Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

HIV di Kalangan Pelajar, Saatnya Evaluasi Arah Kebijakan

Friday, August 07, 2026 | Friday, August 07, 2026 WIB



Oleh. Tita Noer Hayati 
(Aktivis Muslimah)

Nusantaranews.net, beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan oleh pemberitaan yang beredar di media sosial mengenai para pelajar di Sidoarjo yang dinyatakan positif Human Immunodeficiency Virus (HIV). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, tercatat sebanyak 7.230 orang terjangkit HIV, dengan 522 orang di antaranya merupakan pelajar dari jenjang PAUD hingga SMA. Data tersebut merupakan data kumulatif sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 (dilansir dari Kumparan.com, Jumat, 25 Juli 2026; Detik.com, Jumat, 25 Juli 2026). 

Meskipun angka tersebut merupakan data akumulasi selama bertahun-tahun, kondisi ini tetap bukan sesuatu yang dapat dianggap sepele. Sementara itu, Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa meningkatnya jumlah kasus yang terdata merupakan dampak dari semakin luasnya layanan pemeriksaan HIV serta meningkatnya efektivitas deteksi dini yang dilakukan pemerintah bersama berbagai mitra (dilansir dari Detik.com, Jumat, 25 Juli 2026). Tidak hanya di Sidoarjo, di Kota Bandung juga tercatat 10.771 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) berdasarkan data kumulatif sejak tahun 1991 hingga Mei 2026.

Berbagai solusi preventif maupun kuratif telah diberikan untuk mengatasi penyebaran HIV. Namun, jumlah penderita HIV terus bertambah, bahkan menyasar berbagai kalangan usia, termasuk anak-anak. Salah satu solusi yang terus digembor-gemborkan adalah pendidikan seksual sejak usia dini dan kampanye seks aman (safe sex). Solusi-solusi tersebut jelas bukan solusi yang menyentuh akar persoalan. Justru, hal itu menunjukkan bahwa solusi yang lahir dari cara pandang sekularisme dan liberalisme tidak mampu menyelesaikan persoalan secara tuntas. 

Meningkatnya angka HIV di berbagai kelompok usia menjadi bukti bahwa penerapan sistem sekuler kapitalisme gagal membangun masyarakat yang mampu menjaga diri dari perilaku berisiko. Di sisi lain, lemahnya fondasi akidah di tengah masyarakat semakin memperparah keadaan. Penyebaran HIV dapat terjadi melalui berbagai cara, seperti hubungan seksual di luar pernikahan, penggunaan jarum suntik secara bergantian pada pengguna narkoba, penularan dari ibu dengan HIV kepada anaknya, perilaku LGBT, dan faktor-faktor lainnya. Berbagai penyebab tersebut muncul karena aturan Islam tidak dijadikan pedoman dalam kehidupan.

Ketika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan serta masyarakat memahami dan mengamalkan ajaran Al-Qur'an dan hadis, persoalan HIV dapat dicegah dari akarnya. Pendidikan seksual usia dini dan kampanye seks aman yang berlandaskan paham sekuler hanya berfokus pada dampak kesehatan, bukan pada penyebab utama munculnya perilaku berisiko. Karena itu, masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa langkah pertama dan paling mendasar dalam mencegah HIV adalah menguatkan akidah Islam. 

Islam memiliki aturan yang tegas mengenai larangan zina sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Isra ayat 32, larangan perilaku LGBT dalam QS. Al-A'raf ayat 80–81, serta larangan mengonsumsi khamar dan segala sesuatu yang memabukkan dalam QS. Al-Ma'idah ayat 90. Selain itu, sistem pergaulan yang diterapkan harus berlandaskan aturan Islam, bukan pergaulan bebas yang marak saat ini. Sebab, terwujudnya generasi yang terlindungi dari ancaman HIV memerlukan sinergi antara keluarga, lingkungan sosial, lembaga pendidikan, dan negara yang sama-sama menerapkan aturan Islam secara menyeluruh.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update