Dartem
Duka mendalam dirasakan seorang ibu yang meninggal karena melahirkan anaknya di Jayapura Papua. Peristiwa itu terjadi di akhir tahun 2025 dalam perjalanan untuk melahirkan. Sebuah peristiwa yang harus menjadi pengingat akan lemahnya sistem rujukan dan ketimpangan akses kesehatan di daerah, Kompas.com (04/06/2026)
Ibu hamil tersebut telah ditolak dibeberapa rumah sakit diwilayahnya, sebelum akhirnya meninggal dunia. Penolakan terjadi dengan alasan beragam, mulai dari keterbatasan kamar perawatan, rujukan yang tak terkoordinasi hingga ketiadaan dokter kebidanan dan kandungan.
Tragedi seperti itu bukan satu-satunya terjadi. Ini merupakan cermin dari masalah kesehatan ibu yang masih membelenggu di Indonesia, di mana angka kematian ibu di Indonesia masih sangat tinggi. Hingga 2020 mencapai 189 per 100.000 kelahiran hidup.
Perjuangan terbesar seorang wanita adalah ketika dalam proses melahirkan anak dengan taruhan nyawa. Rizki dan ajal memang sudah diatur oleh sang pencipta alam semesta. Namun, fakta diatas menunjukkan adanya kelalaian dari pihak pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut diatas sungguh sangat memprihatinkan.
Mirisnya, bukan terjadi pada kasus ibu melahirkan saja, tapi terjadi juga pada masyarakat yang menjadi korban atas kinerja dokter, perawat dan instansi terkait. Banyaknya terjadi penolakan dengan alasan kamar sudah penuh juga sering terjadi pada masyarakat yang sakit, bukan dalam proses melahirkan.
Dalam kasus kematian ibu melahirkan ini menjadi bukti bahwa banyaknya dokter tidak menjamin pelayanan yang bagus dan merata. Dokter kebidanan dan kandungan banyak, namun hanya sekedar angka. Dokter spesialis kandungan tidak tersebar merata ke pelosok daerah. Sehingga bisa di bayangkan ketika ada masyarakat yang mau melahirkan terkadang harus menempuh perjalanan jauh ke kota untuk mendapatkan pelayanan dari rumah sakit atau bidan.
Andai saja Dokter spesialis kandungan bisa tersebar merata ke berbagai daerah, maka keterlambatan penanganan, keterlambatan dalam mengambil keputusan dan mendapatkan fasilitas kesehatan bisa di minimalisir. Banyaknya kematian ibu melahirkan disebabkan kelalaian negara dalam tata kelola pemerataan distribusi dan pemerataan pembangunan didaerah.
Pembangunan didaerah cenderung tertinggal dan kurang diperhatikan oleh negara. Inilah yang menjadi salah satu faktor terjadinya kelangkaan dokter atau perawat yang memilih buka praktek atau ditugaskan di desa. Kondisi yang sulit dan jauhnya jarak dari kota menjadi alasan enggan tinggal didesa. Sebaiknya, mereka lebih memilih untuk bertugas di kota, karena merasa banyak kemudahan dan dekat dengan keluarga.
Disinilah terlihat bahwa tidak ada peran negara dalam menjamin keselamatan nyawa rakyatnya. Rakyat dibiarkan berjibaku sendiri untuk mencari penghidupan dan juga dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang mudah dan cepat tidak lepas dari berapa biaya yang dikeluarkan. Miris sekali bukan? Ditengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, masih di persulit juga dalam masalah pelayanan kesehatan.
Memang begitulah konsep tata kelola yang lahir dari sistem kapitalisme hari ini. Pembangunan ala kapitalisme jugalah yang menyebabkan tidak adanya pemerataan pembangunan antara didaerah dan diperkotaan. Ketimpangan terjadi bukan dalam sektor kesehatan saja, namun dalam semua aspek kehidupan. Karena dalam sistem kapitalisme, kesehatan menjadi komoditas. Layanan kesehatan dijadikan ladang cari cuan, bukan untuk mengurus dan melindungi nyawa rakyatnya. Begitupun dalam pembangunan yang berlandaskan materi dan keuntungan semata, itulah watak sistem kapitalisme sekuler.
Sehingga wajah jika pembangunan rumahsakit, atau sarana kesehatan lainya tidak merata antara didesa dan dikota. Pembangunan dilakukan sesuai dengan logika keuntungan yang akan didapat.
Dokter spesialis kandungan pun mengeluarkan dana yang besar dalam menuntut ilmu kedokteran, sehingga wajar jika juga ingin bekerja ditempat yang menjanjikan agar bisa mengganti biaya saat kuliah dan sebagainya. Begitulah, biaya yang tinggi saat menuntut ilmu harus sebanding dengan jumlah pendapatan yang harus diraihnya. Akhirnya, pekerjaan sebagai dokter spesialis kandungan hanya bertujuan mencari cuan dalam menerapkan ilmunya. Negara pun sama sekali tidak mempunyai peran sebagai pengurus urusan rakyat kecuali hanya sebatas regulator.
Lain halnya dalam sistem Islam. Islam menyatakan bahwa, negara wajib mengurus urusan rakyat dalam semua aspek kehidupan termasuk dalam urusan kesehatan, sebagaimana sabda Nabi saw. dalam riwayat Bukhari, “Imam adalah raa’in (gembala) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.”
Kesehatan menjadi tanggung jawab negara, jelasnya, termasuk memeratakan semua layanan beserta SDM kesehatan. “Khilafah—negara yang menerapkan syariat Islam—wajib menjaga jiwa rakyatnya, apalagi para ibu yang merupakan sosok penting dalam menjaga peradaban Islam. “Dari para ibulah lahir generasi yang akan mempertahankan kemuliaan Islam.
Dalam Islam, kesehatan merupakan hak seluruh rakyat tanpa melihat status sosial. Mau miskin ataupun kaya, semua berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Pelayanan kesehatan akan dibangun secara merata di berbagai pelosok daerah sehingga setiap warga yang membutuhkan akan mudah mengaksesnya.
Dokter spesialis kandungan juga tersebar merata dengan gaji yang memadai sehingga tidak akan perhitungan ketika ditugaskan didaerah yang jauh dari perkotaan. Biasanya pendidikan yang murah dan gratis diberikan kepada calon dokter hingga berhasil lulus dengan kompetensi yang tinggi. Selain itu, negara Islam akan meningkatkan literasi kesehatan ibu.
Dengan konsep Islam, negara betul-betul berfungsi sebagai raa'in (pengurus urusan rakyat) sehingga pemerataan pembangunan dan berbagai fasilitas kesehatan dan dokter akan dilakukan. Semua itu dalam rangka memenuhi kebutuhan rakyat terkait kesehatan dan sarana prasarananya.
Negara akan membangun rumah sakit, dan berbagai insfratruktur dengan tata kelola yang baik sehingga kematian ibu melahirkan bisa dicegah atau diminimalisir. Dokter sangat dihargai oleh negara dengan gaji yang besar. Disisi lain, ketakwaan individu, seorang dokter akan melakukan tugasnya dengan baik dalam rangka menjaga keselamatan para ibu yang akan melahirkan.
Walhasil, dengan sistem Islam inilah yang akan bisa mencegah terjadinya kasus kematian ibu melahirkan. Banyaknya dokter dan rumah sakit yang mudah diakses akan mengurangi keterlambatan penanganan. Itulah solusi hakiki yang harus diupayakan, yaitu tegaknya Daulah Islam yang menghancurkan sistem Kapitalisme.
Wallahu a'lam bishawab

No comments:
Post a Comment