Oleh Iin Parlina
Ibu Rumah Tangga
Sejumlah Sekolah Dasar Negeri(SDN) mengalami krisis baru pada tahun ajaran 2026/2027. Beberapa sekolah hanya mendapatkan satu hingga lima murid baru,bahkan ada SDN yang tidak mendapatkan murid baru sama sekali.
Fenomena ini terjadi disejumlah daerah,diantaranya Jawa Tengah,Daerah Istimewa Yogyakarta,dan Jawa Timur. Salah satu faktor yang disebut adalah perubahan demografi dan berkurangnya jumlah anak usia sekolah di sejumlah wilayah. Cerita Sekolah Negeri Minim Siswa di awal tahun ajaran:1-5 murid baru,15 juli 2026 krisis murid baru SD Negeri di Jateng dan DIY,3 SD Negeri di Blitar tidak dapat siswa. Pemerintah merespon persoalan tersebut dengan melakukan penataan sekolah,termasuk mempertimbangkan penggabungan atau regrouping SDN yang kekurangan murid. Namun,solusi ini juga menghadapi tantangan karena penggabungan sekolahdapat membuat jarak tempuh peserta didik menjadi lebih jauh. Di tengah persoalan tersebut,sebagian orang tua juga semakin mempertimbangkan aspek pendidikan agama,pembinaan akhlak dan lingkungan pergaulan dalam memilih sekolah untuk anak-anak mereka.
Fenomena minimnya murid baru disejumlah SDN memang tidak terlepas dari persoalan demografi. Menurutnya angka kelahiran,perubahan struktur penduduk,serta urbanisasi menyebabkan jumlah anak usia sekolah disejumlah wilayah semakin berkurang dan tidak tersebar secara merata. Kondisi ini membuat beberapa sekolah mengalami kekurangan peserta didik sehingga keberadaannya harus dievaluasi. Namun,persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan menggabungkan sekolah yang kekurangan murid. Jika penggabungan sekolah justru membuat jarak tempuh anak semakin jauh,maka negara perlu memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak mengurangi hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang mudah dijangkau dan berkualitas.
Dalam sistem liberal,agama dipisahkan dari kehidupan. Pendidikan pun cenderung berorientasi pada pencapaian akademik dan keterampilan,sementara pembentukan kepribadian berlandaskan nilai agama tidak menjadi landasan utama dalam seluruh proses pendidikan dan kehidupan. Akibatnya,anak-anak menghadapi berbagai pengaruh lingkungan yang dapat mengikis nilai moral dan agama.
Akar persoalan lebih mendasar. Ketika pendidikan dibangun dalam sistem kehidupan yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan,nilai-nilai moral kehilangan bijakan yang kokoh. Akibatnya,berbagai pengaruh liberalisme,materialisme,dan budaya permisif dengan mudah memasuki kehidupan generasi muda melalui lingkungan sosial maupun media digital. Sekolah akhirnya menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dari pada sekadar menyampaikan materi pelajaran. Karena itu,ketika orang tua memilih sekolah yang memberikan pendidikan agama dan pembinaan akhlak,hal tersebut semestinya menjadi perhatian serius bagi negara.
Dalam pandangan Islam,pendidikan merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus pilar utama tegaknya peradaban. Karena itu,negara memiliki tanggung jawab penuh menyediakan pendidikan yang berkualitas,merata,dan dapat diakses seluruh rakyat tanpa diskriminasi. Pendidikan tidak diposisikan sebagai komoditas,melainkan sebagai kewajiban negara untuk membentuk manusia yang beriman,berilmu,dan berkepribadian mulia. Kurikulum pendidikan Islam dibangun atas dasar landasan akidah Islam sehingga seluruh proses pendidikan diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam sekaligus menghasilkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara juga bertanggung jawab menyediakan guru yang berkualitas,sarana dan prasarana yang memadai,serta lingkungan pendidikan yang kondusif sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal. Oleh sebab itu,diperlukan upaya dakwah yang mampu membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perubahan mendasar dalam sistem kehidupan,termasuk sistem pendidikan. Dengan meningkatnya kesadaran politik umat terhadap akar persoalan,diharapkan akan lahir dorongan yang kuat untuk menghadirkan sistem yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan dalam mengatur seluruh aspek kehidupan,termasuk pendidikan,sehingga lahir generasi yang berkepribadian Islam,unggul dalam ilmu pengetahuan,serta mampu membangun peradaban yang mulia.
Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman!peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka"(QS. At Tahrim[66]:6).
Ayat ini menegaskan bahwa menjaga keluarga,termasuk melalui pendidikan yang benar,merupakan kewajiban setiap muslim. Namun,kewajiban tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab individu dan keluarga. Negara pun berkewajiban menghadirkan sistem kehidupan yang mendukung terwujudnya pendidikan Islam secara menyeluruh,sehingga lahir generasi yang beriman,bertakwa,berilmu,dan mampu menjadi Rahmat bagi seluruh manusia.
Wallahu'alam bisshawab

No comments:
Post a Comment