Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Klaim Tepi Barat "Milik Israel", Bukti Solusi Dua Negara Hanya Ilusi

Sunday, October 11, 2026 | October 11, 2026 WIB Last Updated 2026-10-11T11:32:10Z





Oleh. Fransiska, S.Pd.
Muslimah Peduli Umat


Nusantaranews.net, keberadaan Israel masih terus berusaha untuk merebut wilayah Palestina. Hingga Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengklaim bahwa seluruh tiga wilayah administratif di Tepi Barat adalah “milik Israel." Hal ini bertentangan dengan pengaturan yang ditetapkan dalam Kesepakatan Oslo antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Karena berdasarkan Kesepakatan Oslo II 1995, Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B, dan C. Area A berada di bawah kendali penuh Palestina, sedangkan Area B berada di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel. Area C, yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh Israel (MetroTV, 3/10/26).

Selain itu, Ben-Gvir juga mengancam akan membubarkan Otoritas Palestina serta mendorong pemindahan warga Palestina dari Tepi Barat dan Jalur Gaza jika ia menjabat sebagai menteri pertahanan (Minanews.net, 3/10/26).

Niat dan tujuan sebenarnya dari zionis Israel adalah menguasai seluruh wilayah Palestina, mulai dari Tepi Barat hingga Gaza, demi mewujudkan proyek ekspansi Israel Raya. Keinginan ini bukan lagi sekadar retorika politik, melainkan aksi sistematis yang terus dilancarkan di lapangan. Kejahatan yang mereka lakukan merupakan penyerangan terbuka terhadap kemanusiaan dan martabat umat Islam. Di Gaza, aksi genosida dan pemboman tanpa henti telah merusak lebih dari 80 persen bangunan, menghancurkan ratusan ribu tempat tinggal, serta meruntuhkan fasilitas publik dan rumah sakit. 

Di Tepi Barat dan Al-Quds, pemukiman warga Palestina terus dirampas, rumah-rumah dibakar, dan puluhan masjid dihancurkan atau ditutup secara sepihak. Penodaan serta pendudukan yang berulang di kompleks Masjid Al-Aqsa situs tersuci ketiga bagi umat Islam menjadi bukti nyata dari ancaman terhadap warisan dan identitas Islam di tanah Palestina. Melihat skala penghancuran dan aneksasi yang terjadi, wacana "Solusi Dua Negara" yang terus digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, negara-negara Sekutu, dan sebagian penguasa negeri Muslim hanyalah sebuah kebohongan dan ilusi belaka. Retorika diplomatik tersebut hanya menjadi kedok untuk mengulur waktu, sementara di lapangan, perampasan tanah dan penghapusan identitas Palestina terus berjalan tanpa henti.

Penyelesaian atas konflik dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh zionis Israel di Palestina menuntut langkah-langkah strategis yang mendasar dan menyeluruh. Langkah awal yang krusial adalah membangun kesadaran kolektif di tengah umat Islam dan masyarakat internasional bahwa zionis Israel memiliki agenda tersembunyi maupun terbuka untuk merampas seluruh wilayah Palestina, menyempurnakan genosida, serta melakukan pengusiran secara sistematis.

Melihat skala kejahatan yang telah melampaui batas toleransi, penyelesaian masalah ini diyakini tidak akan pernah tuntas melalui perundingan damai, diplomasi formal, ataupun skema solusi dua negara yang selama ini didengungkan. Perlawanan terhadap penjajahan mutlak ini dipandang wajib ditempuh melalui penerapan syariat jihad fii sabilillah.
Kendati demikian, perlawanan tersebut dihadapkan pada tantangan besar berupa sikap para pemimpin negara Arab yang masih membuka ruang dialog dan pertemuan dengan pihak musuh, yang dinilai sebagai bentuk pengkhianatan nyata terhadap perjuangan rakyat Palestina. 

Oleh karena itu, efektivitas jihad melawan zionis Israel hanya akan tercapai secara sempurna apabila dilandasi oleh persatuan yang kokoh di antara umat Islam di bawah satu komando kepemimpinan global, yaitu seorang Khalifah. Dalam hal ini, perjuangan untuk menegakkan sistem Khilafah sangat penting untuk menyatukan kekuatan kaum Muslim secara total dalam jihad fii sabilillah demi membebaskan tanah Palestina secara menyeluruh.

Wallahualam bissawab.
×
Berita Terbaru Update