Oleh: Ummu Irsyad (Relawan Opini)
Setiap datangnya bulan Muharram, umat Islam di seluruh dunia memasuki tahun baru Hijriah. Momentum ini bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam terhadap kondisi umat saat ini. Setelah berlalu satu tahun, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: sudahkah keadaan umat Islam menjadi lebih baik? Ataukah justru berbagai persoalan semakin bertambah dan kian kompleks?
Faktanya, berbagai masalah terus membelit masyarakat. Di dalam negeri, kemiskinan masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Di tengah kemajuan teknologi dan pembangunan yang terus digembar-gemborkan, masih banyak rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dasar. Di saat yang sama, berbagai penyakit sosial juga semakin mengkhawatirkan. Praktik judi online menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, prostitusi anak terus terungkap, kasus perundungan terjadi di lingkungan pendidikan, sementara eksploitasi seksual dan berbagai bentuk kekerasan seolah tidak pernah berhenti menghiasi pemberitaan.
Di tingkat internasional, penderitaan umat Islam juga belum berakhir. Palestina, khususnya Gaza, masih menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan. Ribuan nyawa melayang, infrastruktur hancur, dan masyarakat hidup dalam kondisi serba kekurangan. Banyak pihak menyaksikan tragedi kemanusiaan tersebut dengan rasa sedih dan marah, namun hingga kini belum tampak langkah nyata yang mampu menghentikan penderitaan mereka secara tuntas.
Ironisnya, semua itu terjadi ketika umat Islam berjumlah lebih dari satu miliar jiwa dan tersebar di berbagai belahan dunia. Jumlah yang besar tersebut seharusnya menjadi kekuatan yang mampu memberikan pengaruh besar dalam percaturan global. Namun kenyataannya, umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah (umat terbaik) yang disebutkan dalam Al-Qur'an.
Dalam pandangan Islam ideologis, berbagai persoalan tersebut bukanlah masalah yang berdiri sendiri. Kerusakan yang terjadi dianggap sebagai akibat dari penerapan sistem kehidupan yang tidak berlandaskan syariat Islam secara menyeluruh. Sistem Sekularisme-Kapitalisme menempatkan keuntungan dan kepentingan materi sebagai ukuran utama dalam kehidupan. Akibatnya, standar halal dan haram semakin tersisih dari ruang publik. Ketika keuntungan menjadi orientasi utama, berbagai bentuk kerusakan mudah tumbuh dan berkembang.
Di bidang ekonomi, kekayaan cenderung terkonsentrasi pada kelompok tertentu sementara kesenjangan sosial semakin melebar. Dalam bidang sosial, kebebasan tanpa batas sering kali melahirkan berbagai penyimpangan. Sementara dalam bidang politik, kebijakan sering kali lebih dipengaruhi kepentingan pragmatis dibandingkan tuntunan wahyu. Tidak mengherankan jika berbagai persoalan terus berulang tanpa solusi yang benar-benar menyentuh akar masalah.
Begitu pula dengan lemahnya posisi umat Islam di tingkat internasional. Banyak kalangan menilai bahwa salah satu penyebabnya adalah tidak adanya institusi politik yang mampu menyatukan umat Islam dalam satu kepemimpinan. Umat saat ini terpecah ke dalam berbagai negara bangsa yang masing-masing memiliki kepentingan nasional sendiri. Akibatnya, ketika sebagian umat Islam mengalami penindasan, respons yang muncul sering kali tidak mencerminkan kekuatan besar yang sebenarnya dimiliki umat.
Karena itu, Muharram seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan kembali arah perjalanan umat. Bulan yang identik dengan semangat hijrah ini mengingatkan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika umat hanya mengeluhkan keadaan tanpa berusaha mencari solusi yang mendasar. Berbagai kesulitan yang menimpa umat bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja, melainkan realitas yang harus diubah dengan usaha yang sungguh-sungguh sesuai tuntunan syariat.
Dalam perspektif ini, makna hijrah tidak hanya dipahami sebagai perpindahan fisik, tetapi juga perpindahan cara pandang dan sistem kehidupan. Hijrah hakiki adalah berpindah dari aturan yang bersumber dari akal manusia menuju aturan yang berasal dari Allah SWT. Dengan kata lain, umat Islam perlu berjuang agar syariat Islam dapat diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.
Perjuangan tersebut tentu bukan pekerjaan yang mudah dan instan. Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan bahwa perubahan besar memerlukan proses panjang, kesabaran, serta kerja dakwah yang terorganisir. Selama periode Makkah, beliau membina para sahabat, membangun pemahaman Islam yang kuat, dan membentuk opini umum hingga akhirnya terwujud masyarakat Islam yang dipimpin oleh syariat Allah.
Atas dasar itulah, sebagian umat Islam meyakini pentingnya bergabung dan berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis yang berkomitmen mengikuti metode dakwah Rasulullah ﷺ. Tujuannya adalah mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah dan mewujudkan kepemimpinan Islam yang mampu menjaga agama serta mengurus urusan umat.
Muharram 1448 H hendaknya tidak berlalu hanya sebagai seremoni pergantian tahun. Bulan mulia ini semestinya menjadi titik kebangkitan kesadaran umat untuk menilai kembali kondisi yang ada, memahami akar persoalan, dan mengambil bagian dalam perjuangan menegakkan ajaran Islam secara menyeluruh. Dengan demikian, semangat hijrah tidak berhenti pada slogan, tetapi benar-benar menjadi langkah nyata menuju perubahan yang diridhai Allah SWT.

No comments:
Post a Comment