Oleh. Euis Somantri
(Aktivis Muslimah)
Meskipun belum mengeluarkan pernyataan resmi, seorang pejabat senior Hamas telah menginformasikan tercapainya kesepakatan terkait pelucutan senjata menyeluruh bagi Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza. Sebagaimana pernyataan yang telah dilaporkan BBC (13/7/2026), hal yang sama disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia mengumumkan bahwa Dewan Perdamaian (Board of Peace) telah mencapai kesepakatan.
Di tengah proses yang belum terkonfirmasi secara jelas ini, Aljazeera.com (2/8) melaporkan sedikitnya 19 warga Palestina dibunuh akibat serangan militer Zionis Yahudi di Jalur Gaza. Rakyat Palestina sendiri menyatakan gencatan senjata yang diumumkan hanya "sebuah ilusi" dan semakin memperparah krisis kemanusiaan di Gaza.
Serangan Zionis Yahudi ini sesungguhnya menunjukkan kepada kita bahwa gencatan senjata bukan hal yang bisa menghentikan mereka untuk melakukan pembunuhan terhadap kaum muslimin. Berulang kali gencatan senjata maupun perundingan damai digelar, tetapi pembunuhan demi pembunuhan terhadap kaum muslimin di Palestina terus berlangsung.
Ini bukti genosida oleh Zionis Yahudi semakin nyata dengan adanya upaya penghancuran semua infrastruktur di Gaza. Sekolah, rumah sakit, pasar, permukiman, termasuk rumah ibadah, dibombardir. Gereja-gereja kuno yang terjaga selama ratusan tahun oleh Khilafah Islamiyah juga dihancurkan. PBB melaporkan sekitar 80 persen bangunan di Gaza dalam kondisi hancur.
Hamas menolak adanya desakan BoP (Board of Peace) untuk melucuti senjatanya sebagai syarat perdamaian. Hamas sudah muak atas tindakan Zionis yang selalu melanggar gencatan senjata meski sudah disepakati. Zionis terus saja melakukan penyerangan hingga saat ini. Akibatnya, banyak korban warga sipil yang berjatuhan.
Menurut Kantor Media Gaza, sejak 10 Oktober 2025 hingga 19 Juli 2026, Israel telah melakukan sedikitnya 3.795 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata. Pelanggaran tersebut meliputi serangan udara, penembakan artileri, serta penembakan langsung terhadap warga sipil. Selain itu, Israel juga dilaporkan telah menahan 149 warga Palestina dari Jalur Gaza.
Dengan demikian, tidak ada kedaulatan bagi Palestina. Kelompok perlawanan seperti Hamas dan Hizbullah justru dilabeli sebagai *non-state violent actors* (aktor nonnegara yang melakukan kekerasan). New Gaza hanyalah proyek rekonstruksi yang mengulang pengalaman pahit negeri-negeri muslim yang dijajah Barat, sebagaimana di Irak dan Bosnia, lalu dieksploitasi untuk kepentingan bisnis perusahaan pendukung Amerika Serikat.
Jadi, BoP dan New Gaza merupakan mekanisme imperialisme yang melanggengkan penjajahan atas Gaza. BoP memadamkan perlawanan rakyat, menghapus kedaulatan, menyingkirkan Palestina dari pengambilan keputusan strategis, menempatkan keamanan di bawah kendali asing, serta mengarahkan Gaza sesuai kepentingan Amerika dan Zionis Yahudi.
Oleh karena itu, BoP dan New Gaza bukanlah solusi bagi pembebasan Palestina. Umat Islam tidak boleh tertipu oleh propaganda lembaga ini.
Seharusnya kaum muslimin menjadikan Islam sebagai sudut pandang dan solusi untuk semua persoalan, termasuk dalam krisis di Gaza. Sebabnya, keimanan pada Islam mengharuskan setiap muslim untuk selalu terikat dengan hukum-hukum syariah. Mereka seharusnya yakin bahwa hanya Islam satu-satunya jalan keluar dari berbagai krisis.
Seandainya saja para pemimpin dunia Islam bersatu, menjatuhkan sanksi, embargo, dan blokade terhadap Zionis Yahudi, maka dalam waktu sekejap negara mereka akan hancur. Hanya saja, semua tidak pernah dilakukan oleh para pemimpin tersebut. Mereka malah menjadi sekutu Israel dan induk semangnya, yaitu Amerika Serikat.
Karena itu, sungguh telah berdosa, terutama para penguasa mereka yang berdiam diri dan tidak menggerakkan jihad untuk memerangi dan mengusir entitas Yahudi dari tanah Palestina. Haram pula membuka hubungan diplomatik dengan Zionis Yahudi, termasuk bergabung dengan BoP yang menjadi sarana mengokohkan Israel.
Oleh karena itu, Palestina bukan sekadar sebidang tanah yang dipersengketakan, melainkan tanah suci kaum muslimin, permata umat Islam, dan bagian yang tidak terpisahkan dari akidah Islam. Kehormatan Al-Quds telah dijaga dengan darah para syuhada sepanjang sejarah. Karena itu, perampasan Palestina oleh entitas Zionis Yahudi bukan persoalan rakyat Palestina semata. Bukan pula urusan sebuah negara, pemerintah, atau organisasi tertentu. Ini persoalan seluruh umat Islam.
Selama ayat-ayat Surah Al-Isra dibaca, selama itu pula kewajiban membebaskan Palestina tetap hidup dalam kesadaran dan tanggung jawab umat. Maka, sudah saatnya umat Islam bangkit, menyatukan barisan, dan mengemban tanggung jawab syar’i untuk membebaskan Palestina serta mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum muslimin.
