Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pergaulan Remaja Semakin Bebas, Islam Solusi Tuntas

Thursday, June 25, 2026 | Thursday, June 25, 2026 WIB


Oleh: Nasywa Vicky Anggraeni

(Aktivis Mahasiswa)


Pacaran, pesta miras, narkoba, seks bebas, hingga berbagai bentuk pergaulan yang melanggar syariat semakin marak terjadi di kalangan remaja. Yang lebih memprihatinkan, perilaku tersebut bukan lagi dianggap sebagai penyimpangan, melainkan mulai dinormalisasi. Media sosial dipenuhi konten yang memamerkan hubungan bebas, pesta malam, gaya hidup hedonis, dan berbagai tren yang menjauhkan generasi dari nilai agama.


Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, apakah semua ini benar-benar normal? Apakah kebebasan yang terus dipromosikan hari ini benar-benar membawa kebahagiaan? Ataukah justru sedang menyeret generasi muda menuju kerusakan yang lebih besar?


Ketika Kebebasan Menjadi Gaya Hidup


Fenomena pergaulan bebas tidak muncul begitu saja. Berbagai kasus yang viral belakangan ini menunjukkan bahwa remaja semakin akrab dengan budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Konten vulgar mudah diakses, pesta minuman keras sering melibatkan anak muda, dan penyalahgunaan narkoba masih menjadi ancaman serius.


Ironisnya, banyak orang menganggap kondisi ini sebagai bagian dari perkembangan zaman. Mereka yang mengingatkan justru sering dicap kolot dan tidak menghargai kebebasan individu.


Padahal, di balik fenomena tersebut terdapat akar masalah yang lebih mendasar, yaitu cara pandang sekularisme dan liberalisme yang mendominasi kehidupan saat ini.


Sekularisme dan Liberalisme: Akar Persoalan


Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, agama hanya dianggap penting dalam urusan ibadah, sedangkan pergaulan, pendidikan, ekonomi, dan hukum diatur dengan pemikiran manusia.


Sementara itu, liberalisme mengajarkan bahwa setiap orang bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Ukuran benar dan salah tidak lagi berdasarkan halal dan haram, tetapi berdasarkan kenyamanan dan keinginan pribadi.


Dari sinilah lahir slogan seperti “hidupku, aturanku” atau “yang penting tidak merugikan orang lain”. Cara berpikir ini membuat banyak remaja menganggap pacaran, seks bebas, bahkan konsumsi miras sebagai hak pribadi yang tidak boleh diatur siapa pun.


Padahal kebebasan tanpa batas justru melahirkan berbagai kerusakan. Ketika hawa nafsu dijadikan standar hidup, manusia akan mudah mengabaikan dampak buruk dari perbuatannya bagi diri sendiri maupun masyarakat.


Negara Belum Menyentuh Akar Masalah


Persoalan pergaulan bebas juga tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Saat ini, akses terhadap pornografi begitu mudah. Tempat hiburan malam terus bertambah, sementara minuman keras dan narkoba masih beredar di berbagai wilayah.


Solusi yang ditawarkan sering kali hanya berupa sosialisasi atau kampanye sesaat. Padahal akar persoalannya tidak disentuh. Selama sistem yang diterapkan tetap memberi ruang bagi kebebasan tanpa batas, kerusakan generasi akan terus berulang.


Kondisi ini menunjukkan bahwa aturan buatan manusia tidak mampu menyelesaikan masalah hingga ke akarnya. Yang terjadi justru penanganan dampak, bukan pencegahan penyebab.


Islam Menutup Pintu Kerusakan Sejak Awal


Berbeda dengan sistem sekuler, Islam tidak hanya melarang perbuatan maksiat, tetapi juga menutup seluruh jalan yang mengarah kepadanya.


Allah Swt. berfirman:


"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32).


Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala aktivitas yang mendekatkannya. Karena itu Islam mengatur pergaulan laki-laki dan perempuan, mewajibkan menutup aurat, menjaga pandangan, serta melarang khalwat dan aktivitas yang membuka peluang terjadinya kemaksiatan.


Allah Swt. juga berfirman:


"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu." (QS. An-Nisa': 60).


Ayat ini menegaskan bahwa seorang muslim wajib menjadikan aturan Allah sebagai pedoman dalam kehidupan, bukan aturan yang bertentangan dengan syariat-Nya.


Islam Solusi Tuntas


Islam menawarkan solusi yang menyeluruh melalui tiga pilar utama.


Pertama, membentuk individu yang bertakwa melalui pendidikan berbasis aqidah Islam. Generasi dididik untuk menjadikan halal dan haram sebagai standar dalam setiap tindakan.


Kedua, membangun masyarakat yang aktif menjalankan amar makruf nahi mungkar. Masyarakat tidak membiarkan kemaksiatan menjadi sesuatu yang biasa, tetapi saling mengingatkan dalam kebaikan.


Allah Swt. berfirman:


"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Ali Imran: 104).


Ketiga, negara bertanggung jawab menerapkan aturan Islam secara menyeluruh serta melindungi masyarakat dari berbagai faktor perusak seperti pornografi, miras, narkoba, dan seluruh bentuk kemaksiatan.


Ketika individu bertakwa, masyarakat peduli, dan aturan Islam diterapkan secara menyeluruh oleh negara, maka pergaulan bebas tidak hanya ditangani dampaknya, tetapi juga dicegah dari akarnya.


Karena itu, jika kita ingin menyelamatkan generasi muda dari kerusakan moral yang semakin mengkhawatirkan, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar slogan atau kampanye sesaat. Yang dibutuhkan adalah kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Sebab hanya aturan dari Allah Swt. yang mampu menjaga kehormatan manusia dan melahirkan generasi yang beriman, berakhlak, dan siap membangun peradaban mulia.


Wallahu a'lam bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update