Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jadikan AI Alat Bantu Bukan Guru

Thursday, July 16, 2026 | Thursday, July 16, 2026 WIB



Oom Rohmawati

Pegiat Literasi

Semenjak kecanggihan teknologi berkembang pesat, manusia dimanjakan oleh mesin. Berbagai informasi bisa didapat dengan mudah menggunakan gadget. Mulai dari persoalan pengetahuan umum, kedokteran, tren fashion, makan sampai masalah agama merujuk kepada teknologi. Di antaranya adalah kecerdasan buatan (AI), yang saat ini menjadi andalan bagi generasi muda karena bisa menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik.
Sebagai contoh yang sedang viral fenomena ceramah buatan AI yaitu karakter bernama Ustazah Hajar dari akun TikTok @nia.hajar atau @niahajars. Visualnya sangat realistis sehingga tidak sedikit yang mengira ia adalah pendakwah sungguhan. Akun tersebut berhasil mengumpulkan ratusan ribu pengikut dengan video yang ditonton hingga jutaan kali.
Karena itu Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menilai AI hanya berfungsi sebagai alat, bukan dijadikan rujukan utama dan pengganti ulama. (Republika.co.id, 30/6/2026)

Hal ini dibenarkan oleh Pakar AI dari ITB, Ayu Purwarianti, ia menegaskan bahwa kedepannya pembeda antara karya AI dan manusia akan semakin kabur secara kasat mata. Di tengah arus digitalisasi ini umat Islam perlu menempatkan AI pada posisi yang tepat. Sebagai amanah perubahan bukan tuhan baru. (Republika.co.id, 30/6/2026)

Maka pengguna harus memahami bahwa AI adalah platform digital berupa kecerdasan buatan yang memberikan informasi berdasarkan data dan informasi di internet, dan tentunya tidak semua informasi di internet itu benar. Maka akan sangat berisiko sesat jika menjadikan AI sebagai rujukan agama dan dimintai fatwa. Artinya, tidak bisa dijadikan sumber informasi terpercaya untuk mengganti ulama yang mukhlis.
Terlebih platform digital ini di bawah pengawasan negara tempat algoritma dirancang. Tentu kebijakannya berdasarkan kriteria keamanan yang berpotensi menghasilkan jawaban yang telah disortir dan dirumuskan. Jadi kaum muslimin pun harus lebih bijak dan waspada dalam menggunakan kecanggihan AI. Apalagi di dalam sistem pemerintahan kapitalisme sekuler liberalisme, kemunculan AI berpotensi menciptakan krisis kebenaran. Orang yang menyalahgunakan AI dengan sangat mudah mengelabui.

Dalam sistem kapitalisme sekuler yang liberal, bisa saja menggunakan kecerdasan AI sesuai kebutuhan dan kepentingan tanpa peduli halal haram atau merugikan orang lain. Sebab sistem ini asasnya adalah manfaat dan keuntungan. Rasulullah saw. telah mengabarkan bahwa “akan datang zaman yang penuh dusta." Dan hadirnya AI hari ini mempercepat realitas itu. Dengan satu prompt, seseorang bisa membuat video ulama mengucapkan fatwa sesat, memalsukan ayat, atau membuat gambar peristiwa yang tidak pernah terjadi. 

Dalam Islam, teknologi media modern adalah produk sains yang hukum asalnya mubah atau boleh. Jadi, media diposisikan sebagai alat netral yang bisa dipergunakan. Karena tidak dipungkiri AI juga ada sisi positifnya seperti sarana dakwah dan pendidikan.
Namun kaidahnya jelas, alat boleh baru, tapi hukum dan fatwa tetap wajib bersumber dari Al-quran As-sunnah, Ijma dan Qiyas yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Untuk itu merujuk hukum Islam dan meminta fatwa haruslah kepada ulama yang berakal dan faqih fiddin. 
Ulama memberikan informasi hukum dan fatwa dengan berstandar dalil syar'i dan rasa takut pada Allah semata. 
Sementara platform digital yang tidak berakal, dan tidak memiliki kesadaran. Mana mungkin bisa menggantikan posisi ulama. Allah Swt. berfirman:

"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."(TQS: an-Nhal)

Posisikan AI sebagai asisten, bukan guru. Umat boleh menggunakan AI untuk mencari referensi ayat atau hadis. Namun untuk masalah akidah, fikih, muamalah, dan keluarga, wajib meminta fatwa kepada ulama dan lembaga keagamaan. Jangan sampai di akhir zaman, umat lebih percaya kata AI daripada kata kiai.

Wallahu a’lam bish-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update