Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Impor Kedelai Meroket, Penjual Tempe Tergencet

Friday, June 12, 2026 | Friday, June 12, 2026 WIB

 



Oleh Ratna

(Aktivis Muslimah)

Tempe dan tahu telah lama menjadi menu wajib di meja makan mayoritas rakyat Indonesia. Sayangnya, makanan rakyat jelata ini kian hari kian sulit dipertahankan keberadaannya akibat badai ekonomi yang tak kunjung usai. Akhir-akhir ini, nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan yang cukup drastis. Melemahnya rupiah terhadap dolar AS ini berdampak langsung pada meroketnya harga komoditas impor, salah satunya kacang kedelai.

Sebagaimana dikutip dari media online kumparan.com (25/5/2026), seiring dengan mahalnya harga bahan baku kedelai, para pedagang dan pengrajin tempe terpaksa memutar otak agar tidak gulung tikar. Demi menjaga agar harga jual tempe tidak naik secara ekstrem di pasaran, mereka terpaksa menyiasatinya dengan mengurangi ukuran atau memotong ketebalan tempe. Ironisnya, penderitaan penjual tempe tidak berhenti di situ; mahalnya harga bahan baku lain seperti plastik untuk mengemas kian menambah berat beban hidup yang harus mereka pikul sehari-hari.

Lebih dari itu, sistem keuangan kapitalis didasarkan pada uang kertas fiktif yang tidak memiliki sandaran nilai pada emas atau perak. Akibatnya, nilai mata uang lokal menjadi sangat rapuh, tidak stabil, dan mudah terombang-ambing oleh kebijakan ekonomi negara adidaya. Ketika dolar menguat, seketika itu pula kesejahteraan rakyat di belahan dunia lain runtuh. Inilah bukti nyata bahwa kapitalisme adalah sistem yang cacat sejak dalam pikiran, yang terbukti sukses menyengsarakan rakyat kecil demi keuntungan para kapitalis (pemilik modal).

Sangat kontras dengan kapitalisme, Islam memiliki mekanisme yang kokoh dan berkeadilan dalam mengelola perekonomian publik melalui institusi khilafah. Islam menyelesaikan masalah ekonomi tidak secara reaktif-parsial, melainkan secara komprehensif dari dua sisi utama:

Pertama, pengelolaan pasar yang syar'i. Di dalam Islam, negara tidak akan melakukan intervensi harga (patok harga) secara paksa jika kenaikan terjadi secara alami karena kelangkaan stok. Namun, jika kenaikan dipicu oleh kecurangan, negara melalui Qadhi Hisbah (pengawas pasar) akan menindak tegas segala bentuk penimbunan (ihtikar), monopoli, riba, maupun manipulasi harga. Semua praktik kotor tersebut hukumnya haram mutlak. Selain itu, negara akan memastikan kemandirian pangan dalam negeri dengan mengoptimalkan sektor pertanian lokal melalui kebijakan pemanfaatan lahan mati agar tidak bergantung pada impor.

Kedua, kestabilan sistem moneter berbasis emas dan perak (Dinar dan Dirham). Solusi mendasar agar ekonomi tidak terdikte oleh mata uang asing adalah dengan kembali pada sistem moneter yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., yaitu menggunakan mata uang yang bernilai intrinsik.

Rasulullah saw. bersabda:

"Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, sama banyaknya, langsung serah terima. Jika jenisnya beda, maka juallah sesukamu asal serah terima langsung." (HR. Bukhari & Muslim).

Mata uang emas dan perak memiliki nilai yang stabil dan kebal terhadap inflasi. Harga kedelai dan bahan pokok lainnya akan tetap stabil dan terjangkau. Oleh karena itu, kesejahteraan para penjual tempe dan pemenuhan isi piring rakyat tidak akan pernah terwujud selama kita masih bersandar pada sistem sekuler-kapitalisme. Solusi satu-satunya bagi keselamatan umat manusia adalah dengan mencampakkan sistem hari ini dan kembali menerapkan aturan perekonomian Islam secara kafah dalam bingkai Khilafah Islamiyah.

Wallahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update