Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty
Pengembang aplikasi fintech Frich menemukan 47% responden Gen Z tidak memiliki dana darurat. Temuan tersebut diperoleh melalui analisis anonim terhadap komunitas Frich yang terdiri dari satu juta pengguna Gen Z. Di data lain lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasa aman secara finansial.
Sepertinya menjadi wajar. Kebiasaan doomspending (menghabiskan uang demi kesenangan sesaat) telah melekat di kalangan Generasi Z (Gen Z). Alhasil ini membuat sebagian anak muda kesulitan menabung untuk hadapi kondisi darurat. Bahkan dalam Salah satu artikel di CNBC Indonesia dikatakan, gen z ini nyaris tak pernah menabung. Bagaimana tidak, di tengah tekanan ekonomi, alokasi belanja Gen Z untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat karena dianggap kebutuhan emosional, bukan sekadar kemewahan.
Jika ditelisik lebih dalam, tentunya tekanan ekonomi yang menghimpit Gen Z ini tidaklah muncul dengan sendirinya. Sistem ekonomi yang menaungi saat ini telah membuat biaya hidup terus menanjak sementara upah tak sebanding. Lepas tangannya negara dari kewajiban menjamin kebutuhan dasar telah membuat generasi muda berjuang sendiri untuk memenuhi.
Namun sayangnya di tengah kesempitan, gaya hidup Sekuler-Liberal dengan self-reward, healing, dan konsumsi hedonisnya dipilih sebagai pelarian. Keberadaan media sosial pun kian meracuni generasi dengan tren popular. FOMO dan budaya belanja impulsif menjadi-jadi.
Diperparah lagi, saat ini gen Z seakan tidak memahami tujuan hidup. Mereka mengukur kebahagiaan dengan kenikmatan materi sesaat. Ridha Allah dan kemuliaan Islam tidak menjadi ukuran.
Demikianlah yang terjadi jika sistem Islam tak digunakan. Padahal jika Islam dijadikan landasan, dan Negara yang tegak adalah Negara Khilafah, in syaa Allaah kebutuhan dasar seluruh rakyat akan dipenuhi.
Khilafah sebagai sebuah negara yang menaungi seluruh rakyatnya akan mengelola SDA sebaik-baiknya hingga tepat dalam memberikan jaminan kehidupan bagi warga negaranya. Negara pun akan terus memastikan lapangan kerja yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat, termasuk Gen Z tidak lagi berjuang sendiri dalam menghadapi kesempitan hidup.
Negara dengan sistem Islam yang ditegakkan akan menutup pintu gaya hidup hedonis yang memiskinkan kehidupan ekonomi. Negara akan terus melindungi generasi dari paparan konten merusak seperti sekularisme-kapitalisme dan turunannya agar tak memengaruhi gaya hidupnya. Negara akan mengatur media untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat, tak akan biarkan konten nirmanfaat berkelebatan di ruang media sedikit pun.
Sungguh, Islam telah membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". (QS. Adz-Dzariyat: 56). Landasan akidah yang kokoh tentunya akan menjadikan generasi memiliki visi misi mulia sebagai garda terdepan pembangun peradaban Islam.
Wallaahu a'laam bisshawaab.
