Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty
Berbicara tentang peradaban tentunya tak terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu dan kini. Sebagai muslim, ukuran maju mundur sebuah peradaban tentunya tak lepas dari pondasi apa peradaban itu dibangun.
Terkait masa lalu, kala peradaban ini berada di pondasi yang salah, fitrah manusia berontak. Kurang lebih 70 tahun komunis menggenggam, kurang lebih satu abad berikutnya kapitalis, keduanya hanya melahirkan ketidakselarasan hidup manusia di dunia dan setelahnya.
Sayangnya, saat dunia diisi sejarah peradaban yang bersinar, kurang lebih 14 abad lamanya, kehadirannya belum disikapi sesuai cahaya kehidupan yang dibawanya. Peradaban Islam yang membawa kebaikan, di mana fitrah manusia dengan eloknya distandarkan pada Allah Ta'ala, ada yang menerimanya hanya sebagai cerita sejarah. Ada pula yang menerima sebagai euforia masa lalu. Mirisnya ada pula yang ragu.
Namun di antara berbagai penerimaan, masih ada kelompok yang sangat percaya bahwa ini bukan hanya utasan sejarah biasa. Ada PR yang belum tuntas dikerjakan. Ada perintah yang harus dilakukan. Ada peradaban yang harus dikembalikan. Mereka sangat yakin dengan seruan Allah Ta'ala dalam firmanNya,
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan "mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung."(QS. Ali Imran:104).
Kelompok ini memiliki kesadaran historis. Kesadaran penuh bahwa keadaan umat Islam, baik di negeri ini maupun secara umum di dunia, merupakan buah dari peristiwa-peristiwa politik pada masa lalu, terutama runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924.
Kelompok ini menyadari bahwa saat keruntuhan itu terjadi, umat Islam tidak lagi memiliki junnah, tidak lagi memiliki imam, pemimpin, amirul mukminin yang berfungsi sebagai pelindung atau junnah. Umat Islam tidak lagi memiliki payung dunia Islam sehingga umat tercerai-berai dan orang sering mengatakan umat Islam ini hari itu bagaikan anak ayam kehilangan induk.
Bagi kelompok ini, negeri muslim tercerai-berai begitu rupa sangat erat kaitannya dengan momen-momen penting sebelum keruntuhan 1924. Perjanjian Sykes-Picot telah membelah wilayah dunia Islam yang sebelumnya berada dalam satu kesatuan menjadi wilayah di bawah kekuasaan Inggris dan Prancis. Kondisi Khilafah Utsmaniyah yang makin lemah saat itu, dipengaruhi faktor internal dan eksternal.
Semua itu adalah sejarah. Tak bisa dihapus. Tak bisa dibiarkan melenggang begitu saja.
Ada luka menganga yang masih mengucurkan darah kaum muslimin. Dan ini hanya bisa difahami oleh siapa pun yang memiliki kesadaran sejarah Islam. Oleh karena itu, keberadaan kelompok ini seharusnya didukung dengan dukungan terbaik karena kelompok ini hanya memiliki tujuan mulia yaitu menyambut seruan Allah Ta'ala (QS. Ali Imran:104) agar sejarah kejayaan yang pernah terjadi di masa lalu (berdirinya Khilafah Islamiyyah) sekian abad lamanya bukan hanya sekadar cerita, namun kejayaan yang seharusnya dikembalikan oleh umat Islam.
Menjadikan kesadaran sejarah sebagai bagian yang mampu mewujudkan kembali peradaban Islam menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan. Tinggal kita mau berada di mana, hanya tahu saja, hanya ingin tahu saja, diam saja atau menjadi bagian yang menjawab dengan lantang, "kami ingin kembali berjaya sebagaimana dulu Islam berjaya dan menghadirkan kebaikan untuk seluruh dunia-Rahmatan lil 'alamiin.
Wallaahu a'laam bisshawaab.
