Penulis Nanih NurjanahKomunitas Muslimah Coblong
Nusantaranews.net, dilansir dari Republika.co.id, kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam menghasilkan teks, gambar, hingga video yang menyerupai karya manusia diprediksi akan semakin sulit dibedakan di masa depan. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak menjadikan AI sebagai rujukan utama dan tetap bersikap kritis terhadap setiap informasi yang dihasilkannya.
Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti, menjelaskan bahwa teknologi AI Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT bekerja berdasarkan prinsip next token prediction, yakni setiap kata yang dihasilkan bergantung pada nilai probabilitas. Karena kemampuannya yang didapat dari proses latihan tanpa pemahaman hakiki, ada yang menyebutnya sebagai stochastic parrot, layaknya burung beo yang mampu menjawab namun tidak mengerti apa yang diucapkannya.
AI Bukan Pengganti Otoritas Ulama
Kementerian Agama (Kemenag) menilai fenomena AI yang menjawab pertanyaan keagamaan memang mudah diterima generasi muda. Namun, AI hanyalah alat bantu untuk mencari referensi atau merangkum informasi, bukan pengganti ulama maupun rujukan utama dalam persoalan agama.
Ilmu keislaman tidak hanya berkaitan dengan teks, tetapi juga mencakup konteks, metodologi, dan kebijaksanaan (hikmah) dalam penerapannya. Aspek-aspek tersebut tidak dapat sepenuhnya disimulasikan oleh teknologi. Untuk urusan hukum atau fatwa, masyarakat wajib merujuk kepada ulama dan lembaga keagamaan yang memiliki otoritas.
Ketiadaan Akal dan Tanggung Jawab Syar’i
Sebagai platform digital, informasi yang diberikan AI bersumber dari data di internet yang validitasnya bercampur aduk antara fakta dan kekeliruan. AI tidak memiliki akal, kesadaran, maupun tanggung jawab moral di hadapan Allah SWT.
Berbeda dengan ulama yang berfatwa berdasarkan dalil syar’i—yaitu Al-Qur'an, Sunah, Ijmak, dan Qiyas yang digali melalui proses ijtihad—seorang ulama memiliki tanggung jawab penuh atas hukum yang ia sampaikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 43: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Bahaya Algoritma dan Pentingnya Kontrol Negara
Menjadikan AI sebagai "Ustadz" adalah langkah yang berbahaya. Selain potensi jawaban yang salah, algoritma AI juga dirancang oleh manusia dan tidak menutup kemungkinan dipengaruhi oleh kepentingan tertentu.
Oleh karena itu, diperlukan peran negara untuk memberikan filter terhadap konten di media sosial agar masyarakat tidak terjerumus pada kekeliruan pemahaman. Teknologi boleh dimanfaatkan sebagai alat bantu riset, tetapi tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ulama sebagai pewaris nabi yang menyampaikan Islam dengan ilmu dan rasa takut kepada Allah (khasyyah).
No comments:
Post a Comment