Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ketika Miras Disejajarkan Dengan Al-Qur'an, Darurat Moral Generasi

Monday, August 17, 2026 | August 17, 2026 WIB Last Updated 2026-08-17T09:49:11Z


Oleh. Wanti Ummu Nazba 
(Muslimah Peduli Umat)


Nusantaranews.net, belakangan ini masyarakat dikejutkan oleh sebuah kejadian yang sangat memprihatinkan dan tidak semestinya terjadi di tengah masyarakat yang kehidupan beragamanya masih kuat.

Dalam sebuah festival, penyelenggara mengadakan tantangan berupa membaca atau menghafalkan surat tertentu dari Al-Qur'an, seperti Surah Ad-Duha. Peserta yang mampu melakukannya diberikan hadiah berupa sebotol minuman keras (miras).

“Menjadikan bacaan Al-Qur'an sebagai sarana promosi untuk mendapatkan minuman keras bukan hanya bentuk kreativitas yang keliru. Tindakan tersebut menyangkut persoalan serius terkait penghormatan terhadap simbol dan kesucian agama, bahkan berpotensi masuk dalam ranah dugaan penistaan agama,” ujar Ustadz Erick kepada Republika.co.id, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, persoalan tersebut muncul karena mempertemukan sesuatu yang dimuliakan dalam agama, yaitu Al-Qur'an, dengan sesuatu yang secara tegas diharamkan oleh agama, yakni khamar.

Ustadz Erick juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 90 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjauhi khamar, perjudian, berhala, dan praktik mengundi nasib.

Peristiwa tersebut kemudian menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka menegaskan bahwa Al-Qur'an merupakan Kalamullah dan Kitab Suci yang wajib dihormati serta dijunjung tinggi. Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah, sementara miras adalah sesuatu yang haram dan dapat menjerumuskan manusia. Menyandingkan keduanya merupakan tindakan yang merendahkan kesucian agama serta melampaui batas etika dan hukum.

Akar Masalah dari Sistem Kapitalisme

Mengapa tindakan yang tampak tidak masuk akal tersebut dapat terjadi? Salah satu akar persoalannya adalah sistem nilai dan pola pikir kapitalisme yang telah merasuk ke berbagai aspek kehidupan.

1. Keuntungan Materi Menjadi Tujuan Utama

Kapitalisme menempatkan keuntungan materi sebagai tujuan utama dengan mengesampingkan nilai moral, etika, dan agama. Segala sesuatu dipandang sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan, termasuk sesuatu yang memiliki nilai kesucian, selama dapat memberikan keuntungan ekonomi.

2. Segala Sesuatu Dipandang Bisa Dijual

Dalam pandangan tersebut, tidak ada sesuatu yang benar-benar dianggap sakral. Bahkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dapat dijadikan sarana promosi demi menarik perhatian konsumen dan meningkatkan penjualan, meskipun produk yang ditawarkan merupakan sesuatu yang haram dan dapat merusak akal serta moral manusia.

3. Mengabaikan Nilai Spiritual dan Kemanusiaan

Kapitalisme cenderung mengakui sesuatu berdasarkan nilai yang dapat diukur secara materi. Sementara itu, kesucian, kehormatan, harga diri, dan kesejahteraan jiwa tidak dipandang sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi. Akibatnya, hal-hal tersebut mudah dikorbankan demi kepentingan pasar.

4. Mengaburkan Batas antara Halal dan Haram

Demi meningkatkan penjualan, batas antara yang benar dan yang salah dapat menjadi semakin kabur. Kondisi ini kemudian menciptakan pola pikir bahwa kemaksiatan dapat ditoleransi selama mampu memberikan keuntungan.

Kembali kepada Prinsip Al-Qur'an

Islam hadir dengan pandangan yang jelas dan tegas untuk meluruskan berbagai kekeliruan tersebut sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur'an.

1. Menjaga Kesucian Agama dan Menolak Penghinaan

Allah SWT menjelaskan bahwa Al-Qur'an merupakan kitab yang mulia dan terjaga kesuciannya.

“Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara, tidak dapat disentuh kecuali oleh mereka yang disucikan...” (QS. Al-Waqi'ah: 77-79).

Islam melarang penggunaan sesuatu yang suci untuk kepentingan perdagangan maupun hiburan yang merendahkan martabatnya.

2. Menetapkan Batas Halal dan Haram secara Tegas

Allah SWT telah menetapkan batas yang jelas sebagaimana firman-Nya:

“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).

Mengenai minuman keras, Allah SWT juga berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’.” (QS. Al-Baqarah: 219).

Miras merupakan sumber keburukan dan dapat menimbulkan perpecahan sehingga tidak pantas dijadikan hadiah atas suatu ibadah.

3. Harta Merupakan Titipan, Bukan Tujuan Akhir

Islam mengajarkan bahwa harta merupakan amanah dari Allah SWT, bukan sesuatu yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia.

“...Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu...” (QS. An-Nur: 33).

Dengan demikian, kegiatan ekonomi seharusnya dijalankan berdasarkan etika, kejujuran, dan keadilan, bukan sekadar mengejar keuntungan dengan mengabaikan aturan agama.

4. Membangun Masyarakat yang Beretika dan Peduli

Islam membangun kehidupan masyarakat melalui berbagai ajaran seperti zakat, infak, sedekah, serta larangan riba yang bertujuan menjaga keadilan dan memperkuat persaudaraan.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9).

Fenomena “membaca Al-Qur'an mendapatkan hadiah miras” menjadi gambaran nyata tentang bagaimana pola pikir yang mengutamakan keuntungan dapat merusak tatanan nilai dan mengabaikan kesucian agama.

Islam mengajarkan bahwa bekerja dan berusaha untuk memperoleh kehidupan yang baik merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Namun, usaha tersebut tidak boleh dilakukan dengan melanggar aturan Allah, merendahkan ibadah, ataupun mengonsumsi dan memberikan sesuatu yang haram.

Karena itu, kembali kepada nilai-nilai Al-Qur'an merupakan langkah utama untuk membangun kehidupan yang mulia, mewujudkan kesejahteraan di dunia, serta memperoleh keselamatan di akhirat.

Wallahu a'lam bish-shawab
×
Berita Terbaru Update