Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Indonesia Bangkrut ?, Saatnya Bangkit dengan Kepemimpinan Islam

Tuesday, June 23, 2026 | Tuesday, June 23, 2026 WIB


Oleh  ummi balqis

Aktifis dakwa


Jumat, 12 Juni 2026, ribuan mahasiswa kembali turun ke jalan. Aksi bertajuk #MenujuIndonesia  Bangkrut ini dimotori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan diikuti berbagai aliansi mahasiswa lainnya. Mereka berkumpul di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, untuk menyuarakan lima tuntutan utama kepada pemerintahan Presiden  Prabowo Subianto.


Tuntutan itu adalah pertama, mendesak pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kedua, menuntut pemerintah segera menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Ketiga, meminta agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dihentikan. Keempat, menolak segala bentuk militerisme di ranah sipil. Kelima, mendesak Presiden Prabowo berhenti mengelak dan berani mengakui kesalahan-kesalahan pemerintah.


Menilik Arah Aksi

Tidak seperti sebelumnya ketika aksi #PeringatanDarurat Garuda Biru 2024 dan #IndonesiaGelap pada 2025, aksi kali ini terbilang sangat terkendali. Padahal, sejak jauh-jauh hari, aksi ini digadang-gadang akan memicu Reformasi Jilid 2 lantaran kekecewaan publik terhadap kinerja pemerintah dipandang sudah demikian terakumulasi.


Betapa tidak? Beberapa hari terakhir ini nilai tukar Rupiah terus mengalami pelemahan hingga sempat menembus level  Rp18.000 per dolar AS. Ironisnya, fakta ini direspons pemerintah dengan anteng-anteng saja. Bahkan, Presiden Prabowo sempat menyampaikan narasi yang terkesan meremehkan, padahal efek dominonya langsung dirasakan masyarakat banyak.


Lalu harga BBM, khususnya Pertamax, juga tiba-tiba melonjak naik. RON 92 naik dari harga Rp12.300 menjadi Rp16.250, sedangkan Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000. Otomatis harga-harga kebutuhan pokok turut naik dan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah turun drastis.   Di luar itu, publik pun disuguhi drama penangkapan Kepala BGN dan dua deputinya dengan tudingan korupsi dana MBG bernilai triliunan rupiah. Fakta ini memperkuat penilaian bahwa program-program populis yang menyedot APBN semacam program Makan Bergizi Gratis (MBG) beserta Koperasi Desa Merah Putih memang sangat bermasalah. Selain dinilai rawan korupsi, juga tidak tepat sasaran, dan memicu pemborosan APBN di tengah kesulitan fiskal negara. 

Sebelumnya, Ketua BEM FH UI Anandaku Dimas sebagai inisiator aksi sempat mengatakan bahwa aksi ini menjadi ujian apakah gerakan mahasiswa dapat menghadirkan kembali semangat perubahan atau tidak. Nyatanya, memang tidak seperti diharapkan. Aksi yang dilakukan tidak berhasil memanaskan tensi masyarakat untuk menggagas perubahan. 


Hal ini memang sangat wajar. Corak aksi-aksi yang dimotori mahasiswa selama ini masih seperti gerakan rimpang. Tidak kuat mengakar dan cenderung pragmatis, serta berbasis pada emosi atau perasaan. Ini tampak dari pin-poin tuntutan yang disampaikan. Terlebih gerakan ini tidak memiliki kejelasan visi perubahan dan peta jalan yang akan ditempuh demi meraih tujuan. Gerakannya cenderung reaktif dan kondisional. Alhasil, meski sulit dimatikan sebagaimana akar rimpang, gerakannya sangat mudah dibelokkan, bahkan gampang dipadamkan dengan satu dua gebrakan.


Perubahan, Seberapa Urgen  Sebagian kalangan memang sudah menyampaikan bahwa kondisi saat ini tidak bisa disamakan dengan Krisis 1998. Meski sedang menghadapi tekanan ekonomi yang sangat berat, tetapi menurut mereka Indonesia belum berada dalam fase kehancuran makro sebagaimana pada masa krisis multidimensi yang memicu Krisis 1998. Indonesia saat ini—menurut mereka—hanya sedang mengalami fase stres ekonomi yang berat sehingga menjadikannya alasan untuk melakukan perubahan besar sangat tidak relevan. Masalahnya, harus pada level krisis seperti apa hingga masyarakat di bawah kepemimpinan kaum intelektual tergerak untuk melakukan perubahan? Padahal, kezaliman, ketidakadilan, dan penyimpangan dalam tata kelola negara sudah sedemikian telanjang dan dirasakan dampaknya. Begitu pun berbagai krisis di luar politik dan perekonomian, seperti krisis moral, hukum, hankam, dan lainnya sudah benar-benar memprihatinkan!


Di titik inilah tampak ada urgensi untuk menghadirkan alasan perubahan yang lebih mendasar di tengah umat. Perubahan yang dimaksud bukan sekadar berbasis fakta yang nyatanya bisa direkayasa dan ditambal sulam

 Pihak-pihak berkepentingan pun kerap memainkan peran media massa, berikut para buzzer-nya untuk membangun narasi dan menciptakan opini bahwa semua kondisi yang terjadi adalah sebuah kewajaran, seraya mengarusderaskan opini bahwa seberapa parah pun krisis yang terjadi, selalu bisa dilewati dengan aman.


Untuk bisa demikian, dibutuhkan adanya peningkatan level berpikir yang memunculkan kesadaran ideologis di tengah umat. Harapannya, umat seolah bisa “terbang” dan mampu melihat jelas bahwa problem yang ada sejatinya saling berkelindan, bukan parsial. Mereka pun akan mampu membaca akar permasalahannya dan paham kondisi ideal yang seharusnya diperjuangkan. Kemudian yang

akan menjadi visi perubahan.


Penting untuk Membaca Akar Permasalahan

Hari ini, masyarakat baru bisa melihat

dan merasakan akan adanya problem. Namun, fokus mereka hanya pada fakta yang mereka hadapi di hadapan mata, serta bagaimana agar fakta itu segera hilang tanpa melihat bahwa sesungguhnya ada persoalan sistemis di balik semua problem yang terus bermunculan. Alhasil, tuntutan mereka masih sangat pragmatis dan parsial. Kalaupun mereka menuntut perubahan kepemimpinan, fokusnya hanya pada pergantian personal, bukan perubahan sistem.


Padahal realitasnya, dari rezim ke rezim, kondisi karut-marut seperti ini selalu ada. Hanya saja dari waktu ke waktu kondisinya, baik kondisi politik, ekonomi, moral, hukum, hankam, dll., makin lama makin buruk, bahkan bisa disebut negeri ini sedang menuju

 kebangkrutan. Kezaliman para pemimpin dan kroninya pun makin merajalela. Mereka mengurus rakyat dengan pengurusan yang sangat buruk dan nirempati. Mereka didukung para penjilat dan para buzzer yang bekerja tanpa henti.


Semua ini justru menunjukkan bahwa problemnya bukan pada personal, melainkan pada sistem yang diterapkan, yakni sistem sekuler demokrasi kapitalisme. Sistem ini cacat sejak asas karena menyingkirkan peran agama dari pengaturan kehidupan dan aturan-aturannya justru membawa kepada kemudaratan.


Ini memang niscaya karena dalam sistem ini, aturan dan kebijakan dibuat berdasarkan akal manusia yang sarat kepentingan. Kekuasaan menjadi jalan untuk target akumulasi modal hingga menjadi ajang perjudian para pemilik cuan. Alih-alih berperan menjadi pengurus dan penjaga rakyat, penguasa justru bertindak menjadi penjaga kepentingan para pemilik modal dan memosisikan diri di hadapan rakyat seperti seorang pedagang.


Tidak heran jika para penguasa dengan enteng menjual aset rakyat kepada pihak swasta, bahkan asing. Sementara itu, rakyat disiksa berbagai kebijakan pajak yang makin mencekik dan tidak masuk akal. Berbagai proyek pembangunan menjadi ajang bancakan bagi para pemilik modal. “Wajar” karena atas support merekalah para penguasa ini bisa meraih kursi kekuasaan.


Munculnya aksi protes yang menuntut perubahan sejatinya merupakan sesuatu yang sangat wajar. Sudah semestinya rakyat tidak diam melihat kezaliman dan berbagai penyimpangan. Namun, jika tuntutan perubahan masih sebatas soal kebijakan pragmatis, apalagi hanya menyorot pada kesalahan personal, sedangkan tidak menuntut perubahan yang nendasar, yakni perubahan sistem, maka dipastikan kondisi umat akan tetap jalan di tempat, bahkan kehancuran akan berjalan lebih cepat.

 Allah Swt. berfirman, “…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’du: 11).


Arah Perubahan Hakiki Hanyalah pada Islam 


Masyarakat, khususnya para intelektual, termasuk mahasiswa yang dikenal sebagai motor perubahan, seharusnya memahami bahwa arah perubahan yang sahih dan mendasar hanya pada  Islam, bukan yang lain. Islam sejatinya merupakan sebuah ideologi alias sistem hidup, bukan sekadar agama ruhiyah sebagaimana agama-agama yang lainnya.


Islam bukan hanya mengajarkan masalah akidah, melainkan juga mengatur seluruh dimensi kehidupan manusia. Mulai dari urusan individu, keluarga, masyarakat, hingga negara, termasuk hubungan internasional. Islam mengatur aspek politik, ekonomi, sosial, hukum dan persanksian, hankam,  dll. Oleh karenanya, Islam layak menjadi ideologi sekaligus sistem pengganti bagi kepemimpinan sekuler yang rusak dan merusak ini.


Masalahnya, hari ini Islam sudah dikebiri secara sistematis sehingga hanya dipahami sebagai agama ruhiyah, bukan ideologi. Dampaknya, Islam tidak pernah  dibayangkan bisa menjadi jalan perubahan apalagi menjadi jalan kebangkitan. Sebagian kalangan malah mengambil pemikiran-pemikiran kiri, yakni sosialisme komunisme sebagai visi gerakan melawan sistem yang eksis. Padahal, ide ini sudah terbukti gagal membangkitkan masyarakat karena tidak tegak di atas asas yang benar. Pemikiran-pemikirannya pun tidak sesuai dengan fitrah manusia. Alih-alih mampu menyolusi problem manusia, penerapan ideologi kiri justru membawa penderitaan baru bagi masyarakat sebagaimana bisa kita lihat di negara-negara yang sempat mengusungnya.


Kemampuan Islam dalam menyolusi berbagai problem kehidupan sejatinya bukan sekadar khayalan. Sejarah membuktikan, selama lebih dari 13 abad, sistem kepemimpinan Islam—yang dikenal dengan Khilafah—mampu mewujudkan kesejahteraan hakiki hingga level yang mencengangkan para sejarawan. Bahkan, sepanjang masa itu, Khilafah terbukti mampu tegak memimpin peradaban cemerlang.


Untuk membangun kesadaran ideologis di tengah umat dan memunculkan kerinduan mereka untuk kembali hidup di bawah naungan sistem kepemimpinan Islam, tentu butuh upaya dakwah. Dakwah ini tidak mungkin dilakukan oleh orang per orang, melainkan harus dilakukan secara berjemaah di bawah kepemimpinan sebuah gerakan dakwah ideologis yang punya visi dan konstruksi Islam yang kuat.


Gerakan inilah yang akan berjuang tanpa lelah di tengah umat, menapaki jalan perjuangan yang pernah ditempuh oleh baginda Rasulullah saw. Para kadernya akan bekerja semata atas dasar keimanan dan melebur di tengah umat meski menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Mereka adalah mutiara-mutiara umat percaya bahwa ujung dari perjuangan ini adalah kemenangan. Ini karena tegaknya khilafah adalah janji Allah sekaligus kabar gembira dari Rasulullah saw.

Walahu alam bishawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update