Oleh Reni Rosmawati
Pegiat Literasi
Alhamdulillah tahun baru Hijriah 1 Muharram 1448 H telah tiba. Tahun baru hijriah memang selalu identik dengan perubahan (hijrah). Namun kondisi umat kini terasa stagnan, bahkan terus dirundung berbagai persoalan. Di tanah air kemiskinan struktural, sulitnya lapangan kerja, judol, prostitusi anak, bullying, eksploitasi seksual, pembunuhan, dan masih banyak lagi menjadi masalah krusial yang tak kunjung usai dan terselesaikan.
Begitupun di tingkat internasional, di Palestina umat muslim terus mengalami penindasan. Mereka digenosida, dibuat mati kelaparan, dan tanahnya dirampas oleh kafir penjajah. Pun demikian umat muslim di belahan dunia lainnya seperti Rohingya yang kini masih terlunta-lunta karena tidak memiliki kewarganegaraan. Kondisi ini membuat umat Islam sangat jauh dari predikat khairu ummah (umat terbaik).
Akibat Muharram Hanya Sebatas Perayaan
Sejatinya, semua masalah yang mendera umat muncul akibat perayaan tahun baru Islam tereduksi menjadi seremonial belaka. Di mana perayaannya hanya fokus pada memperbanyak ibadah dan memperbaiki individu. Sementara hakikat Muharram yang menuntut muhasabah dan hijrah secara total dari kehidupan buruk kepada kehidupan baik terlupakan. Alhasil, kehidupan umat tidak berubah, selalu dirundung pilu dan nestapa. Bahkan lemah di panggung internasional, tidak mampu membela saudara seimannya yang teraniaya.
Rasulullah saw. dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana memaknai bulan Muharram. Beliau saw. menjadikan Muharram sebagai momen hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengubah kondisi umat dari tertindas menjadi kekuatan politik yang utuh. Di Madinah syariat Islam diterapkan secara menyeluruh bukan hanya mengatur ibadah personal, namun sebagai dasar institusi negara. Penerapan sistem Islam secara komprehensif ini menjadikan Madinah sebagai cikal bakal negara adidaya yang memiliki sistem pemerintahan kuat dan berdaulat, bahkan disegani negara-negara di dunia selama 13 abad lamanya.
Sayangnya, realita hijrah umat hari ini masih jauh seperti Rasulullah. Ini karena keberadaan sistem kapitalisme sekuler di tengah umat. Kapitalisme sekuler mengadopsi standar manfaat/keuntungan sebagai tolak ukur utama kebahagiaan, dan pemisahan agama dari kehidupan sebagai asasnya. Akibatnya, umat kehilangan jati diri sebagai umat terbaik, terus dirundung nestapa karena agama sebagai pondasi penguat hidupnya tidak ada.
Muharram Momen Mengembalikan Predikat Umat Terbaik
Melihat berbagai kenestapaan yang menimpa umat, maka sudah seyogyanya Muharram menjadi momentum refleksi diri. Agar bisa memahami bahwa semua permasalahan yang mendera akibat jauh dari aturan Allah, bukan takdir.
Umat harus berjuang untuk hijrah seperti Rasulullah, yakni beralih dari sistem kufur kapitalisme sekuler kepada sistem Islam, agar tercipta perubahan signifikan dan hakiki. Meskipun tentunya tidak mudah, karena Rasulullah dan para sahabat mengajarkan perubahan hakiki harus ditempuh dengan perjuangan panjang sekaligus terorganisir. Di mana Rasulullah melakukan perubahan melalui tiga tahap, yaitu;
Pertama, tahap pembinaan (marhalah tatsqif), yakni tahap pengukuhan dan penancapan pemikiran kepada umat melalui pembinaan intensif. Rasulullah melakukan ini kepada para sahabat selama 13 tahun, dan hasilnya lahirlah para sahabat yang memiliki pemikiran jernih yang selaras dengan akal serta mampu memahami Islam secara kafah.
Kedua, tahap interaksi dengan masyarakat (marhalah tafa’ul ma’al ummah), yaitu menyampaikan pemikiran atau ide perubahan kepada masyarakat dengan terang dan jelas. Dilakukan dengan shira’ al-fikri (perang pemikiran) dan kifah as-siyasiy (perjuangan politik). Pada tahap ini setiap pemikiran ataupun politik yang salah wajib dikritisi, dijelaskan kelemahan maupun kerusakannya bagi kehidupan masyarakat.
Ketiga, tahap transformasi kepemimpinan (marhalah istilamul hukmi). Bentuk keberhasilan tahap ini adalah hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah.
Perlu diingat, tahapan perubahan yang dilakukan Rasulullah tidak dapat dilakukan sendiri. Ia harus dilakukan bersama-sama dengan jamaah dakwah Islam ideologis, agar hasilnya bisa sempurna dan Islam bisa kembali diterapkan secara menyeluruh dalam institusi negara. Dengan begitu, maka niscaya umat akan bangkit secara hakiki dari keterpurukan, predikat umat terbaik pun akan dapat kembali diraih.
Wallahu a'lam bi ash-Shawwab.

No comments:
Post a Comment