Oleh: Inge Oktavia (Praktisi Pendidikan)
Fakta Mengejutkan
Baru-baru ini jagat maya dihebohkan oleh berita yang menyesakkan dada. Sebuah pagelaran besar yang rutin dilaksanakan setiap tahun ternoda oleh sebuah pertunjukan yang membelalakkan mata. Acara pagelaran yang tampaknya biasa-biasa saja menjadi gempar di jagat maya. Acara tahunan yang mulanya digagas sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad saw sekaligus khitanan massal ke-61 menuai kontroversi. Lantarannya adalah menyajikan pertunjukan yang bernuansa mistik yang dinilai mirip dengan ritual satanik.
Merespon hal tersebut Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Kholil Nafis menyatakan bahwa atraksi menyeramkan yang menonjolkan simbol-simbol satanik serta aksi penyembelihan hewan secara sadar dan sadis di muka umum sangat bertentangan dengan esensi ajaran Islam dan nilai-nilai mulia di dalam peringatan Maulid Nabi (MUI.co.id, 14 September 2026).
Pola Berulang
Karnaval tematik ini ternyata bukan kali pertama. Pada tahun lalu juga telah terjadi, tepatnya di Malang- Jawa Timur. Senada dengan yang disampaikan oleh pemeran karnaval kemarin bahwa semua kostum dan lain-lain menjiplak langsung dari acara di Malang. Pemeran juga merasa tidak tahu menahu dengan ritual satanik. Mereka mengaku hanya mencari yang beda. Bahkan kambing yang disembelih mereka niatkan untuk tasyakuran bersama pasca acara. Padahal para pemerannya tentu semuanya adalah muslim. Dalam momentum Maulid Nabi, kegembiraan tersebut seharusnya diberikan melalui amalan yang mendidik, membawa kedamaian serta merefleksikan akhlak mulia Nabi.
Bukan Cermiman Kepribadian Islam
Yang terjadi di atas sangat bertolak belakang dengan hakikat kepribadian Islam. Kepribadian Islam terbentuk dari pola akal dan pola sikap. Tingkah laku seseorang berangkat dari bagaimana pemikirannya dalam memandang segala sesuatu. Islam selalu mengajarkan, sebelum kita melakukan suatu perbuatan baiknya dicari dan diketahui dulu hukum-hukum yang melekat pada sesuatu tersebut. Jadi bukan seperti seorang anak kecil yang belum sempurna akalnya. Terlalu sering berimitasi pada lingkungannya. Masyarakat lebih-lebih negara berperan sebagai penjaga sekaligus pelindung akidah umatnya.
Negara seharusnya dapat melindungi akidah dari berbagai ancaman dari luar. Setiap kemunculannya negara bisa memfilter. Begitu pula bagaimana akidah umat dapat terbentuk dengan kuat dan tangguh. Lebih-lebih kabar tentang datangnya akhir zaman yang ditandai dengan kemunculan Dajjal, maka umat Islam harus mengetahui itu. Sebab fitnah-fitnah yang akan dibawanya amatlah besar termasuk fitnah agama. Ritual satanik yang dipertontonkan dengan terang-benderang menunjukkan simbol-simbol Dajjal seperti lingkaran penthagram, baphomet, mata satu dan lainnya.
Hari ini informasi apapun bisa sangat liar masuk ke dalam pikiran masyarakat. Sebagaimana ilmu dari seorang ulama besar dalam kitab Nizhamul Islam, bahwasanya akidah dibentuk melalui proses berpikir. Islam tidak menerima keyakinan secara normatif, melainkan dituntut untuk menggunakan akalnya secara aqliyah untuk memahami akidah Islam. Sebagaimana Allah SWT berulang kali menyampaikan di dalam Alquran, menyeru manusia untuk berpikir memperhatikan dan mengambil pelajaran. Dengan pondasi pola pikir yg kuat yang lahir dari sebuah akidah yang haq tersebut, maka akan berpengaruh terhadap pola sikapnya di dalam memandang dan menjalani kehidupan.[]
