Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapitalisme Menciptakan Gaya Hidup Downgrade

Wednesday, October 21, 2026 | October 21, 2026 WIB Last Updated 2026-10-20T20:22:41Z





Oleh: Emy (Aktivis muslimah).

R EPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Saat ini di media sosial banyak warga net yang membagikan unggahan tentang gaya hidupnya yang terpaksaharus di-downgrade. Misalnya, ada yang harus beralih naik motor setelah mobilnya dijual, ada juga yang harus menurunkan bujet makan nongkrong. Intinya mereka beralih ke pilihan barang dan layanan yang lebih murah. Lantas apa yang memicu penomena ini? Pakar ekonomi dan bisnis sekaligus dosen di UGM, Wisnu Setiadi Nugroho, menilai downgrading merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, dan bukan pilihan gaya hidup semata. Menurut dia, rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan dengan mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel atau tersier ketika pendapatan mengalami tekanan atau ketidakpastian. "Downgrading ini saya lihat sebagai respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan pilihan gaya hidup," kata Wisnu dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (7/10/2026).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dalam kondisi ekonomi lebih dikenal sebagai consumtion smoothing yaitu upaya rumah tangga menjaga konsumsi inti tetap relatif stabil dengan mengorbankan konsumsi yang lebih fleksibel. Dengan demikian, masyarakat melakukan penyesuaian bukan karena sedang ingin berhemat, tetapi karena ruang pilihan dalam mengatur pengeluaran kian terbatas. Wisnu melihat adanya dua faktor yang saling memperkuat terjadinya downgrading. Pertama, pendapatan rill yang stagnan di tengah kenaikan harga kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan energi. Kondisi tersebut, membuat kemampuan belanja rill rumah tangga menyusut meskipun pendapatan nominal tidak mengalami perubahan.

Fenomena penurunan, atau downgrade saat ini menjadi pemberitaan yang cukup hangat dimedia sosial. Keadaan ekonomi yang semakin meningkat membuat masyarakat harus pintar-pintar dalam membelanjakan uang mereka. Mengatur antara pendapatan dan pengeluaran, dan menyesuaikan pola konsumsinya. Seperti halnya, dari biasanya membeli barang mewah kini beralih membeli barang yang lebih terjangkau. Didalam sistem kapitalisme, situasi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang mempunyai modal besar. Pinjaman online yang berbasis riba ditawarkan dengan proses yang lebih dipermudah. Bagi orang yang sudah biasa hidup hedonis, justru tawaran ribawi akan menjadi jalan alternatif untuk memenuhi segala keinginannya dan tidak memperdulikan keharamannya. Bagi yang tidak berfikir panjang, pinjaman ribawi seolah memberikan pertolongan bagi dirinya. Tetapi, fakta yang sebenarnya akan membuat mereka lebih menderita karena lilitan bunga yang yang mencekik. Bahkan, yang lebih miris sering diberitakan dampak akibat pinjol sampai membunuh, dan mengakhiri hidupnya akibat depresi yang diakibatkan terlilit hutang karena faktor ekonomi.

Dengan melambungnya kenaikan harga disegala lini, tentunya tidak datang dengan sendirinya. Namun, adanya kebijakan tata kelola yang berasal dari paradigma sekulerisme, mencari keuntungan sebesar-besarnya tidak peduli rakyat kecil semakin terkucil. Masalah downgrade bukan hanya peralihan gaya hidup dari serba mewah menjadi sederhana, melainkan cermin dari rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme. Bila diperhatikan, faktor terjadinya downgrade adalah sistem kapitalisme yang merubah pola pikir masyarakat menerapkan gaya hidup mewah yang mendahulukan gengsi. Oleh sebab itu, kapitalis lah yang menciptakan kemiskinan struktural, karena kebijakan yang dibuat justru menyusahkan perekonomian rakyat. Dimulai dari kebijakan kenaikan harga bahan pokok yang setiap saat merangkak naik, kebijakan pajak yang harus dibayar dari segala sektor, belum lagi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membuat masyarakat tidak mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, kekayaan hanya berkutat dikalangan aseng dan asing saja, karena untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat harus berusaha sendiri.

Dalam sistem kapitalisme, negara seolah-olah lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Karena, negara hanya berperan sebagai regulator saja dan sumber daya alam yang melimpah diserahkan kepada pihak swasta. Seharusnya, negara mengelola sumber daya alam sebaik-baiknya dan hasilnya dipergunakan untuk mensejahterakan rakyat. Negara seharusnya, memenuhi segala kebutuhan dasar rakyatnya seperti pangan, papan, sandang pendidikan dan juga kesehatan. Jadi jika rakyat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, ujung-ujungnya mengambil solusi tuntas yaitu berhutang ribawi.

Dalam Islam, negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya dan dipastikan tidak ada yang menganggur akibat dari PHK, negara juga tidak akan membebani dengan kebijakan pajak yang menambah beban rakyat. Negara dalam sistem Islam, berfungsi sebagai raa'in yang akan menjalankan tugasnya melayani rakyatnya. Karena dalam Islam, negara harus memastikan tidak ada satupun rakyat yang kelaparan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, hanya dengan menerapkan sistem Islam segala permasalahan dapat diatasi, karena hanya islamlah yang akan memberikan solusi hakiki dalam segala permasalahan umat. Dengan sistem ekonomi Islam, kemiskinan yang mengancam dapat diatasi dan kesejahteraan rakyat akan terwujud.

Wallahu alam Bis'showab
×
Berita Terbaru Update