Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Perlindungan Anak di Era Digital

Friday, June 12, 2026 | Friday, June 12, 2026 WIB

 


Oleh Yulia Rosmiati

Pendidik Generasi

"Setiap anak berhak untuk bermimpi besar tanpa rasa takut. Adalah tugas kita untuk memastikan lingkungan di sekitar mereka aman dan mendukung."

Kondisi anak saat ini cukup membuat khawatir  kita sebagai orangtua terkait lingkungan yang aman dan baik. Namun sebaliknya, menurut Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait data yang dirilis Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengenai maraknya anak-anak yang terpapar judi online (judol). "Angka 200 ribu dengan 80 ribu diantaranya di bawah 10 tahun terpapar judi online, sungguh jumlah yang sangat besar." Dikutip suara.com Sabtu (16/5/2026).

Temuan ini tentunya bukan hanya persoalan teknologi digital, melainkan ancaman serius terhadap generasi bangsa. 

Faktor Penyebab Anak Terjerat:

1.      Promosi Terselubung: Iklan judi sering dikemas sebagai game online serta  dipromosikan oleh influencer di media sosial.

2.      Akses & Transaksi Mudah: Hanya bermodalkan ponsel pintar, kuota, dan modal deposit receh (mulai dari Rp10.000), anak-anak dapat dengan mudah membuat akun.

3.      Kurangnya Pengawasan: Minimnya edukasi literasi digital dari orang tua dan sekolah, serta rasa ingin tahu yang tinggi.

4.      Adopsi Sistem Otak: Fitur visual yang menarik dan sensasi near miss (hampir menang) memicu pelepasan hormon dopamin. Ini menjebak otak anak dalam siklus kecanduan yang mirip dengan penggunaan narkoba.

Hal ini menyebabkan beberapa dampak negatif bagi anak diantaranya:

1.      Ganguan Psikologi dan emosional: mudah marah, stres,  menyendiri,  hilang fokus saat belajar.

2.      Kriminalitas dan Finansial: demi menutupi beberapa  kerugian,  anak sering melakukan tindakan menyimpang : mencuri uang orangtua,  menjual barang pribadi disebabkan terjerat hutang.

3.      Masa Depan Suram: prestasi akademik menurun drastis bahkan berpotensi putus sekolah.

Semua dampak yang terjadi diakibatkan oleh sistem sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) sehingga keimanan tidak menjadi benteng individu dan  keluarga. Orientasi hidupnya hanya mengejar materi sehingga anak pun tidak lagi dipandang sebagai amanah dari Allah Swt. Serta penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang menciptakan tekanan ekonomi yang menghimpit keluarga. Hingga terpaksa ibu tidak bisa memantau anaknya karena difokuskan untuk ikut bekerja mencari nafkah.

Dan kondisi negara kapitalis saat ini terbukti telah gagal dan tidak bisa menjadi junnah bagi rakyatnya, termasuk anak-anak.  Solusi yang ditawarkanpun tergolong tidak realistis dan tidak mnyentuh ke akar masalah. Misalnya pembatasan  penggunaan media sosial untuk anak-anak.  Sanksi bagi pelaku kekerasan terhadap anak tidak membuat jera sehingga kasus lainnya mudah terulang.

Berbeda dengan solusi yang ditawarkan Islam. Islam sebagai agama yang menyeluruh telah memiliki aturan untuk mnegatus kehidupan. Bukan hanya dalam perkara Ibadah, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan termasuk ekonomi. Islam akan menjadikan akidah sebagai fondasi utama. Orang tua wajib memahami Islam agar bisa memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga. Sistem ekonomi Islam memastikan kebutuhan dasar terpenuhi oleh negara sehingga para ibu bisa fokus dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya di rumah. Negara hadir sebagai ra'in dan junnah,  negara akan menutup kerusakan dari hulunya.  Yakni membangun pemahaman islam yang benar di tengah umat, dengan  penerapan sistem pendidikan,  kemudian menjaga media agar tidak merusak aqidah dan membahayakan rakyat. Negara menerapkan sistem sanksi yang bersifat zawajir dan jawabir bagi pelaku kekerasan dan memutus rantai kejahatan. Semoga sistem Islam bisa tegak didalam muka bumi ini dan menjadikan solusi bagi umat saat ini. Wallahu'alam bissawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update