Oleh: Komanah (Aktivis muslimah).
JAKARTA, KOMPAS.com - tanggal gajian tiba. Notifikasi transfer ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagaian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile bankking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, dan yang lainnya yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban itu selesai, sebagian lainnya membuka keranjang belanja daring yang sudah diisi sejak beberapa hari sebelumnya. Ada yang membeli alat kecantikan, memesan makanan, menonton film sampai berburu konser. Hal seperti itu, kini menjadi hal yang biasa lumrah terjadi. Dimedia sosial kebiasaan tersebut dengan berbagai istilah, mulai dari self-reward, litlle treat, hingga, healing tipis-tipis. Bagi sebagian orang, pengeluaran itu dianggap sebagai bentuk pemborosan. Namun bagi banyak Gen Z, membeli sesuatu setelah menerima gaji merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja selama sebulan penuh. Lalu muncul pertanyaan, apakah kebiasaan self-reward benar-benar mencerminkan gaya hidup konsuntif, atau justru menjadi cara generasi muda bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Ternyata, notifikasi gaji yang masuk ke rekening setiap akhir bulan selalu menjadi momen yang ditunggu Bella, warga Jakarta (28). Sebagai pekerja yang jauh dari keluarga, Bella menyewa rumah di Jakarta agar jarak tempat kerja lebih dekat. Menurut aku, membayar sewa hunian menjadi salah satu kebutuhan primer dan memang itu yang harus lebih dulu aku bayar ketimbang nabungnya," kata Bella kepada kompas. com. Setelah urusan sewa selesai, barulah ia menyisihkan sebagian tabungan dan dana darurat. Meski begitu, bukan berarti Bella sama sekali tidak menikmati hasil kerja kerasnya. Sesekali ia membeli pakaian. Karena, aku sadar diri gajiku gaseberapa. Jadi bentuk self reward pun harus aku rem," katanya.
Di sistem Kapitalisme, menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z di mana biaya hidup terus meningkat sementara gaji stagnan. Sedangkan, negara sangat abai dengan kewajiban memenuhi kebutuhan dasar, sehingga generasi muda berjuang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Tekanan ekonomi diperparah oleh gaya hidup Sekuler-Liberal yang menjadikan gaya hidup self-rewad, heling, dan konsumsi hedonis sebagai "solusi " pelarian.
Media sosial juga, terus mencekoki generasi bangsa ini dengan tren yang mengakibatkan generasi muda bergaya hidup hedoni dan budaya belanja implusif. Dibalik itu, tidak disadari oleh generasi Gen Z bagai mana memahami tujuan hidupnya sehingga kebahagiaan diukur dengan kehidupan yang mewah yang hanya mengantarkan kenikmatan materi sesaat, bukan mengejar ridha Allah dan kemuliaan Islam. Inilah cerminan dari sistem yang sekarang kita anut, yang menjadikan gaya hidup bebas tidak mengenal halal atau haram yang penting kebutuhan tertutupi padahal, hudup ini hanya sementara. Sekulerisme, menjadikan Gen Z bergaya hidup bebas tanpa batas jauh dari aturan Islam.
Lain dengan aturan sistem Islam, Daulah menjamin kebutuhan dasar seluruh rakyat melalui pengelolaan sumber daya manusia. Serta, memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap kepala keluarga atau setiap laki-laki, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Islam menjaga gaya hidup hedonis,berlebihan dan melindungi generasi dari paparan konten yang akan merusak gaya hidup para pemuda. Media dalam Daulah Islam, akan diarahkan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan seluruh rakyatnya. Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia yaitu, beribadah kepada Allah dengan akidah yang kokoh, generasi akan memiliki visi sebagai pembangun peradaban Islam yang gemilang.
Sistem ekonomi Islam adalah, sistem perekonomian yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah. Gen Z di Indonesia mulai mengubah trend ekonomi syariah melalui fenomena "hijrah finansial". Mereka memadukan nilai etika, keadilan, dan keberlanjutan lingkungan ke dalam pengelolaan keuangan digital yang bebas riba, menjadikan ekonomi Islam bukan sekedar identitas religius tetapi gaya hidup etis seharusnya. Peran dan karakterstik Gen Z dalam ekonomi Islam memanfaatkan fintech syariah, aplikasi ivestasi halal, dan dompet digital berbasis syariah secara masif. Menghindari instrumen keuangan berisiko tinggi atau sepekulatif, dan memilih investasi berbasis aset riil. Dalam Isalam, gaya hidup sangat dijaga bukan hanya oleh individu, tapi Negara ikut mengawasi dan menjaganya untuk kemajuan generasinya. Karena, generasi adalah penerus peradaban Islam yang akan melahirkan peradaban yang cemerlang berasaskan Islam.
Wallahu alam Bis'showab
