Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Saat Lisan Menjadi Musuh Tak Nyata

Tuesday, June 23, 2026 | Tuesday, June 23, 2026 WIB


Oleh : Eka Sulistya


Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah lisan. Dengannya seseorang mengucapkan syahadat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, menyampaikan ilmu, menghibur hati yang terluka, dan mengajak manusia kepada kebaikan. Namun lisan yang sama juga dapat menjadi sebab kehancuran seorang hamba ketika tidak dikendalikan oleh iman.


Ironisnya, banyak orang sangat berhati-hati menjaga hartanya, menjaga rumahnya, bahkan menjaga tubuhnya dari bahaya. Tetapi sedikit yang benar-benar menjaga lisannya. Padahal dalam Islam, lisan adalah cerminan hati. Ketika hati dipenuhi ketakwaan, lisan akan melahirkan kalimat-kalimat yang menenangkan. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi penyakit, lisan akan mudah menyakiti tanpa merasa bersalah.


Salah satu penyakit lisan yang paling sering dianggap sepele adalah ghibah. Dosa ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari hingga banyak orang tidak lagi menyadari bahwa dirinya sedang bermaksiat kepada Allah. Obrolan santai, percakapan di grup, hingga pertemuan-pertemuan yang tampak penuh nasihat sering kali berubah menjadi ruang untuk membahas keburukan orang lain.


Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan definisi yang sangat jelas. Ghibah adalah menyebut sesuatu tentang saudara kita yang tidak disukai jika mendengarnya. Bahkan jika apa yang kita katakan itu benar, tetap disebut ghibah. Jika ternyata tidak benar, maka dosanya lebih besar lagi, yaitu fitnah. Astaghfirullah.


Mengapa Allah begitu keras melarang ghibah? Karena dampaknya tidak hanya merusak orang yang dibicarakan, tetapi juga menghancurkan jiwa pelakunya. Sedikit demi sedikit hati menjadi keras, rasa malu kepada Allah memudar, dan dosa terasa biasa. Ketika ghibah telah menjadi kebiasaan, seseorang akan lebih mudah mencari kesalahan orang lain daripada memperbaiki dirinya sendiri. 


Allah menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat menggetarkan hati dalam Surah Al-Hujurat ayat 12,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ   :  

 Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."


Allah mengibaratkan pelaku ghibah seperti orang yang memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Gambaran ini bukan sekadar untuk membuat manusia merasa jijik, tetapi agar mereka memahami betapa buruknya dosa tersebut di sisi Allah.


Lebih menyedihkan lagi, ghibah sering kali hadir di tempat-tempat yang seharusnya menjadi ladang kebaikan, salah satu contohnya adalah majelis ilmu. Seharusnya majelis ilmu untuk menimba ilmu agama, tempat berdiskusi tentang dakwah. Namun tanpa sadar di tempat mulia ini menjadi tempat membuka keburukan saudaranya, astaghfirullah. Bahkan yang lebih parah lagi mengatasnamakan "demi kebaikan", "sekedar curhat", atau "supaya menjadi pelajaran", padahal semua itu hanyalah pembenaran bagi hawa nafsu.


Di sinilah seorang penuntut ilmu, pengemban dakwah dan seorang muslim dituntut memiliki nafsiyah Islam yang kuat. Kepribadian Islam tidak hanya terlihat dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan lisan. Sebab orang yang benar-benar takut kepada Allah akan lebih sibuk mengoreksi dirinya dari pada mengorek kekurangan orang lain.


Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Kalimat yang singkat ini sesungguhnya merupakan prinsip besar dalam membangun masyarakat yang sehat. Sebelum berbicara, seorang mukmin akan bertanya kepada dirinya sendiri: apakah perkataan ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah Allah meridhoinya? Jika jawabannya tidak, maka diam adalah pilihan yang lebih mulia.


Tentu Islam bukan melarang seluruh pembicaraan tentang orang lain. Syariat memberikan pengecualian dalam kondisi tertentu, seperti melaporkan kezaliman untuk mencari keadilan, meminta fatwa kepada ulama, memperingatkan umat dari bahaya yang nyata, atau menjelaskan kefasikan yang dilakukan secara terang-terangan. Semua itu bukan dilakukan untuk memuaskan hawa nafsu, melainkan demi menjaga kemaslahatan umat dan menegakkan hukum Allah.


Karena itu, seorang Muslim harus mampu membedakan antara nasihat dan ghibah, antara amar makruf nahi mungkar dan sekadar melampiaskan emosi. Jangan sampai hawa nafsu dibungkus dengan istilah-istilah yang terdengar syar'i. Apabila seseorang terlanjur melakukan ghibah, pintu taubat tetap terbuka. Ia harus segera menyesali perbuatannya, berhenti mengulanginya, serta bertekad untuk tidak kembali melakukannya. Jika memungkinkan, ia meminta maaf kepada orang yang telah digunjing. Namun apabila hal itu justru menimbulkan mudharat yang lebih besar, hendaknya ia memperbanyak doa dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk saudaranya, sembari memperbanyak amal saleh sebagai bentuk penyesalan.


Sesungguhnya kehidupan ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan membicarakan kekurangan manusia. Setiap detik yang berlalu adalah kesempatan mengumpulkan bekal menuju akhirat. Betapa ruginya jika amal yang dikumpulkan dengan susah payah justru berpindah kepada orang lain karena lisan yang tidak dijaga.


Mari kita jadikan lisan sebagai jalan menuju ridha Allah, bukan sebagai penyebab kebangkrutan amal pada Hari Kiamat. Sebab orang yang paling kuat bukanlah yang mampu memenangkan perdebatan atau menjatuhkan kehormatan orang lain, tetapi mereka yang mampu menahan lisannya ketika memiliki kesempatan untuk berbicara.


Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membersihkan hati kita dari penyakit hasad, iri, dan kebencian, menjaga lisan kita dari ghibah dan fitnah, serta menjadikan setiap ucapan yang keluar sebagai pemberat timbangan amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update