Penulis Ideologis & Aktivis Dakwah
Lho, kok bisa sejumlah SD Negeri sepi peminat. Bahkan lebih miris, ada sekolah yang sama sekali tidak mendapat murid baru. Bangku kosong, kelas digabung, guru-guru mulai cemas.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di SDN. SMPN di berbagai daerah juga mengalaminya. Mulai dari Semarang, Magelang, Bandar Lampung, Bengkulu, hingga Jawa Timur. [CNN Indonesia, 14/7/2026]
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
*Empat Faktor Penyebab Sepinya SDN*
*Pertama, Perubahan Demografi.*
Di beberapa daerah jumlah anak usia sekolah makin sedikit karena angka kelahiran menurun dan populasi didominasi lansia.
*Kedua, Ruralisasi.*
Yakni perpindahan penduduk dari kota ke desa. Disebabkan
harga rumah di kota yang tak terjangkau membuat banyak keluarga pindah. Akibatnya pemukiman kehilangan populasi anak-anak
*Ketiga, Tekanan Ekonomi.*
Kesenjangan desa-kota membuat anak muda berbondong ke kota. Di sisi lain kebijakan ekonomi yang tidak berpihak membuat biaya hidup mencekik.
Pasangan muda hari ini berpikir seribu kali sebelum punya anak. Mereka takut miskin dan tidak bisa menyekolahkan.
Padahal Allah sudah berfirman:
_"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu."_ [QS. Al-Isra’: 31]
Namun, sistem hari ini justru menumbuhkan ketakutan itu.
*Keempat, Pergeseran Orientasi Orang Tua.*
Orang tua mulai berbondong memilih sekolah swasta berbasis agama. Ada pembiasaan ibadah, mengaji Al-Qur'an, dan pembinaan akhlak.
Sementara itu, di sekolah negeri pelajaran agama hanya 2 jam seminggu. Tentu sebagai orang tua ada kekhawatiran. Cemas anaknya rusak, terpengaruh pergaulan bebas, bullying, penyalahgunaannarkoba, pergaulan bebas, dan kenakalan remaja yang beritanya tiap hari bersliweran.
Dalam situasi seperti ini menunjukkan ada keresahan para orang tua. Mereka sadar akan amanah dan tanggung jawabnya di hadapan Allah:
_"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."_ [QS. at-Tahrim: 6]
Maka ketika sekolah negeri hanya fokus akademik dan minim pembinaan agama, orang tua mencari benteng bagi anaknya.
*Apa Solusi Pemerintah?*
Solusi yang ditawarkan masih pragmatis. Perpanjangan pendaftaran hingga Agustus 2026. Lalu _regrouping_: yakni menggabungkan beberapa SDN menjadi satu.
Akibatnya jarak sekolah makin jauh, waktu tempuh bertambah, biaya orang tua membengkak. Di sebagian daerah, akses pendidikan justru hilang.
Ini bukan solusi. Ini hanya menutup lubang tanpa mengeringkan sumber banjirnya. Pertanyaannya: Mengapa kepercayaan masyarakat pada sekolah negeri menurun?
*Akar Masalah: Pendidikan Sekuler yang Rapuh*
Sistem pendidikan kita hari ini berasas kapitalis sekuler. Agama dipisahkan dari kehidupan.
Tujuan pendidikan pun menyempit: mencetak "mesin pencari kerja". Yang penting lulus, dapat ijazah, kerja, dan gaji. Soal akhlak, iman, adab, bukan urusan sekolah.
Hasilnya? Generasi cerdas tapi kering spiritual. Korupsi menggurita. Data dimanipulasi. Kemaksiatan dan kezaliman merajalela.
Ditambah kurikulum yang gonta-ganti. KTSP ke K13, ke Kurikulum Merdeka. Ganti menteri, ganti kurikulum. Tapi kerusakan moral tidak pernah berhenti: tawuran, bullying, pelecehan seksual terus naik. Karena yang diajarkan hanya sains dan keterampilan, tanpa akidah dan syariat.
Guru pun dipaksa jadi admin, disibukkan laporan dan proyek. Waktu untuk mendidik akhlak habis. Negara lepas tangan. Sekolah disuruh cari dana sendiri. Pendidikan berubah jadi komoditas. Yang punya uang dapat sekolah bagus, yang miskin terpinggirkan.
Wajar jika orang tua kehilangan kepercayaan.
*Bagaimana Islam Memandang?*
Dalam Islam, pendidikan bukan dagangan. Pendidikan adalah kebutuhan dasar dan pilar peradaban. Negara wajib menjamin pendidikan berkualitas dan gratis untuk seluruh rakyat.
Buktinya, di masa Khalifah Umar bin Khattab ra, para guru dan mu'allim digaji sangat layak dari Baitulmaal. Untuk gaji guru anak-anak sebesar 15 dinar (1 dinar=4,25 gram emas). Sementara itu, pengarang kitab dihargai dengan menimbang karyanya dan memberikan emas seberat kitab tersebut.
Tujuannya agar guru fokus mendidik, tidak sibuk cari sampingan, dan kemuliaan ilmu benar-benar dijaga.
Bandingkan dengan sistem demokrasi, gaji guru honorer hanya Rp300.000 per bulan. Gimana dengan kemuliaan guru?
Sistem pendidikan Islam dalam naungan Khilafah terbukti mencetak generasi hebat. Kurikulumnya berbasis akidah. Tujuannya jelas: membentuk kepribadian Islam, pola pikir dan pola sikap Islam, sekaligus mahir iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).
Allah berfirman:
_"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."_ [QS. Al-Mujadilah: 11]
Ilmu dalam Islam untuk mendekat kepada Allah dan meraih rida-Nya, bukan sekadar mencari kerja.
Oleh sebab itu, umat harus naik level kesadarannya. Tidak cukup mencari sekolah yang "aman" untuk anak. Umat harus paham: kerusakan ini lahir dari sistem demokrasi sekuler yang menafikan agama dari urusan publik. Untuk itu,
diperlukan dakwah politik. Membangun kesadaran umat, hingga akhirnya umat menuntut diterapkannya syariat Islam secara kaffah di semua aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan berbasis akidah.
*PENUTUP*
Sepinya SDN adalah cermin. Cermin bahwa umat sudah tidak percaya pada sistem pendidikan sekuler.
Selama agama masih dipisahkan dari pendidikan, krisis ini tidak akan selesai. Yang ada hanya sekolah tutup, guru kehilangan murid, dan generasi kehilangan arah.
Sudah saatnya kita kembali kepada Islam yang memuliakan ilmu dan memuliakan anak manusia.
Karena hanya dengan itulah Indonesia dan dunia bisa selamat di dunia dan di akhirat.
_Wallahua’lam bissawab._

No comments:
Post a Comment