Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty
Saat ini dunia telah menggambarkan berbagai problematika yang sangat menyulitkan kehidupan manusia. Semua ini tak bisa dilepaskan dari kepemimpinan dengan paradigma sekuler kapitalisme yang diembannya. Sebuah kepemimpinan yang selayaknya tidak harus dipertahankan.
Krisis dunia terjadi dari masa ke masa. Asas sekularisme telah menggiring kehidupan tidak diatur dengan halal haram. Akal manusia yang sarat kepentingan, khususnya kepentingan para pemilik kapital dituhankan.
Keluarga internasional, lembaga internasional, hukum atau undang-undang internasional berjargon perdamaian internasional, hak asasi manusia, dan sejenisnya, dibuat demi mengukuhkan hegemoni kapitalisme global. Semua itu menjadikan persatuan dan kekuatan umat Islam dilumpuhkan, termasuk tradisi jihad dan Khilafah yang terus mereka propagandakan sebagai ancaman terhadap keseimbangan dunia internasional.
Sejatinya dunia ini butuh kembali pada sistem kepemimpinan yang terbaik. Kepemimpinan yang menjadikan dunia dimakmurkan dengan kebaikan bukan dengan kehancuran. Dan Islam, yakni Khilafah, yang selama belasan abad pernah berhasil mewujudkannya. Rahmat bagi seluruh alam dibangunnya.
Sistem ini dibangun di atas asas yang kukuh dan universal, yakni berupa keimanan kepada Allah Swt. sebagai Sang Pencipta dan Sang Pengatur alam semesta. Asas inilah yang melahirkan prinsip utama dalam sistem Khilafah, yakni menempatkan kedaulatan hanya di tangan syariat, bukan di tangan manusia atau kehendak negara adidaya.
Islam tidak mengenal standar ganda karena timbangan amalnya adalah hukum-hukum syarak. Hukum syaraklah yang menetapkan bahwa penjajahan, pembunuhan warga sipil, dan perampasan tanah adalah haram, siapa pun pelakunya. Hukum syarak pula yang menetapkan bahwa tunduk pada kehendak penjajah, membela dan bergabung dengan pasukan penjajah, memberi jalan untuk membunuh sesama umat Islam adalah haram.
Islam juga menetapkan bahwa seorang khalifah adalah pengurus sekaligus pelindung umat (raa’in dan junnah). Alhasil, wajib baginya untuk menjamin kesejahteraan seluruh rakyatnya sekaligus melindungi kehormatan dan darah (nyawa) mereka, baik muslim maupun nonmuslim. Oleh karenanya, jika Khilafah ada, tidak mungkin warga Gaza dan Palestina lainnya akan dibiarkan selama 75 tahun menderita.
Dalam sistem Islam, kepemimpinan di tangan Khalifah, dengan andasan iman dan ketundukannya pada hukum-hukum syarak, akan segera memobilisasi tentara tepat pada hari pertama kezaliman diterima warganya, lalu membungkam kepongahan entitas Zion*s sekaligus bersama sekutu-sekutunya. Hal ini sangat dimungkinkan karena sistem kepemimpinan Islam adalah satu untuk dunia.
Sistem Islam akan menghapus sekat-sekat yang memecah belah umat menjadi lebih dari 50 negara yang lemah tak berdaya. Kesatuan politik umat dibangun agar lumat mampu menjadi penyeimbang kekuatan global yang sesungguhnya.
Sistem Islam siap merebut kembali kepemimpinan global hingga musuh tidak lagi punya nyali di hadapan umat Islam. Tidak lagi jumawa, menginjak-injak kaum muslimin.
Sungguh, kepemimpinan Islam memiliki karakter yang berbeda secara diametral dengan sistem kepemimpinan sekuler kapitalisme liberal. Sistem Islam sangat kental dengan dimensi ruhiyah.
Siapa pun para pemimpinnya, dalam sistem Islam mereka sadar bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban sehingga jangankan dalam urusan nyawa manusia, urusan keselamatan seekor keledai saja bisa menjadikan Umar bin Khaththab ra. menangis sejadi-jadinya. MaasyaaAllaah.
Oleh karenanya, penegakan Khilafah Islamiyyah menjadi perkara yang sangat penting dan genting bagi umat Islam di seluruh dunia. Agenda ini harus menjadi agenda bersama bagi mereka yang sedang mengikhtiarkan perubahan agar fokus mengarah pada solusi yang benar dan mengakar, bukan pada solusi pragmatis yang melanggengkan kerusakan, kehancuran.
Butuh keseriusan, kesabaran, dan pengorbanan besar, karena penegakkan Khilafah butuh dukungan umat beserta para pemilik kekuatan yang memiliki kesadaran. Butuh kesadaran penuh bahwa sistem saat ini batil dan rusak.
Tentunya seruan kuat untuk mengubah pemikiran menjadi sangat penting. Dakwah Islam kafah alias Islam ideologis yang dilakukan secara berjemaah dan tanpa kekerasan harus terus digaungkan karena dakwah seperti inilah yang yang dicontohkan baginda Rasulullah saw. saat mengubah tatanan kehidupan jahiliah menjadi tatanan kehidupan Islam.
Beliau hadapi dan lalui berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang ada hingga berhasil menghantarkan perjuangan pada kemenangan, yakni berupa tegaknya Daulah di Madinah sebagai titik tolak bangkitnya peradaban Islam hingga menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Demikianlah memperjuangkan Islam sebagaimana yang diperjuangkan Rasulullah ﷺbukanlah perjuangan sisa, namun perjuangan utama dengan segenap pengorbanan yang terus berharap pada nashrullah. Tinggal bergerak dengan keyakinan penuh bahwa Allah Ta'ala selalu membersamai langkah para pejuangNya.
Wallaahu a'laam bisshawaab.
