dimuka bumi sesuai apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw., yang nyata terbukti selama berabad abad lamanya bisa mencetak para pembangun peradaban, para ilmuwan, alim ulama dari pendidikan gratis dengan sistem Islam.

Saatnya berjuang kembali menegakkanya sehingga dapat mengembalikan lagi peran perguruan tinggi yang akan mencetak generasi–generasi peradaban yang mumpuni dengan ilmu tinggi dan berkepribadian islami. Bukan seperti hari ini yang menghasilkan para calon pejabat berdasi tanpa faham terhadap sistem Islam itu sendiri. Wallahu’alam bish shawab.

 

 


×
Berita Terbaru Update